” …MALAM INSAN BUDAYA 2011…” : Penganugerahan Seni Kepada Tiga Maestro Kota Bogor


BOGOR – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bogor menggelar Malam Insan Kebudayaan di Gedung Kemuning Gading Balaikota Bogor pada 19 Juni 2011 lalu. Acara tersebut digelar dalam rangka memeriahkan HUT Kota Bogor ke-529. Berbagai sanggar seni di Kota Bogor turut memeriahkan acara ini, antara lain : Sanggar Seni Getar Pakuan, Sanggar Seni dan Pusat Olah Tari Obor Sakti, dan sebagainya. Acara dimulai pada pukul 19.30 – 21.00 WIB. Mengagumkan, adalah kata yang tepat dalam menggambarkan bagaimana acara Malam Insan Budaya tersebut berlangsung. Tak disangka bahwa Bogor memiliki aneka sanggar dan para seniman yang mampu menampilkan pertunjukkan seni yang bermutu. Suatu potensi yang dapat membawa harum nama Kota Bogor bila dipelihara, diangkat, dan dilestarikan.

Walikota Bogor "..Diani Budiarto.."

Pada akhir acara diberikan Penghargaan Anugerah Seni dan Budaya oleh Walikota Bogor Diani sebagai apresiasi kepada para seniman dan budayawan yang telah berprestasi baik nasional maupun internasional dan turut membesarkan nama Bogor.  Ini merupakan penganugerahan pertama bagi Insan Seni dan Budaya Bogor. Tiga tokoh yang mendapatkan penghargaan Anugrah Insan Budaya dari Walikota Bogor adalah alm. Uka Tjadrasasmita (arkeolog), alm. M.A. Salmun (Budayawan), dan alm.  Entah Lirayana (dalang) yang diserahkan langsung kepada keluarga almarhum. Kemudian turut diberikan pula piagam penghargaan kepada seniman berprestasi Ade Suwarsa dan lembaga seni Depokersen.

Uka Tjandrasasmita (Alm.) adalah Arkeolog Kota Hujan Bogor yang menekuni  Arkeologi Islam. Beliau juga sempat menjadi Direktur Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah Purbakala Ditjen Kebudayaan, dan banyak melakukan penelitian situs-situs di Indonesia. Bahkan pada usia lanjut, beliau masih sempat menuliskan beberapa buku arkeologi dan mengajar sebagai dosen di Universitas Indonesia.

"...Redaksi Penantra bersama salah satu Penari di..." Malam Insan Budaya "

M.A. Salmun  (Alm.) yang bernama lengkap Mas Atje Salmun Raksadikaria.  Semasa hidupnya dikenal sebagai sastrawan generasi tahun 1920 an yang paling produktif sejak masa muda hingga akhir hayatnya. Meskipun penglihatannya terganggu dan nyaris tidak melihat, ia tetap menulis. Indra mata adalah organ terpenting di dalam upaya tulis menulis khususnya bagi seorang pujangga sekaliber Salmun. Karya Salmun semula dalam bentuk dangding dan cerita pendek yang muncul dalam penerbitan Volksalmanak Soenda dan Majalah Parahiyangan terbitan Balai Poestaka. Salmun tak hanya mahir menulis dalam bahasa Sunda ia pun sanggup dengan baik menulis di dalam bahasa Indonesia. Dengan Gaya penulisan dan bahasa yang penuh humor, ia pun secara serius sering memaparkan tentang filsafat, etika kehidupan dan agama. Sebagai seorang yang mendalami sastra wayang dan pedalangan karya-karya tulis Salmun tentang wayang dan pedalangan tersebut penuh dengan nasihat, petuah dan filsafat kemanusiaan.  Sementara itu dalang Entah Lirayana adalah seorang dalang kondang yang sangat patuh terhadap pakem (aturan pedalangan) dan dalang yang sering dipanggil ke Istana Bogor dan Jakarta.  Entah merupakan  dalang yang dikenal di seluruh Jawa Barat. Ketiganya merupakan maestro seni budaya yang karya-karyanya masih dikenang hingga saat ini.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, tidak hanya pahlawan yang berjuang di medan perang, namun para seniman yang turut berjuang membangun mental dan kepribadian bangsa melalui media seni dan budaya juga turut kita apresiasi dan kenang karya-karyanya.

Oleh : D.P. Ganatri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s