“…Kursus MACAPAT Keraton NGAYOGYAKARTA Hadiningrat LENTERA Pelestarian BUDAYA…”



"...Tempat Kursus Macapat Jln Rotowijayan No : 3 Yogyakarta..."

“…Jika anda berkunjung ke Keraton Yogyakarta, mungkin tak banyak yang menyadari ruang kecil di sebelah kanan gerbang masuk Keraton ini. Di ruang kecil inilah, tradisi Jawa berupa tembang keraton dan huruf Jawa berusaha terus dihidupkan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Spanduk berlatar hijau dengan tulisan kuning yangterpampang di depan satu kelas kecil itu tertulis ” Kursus Macapat, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Menerima Siswa Baru “. Dibalik spanduk, tepatnya di tembok kiri ” Pamulangan Sekar (macapat) KHP. Kridha Mardawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat “. Ruang kelas yang beralamat di Jalan Rotowijayan Nomor : 3 itu tidaklah besar, tidak juga megah, sederhana saja dengan penerangan seadanya. Alunan tembang macapat lamat-lamat terdengar ketika redaksi PENANTRA News Online mendekat di pintu kelas yang terbuka lebar. Seakan memanggil siapapun yang masih ingin melestarikan tembang warisan nenek moyang itu. Seorang bapak tua tengah melagukan titi nada dari tembang dandhangula. Enam muridnya yang hadir sore itu, menirukan titi nada dari Pak Sukirman. Macapat, mungkin istilah ini tidak terlalu populer di telinga. Ini adalah tembang khas Jawa yang dinyanyikan tanpa iringan gending. Awalnya, tembang ini khusus dilantunkan di dalam Keraton saja. Namun, lambat laun tembang ini boleh juga dilantunkan oleh masyarakat umum. Kini, keraton melestarikan budaya ini lewat kelas kursus macapat Pamulangan Sekar.

"...Para Peserta Kursus Macapat Yang Tengah Berlatih..."

Bagi Pak Kirman, mengajar macapat baginya adalah sebuah kebahagiaan. Dulu, ketika masih menjadi murid di sini, Pak Kirman prihatin karena guru yang mengajarnya sering tidak masuk. Ia pun kemudian mengajukan diri untuk membantu mengajar. Selang beberapa waktu, ia pun ditawarkan sebagai guru di sana dan terus mengajar hingga saat ini. ” Sekarang pengajar tinggal empat… Saya mengajar disini sejak 1994, sebelumnya saya adalah guru SD ” terangnya. ” Kursus ini memang diadakan oleh keraton dengan anggaran keraton, tapi untuk tenaga pengajar siapa yang mampu silahkan mengajar,” jelasnya lagi. Selama lebih dari 17 tahun mengajar, menurutnya anak muda sekarang kurang tertarik belajar macapat. “..Karena ngga bisa cari uang dari macapat…Sekarang itu materialistis sekali, sehingga kalau ngga ada itu (uangnya) nggak tertarik. Kalau dulu orang ingin mengetahui isi dari ajaran-ajaran macapat. Uangnya memang ngga ada, tapi diutamakan adalah mengetahui ajarannya ” tegasnya. Dalam tradisi Keraton, macapat biasanya ditembangkan di hari Jumat, dimana di dalam Keraton tidak diperkenankan membunyikan gending. Dalam tembang-tembangnya, macapat mengandung nasihat hidup yang adiluhung. Mengingatkan para pendengarnya akan hakekat hidup dan mengajak mendekatkan diri kepada-Nya. Lantunan macapat yang syahdu pun menebar damai di hati. Alasan inilah yang membuat Suparno Permadi tekun mengikuti kursus macapat selama dua tahun belakangan ini.

"...Pak Kirman Guru Macapat Yang Selalu Membawa Suasana Hangat saat Mengajar Macapat..."

” Setelah mengikuti..saya makin tertarik karena berisi ajaran leluhur yang penuh filosofis, saya rasa ini yang tidak bisa diambil dari lagu-lagu sekarang. Isinya bermanfaat untuk character building, tandasnya. Tak cuma para sepuh yang tertarik mengikuti kursus macapat ini, empat mahasiswi pun tampak asyik mengikuti kursus tembang khas Jawa ini. Adalah Vita, Mita, Anisa, dan Qori , mahasiswa Jurusan Sastra Jepang, Universitas Gajah Mada yang sedang ikut belajar sore itu.” Kita pengen belajar,” terang Vita. ” Sebagai orang Jawa mestinya (kami) mengerti tentang budaya Jawa ” tambahnya lagi. ” Mungkin (macapat ini) bisa diperkenalkan kepada teman-teman kami orang Jepang. Sebab, ketika saya nyanyi macapat, mereka sangat tertarik dan mau ikut belajar,” timpal Mita. Tak cuma orang lokal, menurut pengakuan bapak yang sehari-hari mengayuh sepeda onthel dari rumah menuju kelas macapatnya ini, ia sempat mengajar pula beberapa turis. Menurutnya, turis dari Jepang, Inggris, Amerika, Australia, dan Belanda ini biasanya dosen dan mahasiswa. Meski demikian, salah satu muridnya, Soeparno, berujar bahwa belakangan macapat sepertinya mulai populer lagi ditembangkan dimana-mana, ” Hampir di setiap kecamatan ada,” ujarnya. Ia pun sesekali diminta untuk ikut nembang di wilayahnya. Yah, semoga makin banyak yang melestarikan budaya leluhur ini agar kita tak menyesal dikemudian hari jika harus menggali budaya sendiri di negeri orang. Salam Merdeka…!

Oleh : Eka Santhika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s