Kala Indonesia Menjadi Modern


Tampaknya berbagai belahan dunia saat ini tak lepas dari proses maupun eses modernisasi. Modernisasi telah membuat wajah dunia dan kehidupan manusia benar-benar berbeda dari abad-abad sebelumnya. Hal ini terjadi karena modernisasi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga manusia bisa melakukan rekayasa berbagai hal demi mempermudah hidupnya.
Modernisasi bukan sekedar gejala, modernisasi adalah juga budaya. Budaya yang dibawa dari negeri asalnya di barat (Eropa dan Amerika Serikat) menjalar ke seluruh negara-negara di dunia. Yang menjadi masalah sekarang, wacana modernisasi ini selalu seiring sejalan dengan wacana westernisasi. Hal ini bisa kita lihat dari gejala penyeragaman negara-negara di dunia, dimana yang diseragamkan adalah budaya kebarat-baratan yang turut terbawa bersama arus modernisasi.

Indonesia pun sebagai salah satu negara pengimpor modernisasi tak lepas dari kejadian westernisasi itu. Bahkan mungkin kejadian westernisasilah yang kuat pengaruhnya pada masyarakat kita, bahkan mengesampingkan kejadian modernisasi itu sendiri yang menjadi cita-cita pendiri bangsa bagi masyarakat Indonesia pada awalnya agar kita tak lagi menjadi masyarakat yang dimarjinalkan di mata dunia, melainkan menjadi bagian dan setara dengan warga dunia lainnya.

Modernisasi yang semestinya menjadi sebuah evolusi kehidupan mansia dimana terjadi perubahan besar-besaran terhadap kegiatan kerjanya yang tadinya semata mengandalkan kekuatan otot untuk mengerjakan segala sesuatunya, menjadi pemberdayaan otak dengan jalan pengumpulan dan pengembangan pengetahuan. Sehingga dengan pengetahuan-pengetahuannya itu, manusia tak lagi hanya mengandalkan kekuatan ototnya untuk mengerjakan segala sesuatu. Dengan pengumpulan dan pengembangan ilmu pengetahuan ini, manusia mencari “sumber-sumber energi lain” untuk menggerakkan mesin-mesin yang akan mengerjakan pekerjaan harian untuk mereka. Seperti kita ketahui bersama, mesin uaplah yang pertama kali menggeser tenaga-tenaga manusia itu dalam wujudnya sebagai “sumber energi lain”.

Namun masa-masa revolusi industri ini terjadi ketika sebagian besar bangsa-bangsa Asia-Afrika berada di bawah kaki-kaki penjajah. Sehingga mereka tak sempat merasakan gempita dan deru semangat menggebu awal modernisasi itu. Kaum-kaum di tanah terjajah ini masih berkutat dan sibuk memenuhi kebutuhan penjajah. Mereka yang ditindas tentu tak akan diberi kesempatan untuk berkembang. Maka tak heranlah jika pada akhirnya masyarakat negara-negara terjajah ini jauh dari hiruk pikuk modernisasi di masa itu. Meskipun tak dipungkiri pula, eses-eses dari modernisasi pun masuk ke dalam wilayah-wilayah tanah jajahan, seperti munculnya pabrik-pabrik gula di Jawa, munculnya surat kabar akibat ditemukannya mesin cetak, munculnya kendaraan-kendaraan, dan sebagainya. Namun apa yang diperlihatkan dan dirasakan bangsa-bangsa tejajah, hanyalah eses, efek dari modernisasi. Mereka sendiri tak merasakan euforia gejolak pemikiran akibat modernisasi itu sendiri dan hanya menjadi penonton dan pengguna hasil-hasil modernisasi.

Dan ketika bangsa-bangsa ini merdeka, termasuk Indonesia, mereka tentu berlomba untuk diakui sebagai “sesuatu” di mata dunia. Karena modernisasilah yang merupakan tolok ukur prestise dunia kala itu, dan hingga saat ini, maka negara-negara ini pun berlomba untuk menjadi modern. Rupa-rupanya setelah sekian puluh tahun membangun pun, sebagian besar masyarakat negara kita tak beranjak dari posisinya di masa penjajahan dulu sebagai penonton dan pangguna hasil-hasil modernisasi. Sementara negara-negara lain seperti India dan Cina mulai bangkit dan berlari dalam arus modernisasi, Indonesia masih terjebak dalam praktek konsumsi dan pemirsa dari modernisasi. Kita hadir dalam modernisasi namun kita tidak terlibat dalam modernisasi itu sendiri. Masyarakat kita justru terjebak westernisasi, tidak menyentuh modernisasi itu sendiri.

Indikasi bahwa masyarakat kita belum menjadi modern bisa kita lihat dari rendahnya minat baca. Perpustakaan-perpustakaan tak ramai dikunjungi, jumlah eksemplar buku yang laku tak seberapa, koran-koran sepi pelanggan. Selain memang sebagian besar masyarakat kita mungkin tak terlalu memikirkan bagaimana caranya membeli buku karena memikirkan perut sendiri pun sungguh sulit. Walaupun jika memang ada semangat untuk terus memajukan diri, itu bukanlah alasan. Ada lagi yang mengatakan bahwa masyarakat kita bukanlah masyarakat dengan budaya tulis, melainkan masyarakat yang tumbuh dengan budaya lisan. Jadi wajarlah jika masyarakat kita tidak gemar membaca. Sekarang mari kita amati, acara-acara seperti apa yang laku di televisi dan radio. Sinetron merupakan acara favorit dengan rating tinggi, dan sebagian besar radio kita merupakan saluran musik yang sangat digemari. Padahal sinetron dan berbagai acara di layar televisi kita, paling sering mendapatkan kritik sebagai siaran yang kurang sehat.

Selain itu, keterjebakan masyarakat kita bisa dilihat dari gaya hidup yang kini menjamur. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa modernisasi adalah budaya, sehingga kehadirannya memang tidak lepas dari proses westernisasi, seperti dikatakan J.W.Schoorl dalam Modernisasi, pengantar Sosisologi Pembangunan Negara-negara sedang berkembang. Dan di sini, di Indonesia, gaya hidup masyarakat barat itulah yang diadaptasi secara penuh dan mengesampingkan cara-cara hidup budayanya sendiri hingga sering terdengar ajakan untuk melestarikan budaya bangsa. Masyarakat kita begitu mengagungkan segala sesuatu yang berasal dari luar negeri (barat) –bahkan asosiasi kita terhadap kata luar negeri biasanya berpatokan pada negara-negara barat, padahal ada banyak negara yang bisa disebut sebagai luar negeri-dan menafikan segala sesuatu yang berasal dari negeri sendiri. Menjamurnya mall, kafe, tempat-tempat clubbing, warung makan cepat saji, yang ramai dikunjungi bisa jadi barometer kehidupan masyarakat kita yang mementingkan gengsi kebaratan. Meskipun mengunjungi atau membeli barang-barang yang dihasilkan di tempat-tempat itu akan merogoh kocek yang tidak sedikit, tapi kita rela, kita rela membuang uang di tempat itu, tapi biasanya pelit untuk menyumbang uang untuk amal atau mungkin sekedar membeli koran.

Cara berbicara yang selalu diselipkan istilah-istilah berbahasa Inggris juga salah satu krisis kebudayaan dan kebahasaan kita saat ini. Film-film nasional kita bisa jadi cerminannya. Film-film yang menampilkan sosok budaya perkotaan biasanya selalu ada selipan bahasa Inggris dalam percakapannya. Menggunakan gadget-gadget teknologi mutakhir pun dilakukan masyarakat kita. Kepemilikan semata tentu tidak menjadikan kita modern. Jika kehadiran telepon seluler, komputer, PDA, notebook, itu tidak memberikan perubahan atas cara kita memandang dan memberdayakan pengetahuan, lagi-lagi kita hanya menjadi PASAR bagi komoditi modernisasi. Kita menjadi penonton modernisasi. Kita menjadi bangsa yang terseret-seret dibelakang derap lari modernisasi bangsa lain, dan hanya menghirup tebalnya kepulan asap derap lari modernisasi tanpa pernah menjadi bagian dari mereka yang berlari. Namun menganggap diri kita ikut dalam rombongan modernisasi itu yang pada kenyataannya kita hanya jalan di tempat. Dan rasa-rasanya hal ini terjadi hampir di setiap lapis masyarakat. Mulai dari mereka yang berpenghasilan sekedarnya hingga mereka yang mengenyam pendidikan, baik dasar maupun pendidikan tinggi, bahkan pejabat-pejabat kita pun masih ada yang tampak modern tapi berpikiran tradisional seperti itu.

Kegagalan kita dalam menyikapi modernisasi ini adalah kegagalan mengadaptasikannya ke dalam konteks ke-Indonesia-an. Dan kegagalan inilah yang menjadi mata panah yang berbalik mengancam identitas bangsa kita sendiri. Kita tahu sejak dahulu, segala sesuatu yang berasal dari budaya asing selalu diserap ke dalam budaya Indonesia sebelum akhirnya diterima dan menyebar. Kalau tidak, tentu negeri kita sudah menjadi duplikat dari India ataupun menjadi negeri tropis berbudaya Arabia. Kenyataannya tidak begitu bukan? Kita bisa tetap mempertahankan jati diri hingga akhirnya tiba, kala modernisasi.  Menghadapinya kita gagap, dan akhirnya terlibas. Tampaknya banyak yang harus dibenahi dari diri kita dalam memandang modernisasi ini ya?

Eka Santhika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: