“…Emak Tua Penjaga Kubur…”


“…Tubuhnya renta digerus usia. Tulang punggungnya letih untuk tetap tegap. Terbungkuk-bungkuk ia mengurusi tempat itu sepanjang hari

EMAK, hanya itu panggilan akrabnya yang aku tahu. Usianya jika ditaksir mungkin telah mencapai sekitar 70 tahun. Orangnya selalu ramah, menyapa akrab kami seakan kami semua anak cucunya sendiri. Sesosok penjaga kuburan Cina yang kerap kutemui di pancuran air dekat kali Cisadane kalau sedang menginap di Bogor Selatan.

Jalan menuju pancuran tidaklah datar, lebih berupa tebing yang diberikan trap-trap dan tangga untuk membantu kami menyusuri punggung bukit yang kecuramannya terlalu. Kadang saya saja kehabisan nafas untuk menaikinya, tetapi tidak pernah saya lihat Emak merasa capai menaiki tangga pulang ke rumahnya meski membawa beban seember pakaian yang baru dicuci.

Setiap pagi hingga lewat tengah hari juga emak mengurus kuburan, setahu saya bukan hanya satu-dua kuburan yang diserahi untuk diurus oleh emak, ia nampak gesit dan jarang menunjukkan raut muka lelah,yang sering saya lihat justru senyuman yang tersungging.Saya tidak pernah melihat keluarganya, mungkin anak2nya telah pergi meninggalkan Emak setelah membangun rumah tangga masing-masing. Saya selalu melihatnya seorang diri. Baik di pancuran pinggir kali, di rel kereta, maupun di kuburan cina

Dalam hati, saya bertanya-tanya apa yang membuat emak tua ini begitu kuat dan perkasa melakukan itu semua. Tubuhnya yang renta tetap kuat melakukan berbagai aktifitas fisik yang bagi saya yang muda saja membuat kelelahan, tetapi tidak dengan emak. Kenapa aku bisa kalah telak dari beliau itu, kalah semangat, kalah gesit, dan kalah kuat? juga lebih cepat menggerutu kalau panas terlalu terik, kalau pekerjaan tidak selesai-selesai, dan lain-lain.

Setelah aku pikirkan..mungkin karena senyuman yang selalu Emak tua itu sunggingkan, yang selalu dibaginya ke semua orang dengan tulus. Dan senyuman yang diberikannya memang meneduhkan hati, dan tanpa sadar kita ikut tersenyum dan kembali bersemangat. Dengan banyak memberi senyum maka kita menerima kembali kekuatan senyuman itu berkali-kali lipat dan menjadi kuat karenanya.

Jadi ingat sebuah lagu band lokal kita “HADAPI DENGAN SENYUMAN”. hadapi dengan senyuman itu kuncinya.kondisi sekitar yang semrawut memang membuat kita sulit untuk tersenyum. tapi tidak adil rasanya kalau kita terlalu menyalahkan keadaan, toh semua kendali emosi, marah, senang, gembira, dan susah ada di tangan masing-masing,.Jadi bersyukurlah kalau masih diberikan kesempatan untuk tersenyum, karena banyak orang memilih ntuk cemberut,.
yang jelas sangat banyak manfaat dari tersenyum..dan bisa ditanyakan langsung ke mbah google bila saudara penasaran…hehe

sudah lama juga sosok emak tidak terlihat di sekitar kuburan Cina.. ingin melihat lagi senyuman dan keceriaannya, semoga saja tidak terjadi apa-apa pada beliau

kira-kira mirip-mirip nenek ini deh wajah dan senyum Emak tua…
 

D.P. Ganatri/ De.Gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: