“…Mendung Berkabut di Candi Dieng…”


” …Cuaca Mendung memayungi perjalanan kami redaksi Penantra (Pena Nusantara) saat menjejakkan tapak kaki ini di kawasan pegunungan sekaligus komplek Candi Dieng.Yang berlokasi di kaki pegunungan Dieng Wonosobo Jawa Tengah. Kosa kata Dieng itu sendiri berasal dari bahasa Sunda Kuno, karena memang sebelumnya sempat pernah menjadi bagian wilayah dari Kerajaan Galuh Sunda. Paduan kata dhi yang berarti Tempat, dan Hyang yang artinya  Dewa / dewi, menjadikan kata Dieng berarti sebuah tempat untuk berkumpulnya para dewa atau dewi menurut kepercayaan umat Hindu. Rintik hujan dan kabut yang turun seakan menyambut kehadiran kami di tempat itu.

"...Kawah Candradimuka..."

Tempat tersebut kini telah menjadi sebuah kawasan wisata cagar budaya yang di jaga, di pelihara dan di lindungi keberadaannya oleh aparat pemda dan dinas parawisata setempat. Sesekali cahaya mentari nampak keluar meneranggi kawasan seputar candi yang cukup sedikit melegakan hati kami. Karena kami berharap hujan deras tidaklah turun di siang hari itu, agar kami dapat benar-benar menikmati ke indahan suasana seputar kawasan candi.

"...Candi Gatot Kaca..."

Candi Dieng adalah :  Salah satu bagian peninggalan warisan leluhur bangsa ini yang juga memiliki seni keindahan arsitektur bangunan, di samping nilai-nilai spiritualitas yang tinggi. Menurut sumber ahli sejarah dan pihak pengelola kawasan kompleks candi Dieng, bahwa keberadaaan kompleks candi Dieng itu berada pada ketinggian 2000 m diatas permukaan laut. Memanjang ke arah Utara – Selatan sejauh 1900 m, dan melebar ke arah Timur – Barat sejauh 800 m. Kompleks candi Hindu beraliran Shiva ini di perkirakan di bangun sekitar akhir abad ke 8 Masehi sampai dengan awal abad ke 9 Masehi yang di duga sebagai candi tertua di Tanah Jawa ini. Dan para ahli sejarah pun memperkirakan bahwa proyek pembangunan komplek candi Dieng ini adalah atas perintah Raja-raja dari Dinasty Sanjaya penguasa kerajaan Mataram Kuno (Hindu)  saat itu. Di kawasan komplek candi ini selain terdapat prasasti berangka tahun 808 M, juga di temukan sebuah Arca Shiva yang kini tersimpan sebagai salah satu koleksi benda-benda peninggalan purbakala di Museum Nasional Jakarta. Hal yang sangat unik dari kisah perjalanan sejarah kompleks candi ini menurut ahli sejarah adalah : Bahwa sejarah penemuan kompleks candi tersebut bermula dari ketidak sengajaan seorang bekas tentara Inggris yang kebetulan tengah berwisata ke kawasan pegunungan Dieng pada tahun 1818 Masehi. Ketika beliau sedang asyik berwisata itulah tanpa sengaja beliau menyaksikan sekumpulan bangunan candi nampak terendam di dalam genangan air telaga. Temuan ini segara di laporkan kepada pihak pemerintah Hindia Belanda kala itu, dan kemudian oleh seorang archeology berkebangsaan Belanda bernama Van Kinsbergen di lakukan upaya pengeringan areal sekitar candi pada tahun 1856. Lalu di lanjutkan dengan usaha pembersihan, pencatatan dan pengambilan gambar pada tahun 1864  oleh Van Kinsbergen di bawah naungan pemerintah Hindia Belanda saat itu. Dan situs kompleks candi Dieng ini ternyata terbagi dalam tiga kelompok dengan nama-nama tokoh Pandawa Lima dalam cerita pewayangan kisah Maha Bharata yaitu : Candi Gatot Kaca, Bima, Arjuna, Nakula-Sadewa, Puntadewa, Semar, Srikandi, Sumbadra, Dwarawati dsb. Selain menikmati keindahan panorama alam seputar candi kami pun tak ketinggalan mengunjungi salah satu kawah yang di kenal dengan sebutan kawah Candradimuka. Sebenarnya ada 3 buah kawah berada di sekitar lokasi tersebut yang berjarak agak berjauhan yaitu : Kawah Putih, Si Kidang dan Candradimuka. Dan Tak lupa kami pun menemukan beberapa Telaga dengan sebutan Jalatunda, Pengilon / Cermin, Balekambang, Siterus dan Telaga Warna. Bahkan di tempat tersebut itu pun kami menemukan sebuah gua dengan nama Gua Semar.

"...Dieng Vacation..."

Tak terasa 3 jam lebih kami berkeliling menikmati keagungan dan keindahan kawasan komplek candi, sementara sang mentari kian condong seakan hendak tenggelam di ufuk barat. Kelompok demi kelompok wisatawan satu persatu mulai pergi meninggalkan kawasan seputar candi. Dan suasana pun kian berangsur sunyi, kabut pun masih tampak melayang-layang di sekitar halaman candi membuat suasana senja hari itu seakan memaksa imaginasi kami ke alam dunia penuh mistery serta ilusi. Di mana para Bidadari seakan turun melepas kepergian kami dengan penuh rasa berat hati. “..Selamat Bertandang..”

Oleh :  Albert Dody.R

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: