“…Gereja CANDI HATI KUDUS…”


“…GEREJA Katholik CANDI Hati KUDUS ini tepatnya berlokasi di Kecamatan Ganjuran Kabupaten Bantul DIY Yogyakarta. Bentuk arsitektur bangunan Gereja yang sangat mirip layaknya sebuah Candi Hindu MATARAM – MAJAPAHIT ini adalah suatu bukti Inkulturasi Gereja KATHOLIC dengan BUDAYA masyarakat setempat yaitu JAWA, dengan berbagai nilai keunikannya tersendiri. Menurut informasi yang di peroleh team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ) saat berkunjung ke tempat ini . Bahwa menurut sejarahnya komplek Gereja Katholik Candi Hati Kudus ini didirikan oleh dua bersaudara berkebangsaan Belanda bernama JOSEPH dan JULIUS SCHMUTZER pada tanggal 16 april 1924. Sedangkan keluarga SCHMUTZER ini dulunya adalah Pemilik sekaligus Pengelola sebuah Pabrik Gula Gondang Lipuro. Yang merupakan satu -satunya pabrik gula di kawasan itu yang tidak termasuk bagian perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda saat itu.

"...Arca YESUS Maha PRABU PANGERANING Para Bangsa..."

Setelah komplek gereja itu selesai didirikan, tepatnya 3 tahun kemudian yaitu di tahun 1927 komplek gereja ini pun kembali di sempurnakan, dengan di bangunnya sebuah candi di sebelah Timur halaman gereja dan di beri nama CANDI HATI KUDUS. Candi Hati Kudus ini memiliki pelataran berbentuk relief bunga Teratai dan di dalamnya terdapat Arca YESUS KRISTUS yang bergelar Maha Prabu PANGERANING PARA BANGSA nampak berpakaian layaknya seorang Raja Resi Pendeta Hindu dengan Rambut yang di gulung ke bagian atas kepala. Selain itu terdapat pula Arca Bunda MARIA yang nampak sedang memangku bayi KRISTUS dengan nama DYAH MARIJAH IBOE GANJURAN. Dan Arca Bunda MARIA ini pun nampak berpakaian layaknya seorang Ratu Dewi di Tanah Jawa. Dengan Suasana Alam bernuansa biara para Pertapa Jawa Kuna itu, membuat para peziarahkan merasakan sensasi kenyaman dan ketenangan saat bermeditasi di hadapan Candi, terutama saat malam hari.

"...GEREJA CANDI Hati KUDUS..." Kala Malam di Ganjuran Bantul - Yogyakarta.

Tak seperti umumnya Candi – candi Hindu yang menghadap ke Timur, Candi HATI KUDUS ini oleh arsiteknya yang juga berkebangsaan Belanda bernama JYH Van OYEN di buat menghadap ke arah Selatan. Sementara sebuah Bangunan berbentuk JOGLO / PENDOPO ciri khas bangunan Adat Budaya masyarakat JAWA nampak berdiri megah dan di pergunakan sebagai tempat untuk melaksanakan berbagai aktifitas Peribadatan serta berbagai Perayaan Persembahyangan umat KATHOLIC. Bangunan JOGLO / PENDOPO dengan atap berbentuk Tajuk Segitiga sama sisi yang mengkerucut ini, memiliki 4 buah Tiang SAKA Utama sebagai penyangga bangunan. 4 Tiang SAKA yang terbuat dari bahan Kayu Jati yang kokoh ini sekaligus pula Melambangkan 4 Pengarang INJIL Murid – murid YESUS yang bernama : LUKAS, MATIUS, YOHANES serta MARKUS. Sambil berkeliling team redaksi PENANTRA pun mengamati keadaan sekitar yang ternyata bahwa keseluruhan bangunan komplek Gereja KATHOLIK maupun Candi HATI KUDUS ini merupakan perpaduan gaya arsitektur bangunan Adat Jawa, Hindu juga Eropha.

"...ALTAR GEREJA Hati KUDUS..." di Bangunan Pendopo / Joglo Ibadat.

Yang kesemuanya itu menghasilkan suatu karya Inkulturasi nan Indah sekaligus sedap di pandang mata. Tak terasa malam pun kian menjelang dan merupakan saat yang tepat untuk BERTEKUN sekaligus BERDOA di Pelataran Candi yang mulai nampak di datangi oleh para peziarah. Dan kini nampaklah tiang SALIB Menyala Terang di Atas Puncak Candi. Sementara di bagian dalam Candi nampak pula menyala terang perwujudan Arca KRISTUS Maha Prabu PANGERANING PARA BANGSA dengan HATI Yang TERBUKA. Bagi siapapun yang hendak berdoa di perkenankan untuk berdoa di dalamnya dengan terlebih dahulu menaiki anak – anak tangga pelataran Candi yang berjumlah 9 itu. Bagi para peziarah di tempat ini pun dapat memperoleh Air Suci dengan nama Tirtha PRAWITASARI yang di percaya berkhasiat pula bagi penyembuhan berbagai penyakit dan lain sebagainya. Berdasarkan keterangan yang di peroleh dari para petugas gereja yang kebetulan juga berpakaian Adat ala JAWA yaitu : Jas BESKAP serta BLANGKON itu, kepada team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ) perihal sejarah keberadaan Air Suci itu. Maka di katakanlah bahwa suatu ketika di sekitar Tahun 1998 mendadak di temukanlah sumber mata air yang nampak mengalir keluar tepat dari bawah bangunan Candi.

"...Arca Bunda MARIA.." dengan Nama DYAH MARIJAH IBOE GANJURAN

Dan setelah di teliti Air Jernih yang mendadak keluar dari bawah bangunan Candi ini ternyata dapat langsung di minum. Maka oleh pihak pengurus setempat di buatlah saluran dari pada Air yang mengalir itu agar dapat di pergunakan pula oleh Umat dan para Peziarah sesuai keperluannya. Suasana malam yang kian hening nampak terlihat di areal sekitar bangunan Pendopo / Joglo serta halaman Candi. Seiring Mata yang Terpejam serta Gerak Jemari mendaras butir demi butir biji ROSARI. Para Peziarah pun terlihat khusyuk melantunkan Doa Puja serta Bhakti dari dalam Lubuk Hati. Yang kian larut tapaki malam Hening dan Sunyi Tengelam dalam Ketekunan Doa Samadhi. Bersama Kuasa Ilahi yang Memancar ke segenap Relung Hati serta ke seisi Alam Semesta ini…” Selamat Bertandang dan Berdoa dalam KETEKUNAN…serta Salam DAMAI SEJAHTERA Bagi Mu.

Oleh : Albert Dody Richmant

Iklan

4 Tanggapan

  1. i like it

    • Thanks Broo 4 Like it

  2. aku pernah kesana,,candinya bagus bukti ada inkulturasi dengan budaya hindu jawa
    tempatnya juga tenang dan sejuk cocok untuk berdoa…..

    • Yaa benar sekali itu…Lain kali silahkan datang lagi utk kunjungannya yg berikut bersama keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: