“…PERTAPAAN RADEN WIJAYA MAJAPAHIT…”


"...Halaman Depan Pendopo Agung..."

“…Di sebuah desa bernama Temon Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Terdapat sebuah tempat yang di yakini sebagai bekas tempat pertapaan Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit pada tahun 1292 Masehi. Tempat ini pun sekaligus juga di yakini sebagai tempat Sang Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapanya untuk Mempersatukan Nusantara di bawah Panji Majapahit Gula Kelapa yang kini bernama Sang Saka Dwi Warna Merah Putih NKRI. Di dekat lokasi yang di anggap memiliki nilai sejarah ini kemudian oleh Korps Komando Angkatan Darat Kodam VII Brawijaya Jawa Timur ini di buatlah sebuah bangunan berbentuk Joglo ciri khas bangunan rumah masyarakat Jawa dengan sebutan Pendopo Agung. Kecamatan Trowulan Mojokerto Jawa Timur ini, menurut para ahli sejarah memang dulunya terkenal sebagai bekas Ibu Kota dari Kerajaan Besar Majapahit. Hal ini dapat di buktikan dengan adanya berbagai temuan benda – benda arkeologi yang menurut hasil penelitian berasal dari peninggalan Kerajaan Majapahit.

"...Kolam Segaran..." Peninggalan Asli Majapahit

Peninggalan – peninggalan itu di antaranya berupa kompleks percandian seperti situs Candi Brahu, Bajang Ratu, candi Tikus, Kolam Segaran dan lain sebagainya termasuk situs yang di yakini sebagai tempat pertapaan Raden Wijaya ini. Jika kita memasuki Gapura pintu gerbang masuk maka seusai melewati gapura tersebut kita dapat menyaksikan sosok patung setengah badan dari Sang Mahapatih Gajah Mada yang terletak persis di sebelah kiri pintu masuk tersebut. Sementara tepat tak jauh dari hadapan pintu masuk tersebut nampak sosok patung Raden Wijaya Sang Maharaja pendiri Kerajaan Majapahit tersebut. Areal kompleks situs yang cukup luas dan terkesan rindang ini membuat para pengunjung leluasa untuk berkeliling di sekitar lokasi seperti saat team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ) berkunjung langsung ke tempat tersebut.

"...Candi Tikus Trowulan..." Salah Satu Situs Peninggalan Majapahit

Situs Pertapaan Raden Wijaya yang juga sekaligus di yakini sebagai tempat mengucap Sumpah Amukti Palapanya Mahapatih Gajah Mada ini terletak di bagian belakang bangunan baru Pendopo Agung. Dan di tempat tersebut kita akan menemukan sebuah tiang batu miring yang dulunya di gunakan sebagai tempat pengikat hewan Gajah tunggangan Raja / Petinggi Majapahit. Sedangkan sisa reruntuhan dari pendopo kraton asli jaman Majapahit itu kini hanyalah tinggal berupa batu tiang bekas penyangga bangunan ( umpak ) yang berjumlah tinggal 26 saja. Sementara di bagian luar areal situs keraton, yang tak jauh dari lokasi tepatnya di tepi jalan raya utama desa Temon tersebut. Kita akan menemukan sebuah kolam luas yang cendrung lebih mirip sebuah telaga dengan nama Kolam Segaran. Kolam buatan asli peninggalan jaman Majapahit ini menurut para ahli sejarah dulunya adalah tempat rekreasi sekaligus tempat menerima tamu – tamu Kerajaan Majapahit yang berasal dari dalam dan luar negeri. Kolam Segaran yang luas dengan tumpukan batu bata merah di sepanjang tepiannya ini dulunya selain sebagai tempat menerima tamu kerajaan,  ternyata juga di fungsikan sebagai tempat latihan bagi para prajurit armada angkatan laut Majapahit.

"...Batu Umpak Pengikat Gajah..." di Pertapaan Rd Wijaya

Berdasarkan keterangan yang di peroleh team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ) dari petugas jaga setempat saat berada di lokasi di katakanlah bahwa : Dulunya Kolam ini pun juga di pergunakan sebagai tempat acara perjamuan bagi para tamu negara kerajaan Majapahit, di mana di setiap akhir acara perjamuan tersebut  Sang Raja Majapahit beserta para petinggi kerajaan tersebut akan membuang segala perkakas berupa piring, gelas, sendok dan lain sebagainya yang keseluruhannya terbuat dari Emas ke dalam Kolam Segaran tersebut. Hal ini di lakukan adalah untuk menunjukan kepada para tamu – tamu kerajaan Majapahit yang berasal dari dalam dan luar negeri bahwa : Betapa Makmur dan Sejahteranya kehidupan pemerintahan dan masyarakat Majapahit kala itu….”

Oleh : Albert Dody Richmant

Iklan

5 Tanggapan

  1. Sekedar koreksi …, pertapaan Bhre Wijaya yang asli bukan di situs Makam Panggung, Trowulan, melainkan di Goa Gembyang di sekitar RS. Sumber Glagah. Tambahan, Trowulan bukanlah ibu kota pertama kerajaan Majapahit, ibu kota pertamanya di daerah hutan orang Terik. Selanjutnya, saat pelarian dari Singosari, Bhre Wijaya belum pernah menginjakkan kakinya di wilayah Trowulan, karena pada saat itu wilayah Trowulan berada dalam kekuasaan Gelang-gelang (Jayakatwang). Thanks.

    • Yaa..terimakasih..

  2. Mantaf gan ceritanya

    • thanks ya apresiasinya

  3. Makasih infonya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: