“…Jejak AIRLANGGA di Candi JALATUNDA…”


“…Pagi Yang Cerah meliputi seantero langit kota Surabaya saat itu. Dan seketika  membangkitan gairah kesibukan dan geliat aktifitas masyarakat kota dan sekitarnya. Kesibukan serupa pun terlihat di antara kami anggota team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ), untuk sesegera mungkin meluncur ke sebuah tempat tujuan yaitu :  Situs Candi Sumur JALATUNDA. Yang berjarak sekitar 55 Km dari pusat kota Surabaya ibukota provinsi Jawa Timur itu. Lokasi Cagar Budaya Candi JALATUNDA ini tepatnya terletak di bagian Utara Lereng Gunung Penanggungan, desa Seloliman Kecamatan Trawas , Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Menurut keterangan yang berhasil di peroleh team redaksi PENANTRA dari para petugas jaga setempat. Bahwa situs candi ini di bangun pada tahun 997 Masehi pada masa pemerintahan seorang Raja beragama Hindu yaitu :  Prabu AIRLANGGA Raja dari Kerajaan Medang Kahuripan Kediri.

"...Taman depan Pelataran Candi Jalatunda..."

Candi yang sesungguhnya merupakan Petirtaan ( tempat bermandi suci ) menurut kepercayaan umat Hindu ini, berbentuk kolam-kolam yang indah dengan air yang teramat jernih mengucur deras dari lubang-lubang saluran air petirtaan. Yang anehnya pacuran mata air ini tidaklah pernah kering dari sejak pertama situs candi ini didirikan, hingga saat ini. Bangunan Petirtaan yang berukuran Panjang 16.8 m, Lebar 13, 5 dan Kedalaman sekitar 5,2 m itu. Tetaplah sebagai sumber mata air dengan debit air jernih melimpah-ruah tiada habisnya. Dan berdasarkan hasil riset / penelitian dinas kementrian lingkungan hidup terhadap kualitas air di tempat ini, menyatakan bahwa :

"...Kolam Petirthaan Candi Jalatunda..."

Sumber mata air pancuran candi JALATUNDA ini adalah yang terbaik di dunia serta memiliki kandungan mineral sangat tinggi.  Dan seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa nama besar Prabu AIRLANGGA hingga kini di abadikan sebagai nama sebuah Perguruan tinggi negeri di kota Surabaya dengan nama Universitas Airlangga. Keberadaan situs candi Jalatunda ini merupakan salah satu bukti jejak keberadaan beliau, yang konon sebelumnya adalah merupakan tempat pertapaan Guru beliau yaitu Mpu Bharada. Lalu oleh Prabu Airlangga tempat ini di jadikan sebagai tempat menyepi ( samadhi ) setelah beliau mengundurkan diri sebagai raja Medang Kahuripan, dan menyerahkan tapuk pemerintahan kerajaan Medang Kahuripan kepada putera dan puterinya. Selain situs Pertirtaan Candi Jalatunda ternyata di sekitar Lereng Gunung Penanggungan ini pun masihlah banyak terdapat candi-candi lain peninggalan beliau Prabu Airlangga, yang semuanya berjumlah sekitar 17 buah situs candi. Terletak menyebar sepanjang rute jalur pendakian ke puncak Gunung Pananggungan tersebut, meskipun dengan berbagai bentuk serta ukuran yang jauh lebih kecil dari Candi Petirtaan Sumur Jalatunda tersebut. Candi Petirtaan Jalatunda yang ternyata memiliki 2 tingkatan kolam untuk bermandi suci ini terdiri dari 1 kolam kecil sebelah kiri yang adalah :

"...Taman depan Pelataran Candi Jalatunda..."

Sebagai tempat bermandi suci bagi kaum Wanita. Sedangkan 1 kolam kecil yang berada di posisi sebelah kanan candi adalah :  Sebagai tempat untuk bermandi suci bagi kaum Laki-laki. Lalu kolam terbesar yang posisinya berada di bawah kedua kolam kecil tadi, penuh terisi oleh berbagai jenis ikan hias yang indah serta kian mempercantik suasana kolam permandian candi. Biasanya para pengunjung / wisatawan akan mandi hanya di kedua kolam kecil atas yang di peruntukkan bagi kaum laki-laki dan perempuan tadi, dan tiada yang mempergunakan kolam besar di bawahnya. Sepanjang pantauan team redaksi PENANTRA tempat yang banyak menarik kedatangan wisatawan ini memang menjadi tempat yang nyaman bagi para wisatawan umum, maupun bagi khalayak umat Hindu Bali yang juga menjadikan tempat ini sebagai sarana tempat upacara pengambilan Tirta Suci Melasthi  menjelang hari perayaan Nyepi ( Tahun Baru Saka ). Usai berkeliling dan membaur dengan para wisatawan yang asyik berpesta mandi sumur petirtaan, tiada terasa hari pun semakin tinggi dan mengarah pada senja hari. Suara gemercik Air Pancuran Petirtaan Candi yang jernih bening tiada henti serta ratusan ekor ikan hias warna-warni yang berjalan meliuk-liuk bagaikan menari.  Seolah mengores kenangan tersendiri di dalam hati tentang sekelumit kisah warisan karya leluhur negeri di Lereng Gunung Penanggungan. Seiring bayangan jejak langkah kaki team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ),  tuk melanjutkan Ekspedisi menggali Sejarah Perjalanan Negeri yang kita Cintai  ini…”

Oleh :  Albert Dody Richmant

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: