“…CANDI CETHO dan SUKUH…” Warisan MAJAPAHIT di Gn LAWU


“…Gunung LAWU terletak di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya termasuk dalam wilayah kabupaten Karang Anyar Solo Surakarta, berjarak sekitar 30 Km dari pusat kota Solo. Di mana di tempat itu terdapat sekumpulan bangunan candi yang di yakini sebagai peninggalan warisan leluhur MAJAPAHIT. Sekumpulan bangunan candi yang tersebar dari lereng hingga ke arah puncak gunung Lawu tersebut di kenal dengan sebutan komplek candi SUKUH dan CETHO. Usai menikmati sejuknya air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu dan memberi makan berupa 3 bungkus kacang kepada kawanan kera yang juga banyak berkumpul di sekitar areal air terjun itu, maka kami team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ) pun bergegas untuk bergerak menuju kawasan wisata cagar budaya candi SUKUH dan candi CETHO.

“…Gapura GERBANG Candi ACINTYA…”

Kondisi jalan yang beraspal halus namun penuh dengan tanjakan itu, kadang-kadang membuat kendaraan roda empat team redaksi PENANTRA perlu tambahan ekstra tenaga serta ekstra hati-hati untuk dapat melampaui tanjakan demi tanjakan serta tikungan yang di temui. Sementara lingkungan sekitar sisi kiri dan kanan jalan penuh dengan bunga-bunga nan indah yang sengaja di budi budayakan oleh masyarakat sekitar. Panorama alam yang tergelar indah menghijau dan penuh aneka warna membuat kami semua dapat bernafas lega. Udara yang sejuk segar dan nyaman, itulah yang oleh team redaksi PENANTRA rasakan saat itu. Komplek Candi SUKUH dan CETHO berada pada ketinggian 1500 m dpl lereng gunung LAWU. Dengan nuansa panorama alam yang eksotik, komplek candi SUKUH dan CETHO menghadirkan beribu kesan indah bagi siapa pun yang mengunjungginya. Menurut para ahli sejarah komplek candi SUKUH dan CETHO di perkirakan di bangun pada sekitar pertengahan abad ke 15, yaitu di era menjelang keruntuhan Emperium MAJAPAHIT. Tepatnya di masa pemerintahan Raja BRAWIJAYA V.  Kata CETHO dalam kosa kata bahasa Jawa berarti Jelas, Terang atau Cerah. Dan dengan demikian makna nama dari pada candi CETHO itu sendiri adalah :  Sebuah tempat suci untuk memperoleh PENCERAHAN.

"...Candi SUKUH MAJAPAHIT..." Yang Mirip dgn Candi2 Suku Inca / Maya Mexico.

Selain kini komplek candi tersebut berfungsi sebagai salah satu daerah tujuan Wisata Sejarah Cagar Budaya, namun hingga saat ini pun masih sering di pergunakan sebagai tempat peribadatan bagi umat Hindu. Jadi tak heran jika para pengunjung pun di mohon kesediaannya untuk turut pula menjaga kesucian tempat tersebut, dengan berlaku sopan dan tidak berlaku sembarangan. Menurut cerita warga sekitar komplek candi CETHO ini di bangun ketika Prabu BRAWIJAYA V Raja MAJAPAHIT Lengser Keprabon dan meninggalkan Istana MAJAPAHIT menuju puncak gunung Lawu, dan di ikuti oleh dua orang pendeta tinggi Hindu kerajaan MAJAPAHIT yang bernama SABDO PALON – NAYA GENGGONG. Di dalam perjalanan menuju puncak gunung LAWU inilah beliau mendirikan candi – candi di sekitar kawasan Lereng gunung LAWU tersebut, sambil memperdalam tingkat spritualitas dirinya hingga akhirnya sampailah beliau pada titik sempurna yang di sebut Mokhsa ( hilang lenyap ) di puncak gunung LAWU. Saat ini peninggalan beliau yang berupa komplek percandian itu di kenal dengan sebutan komplek candi CETHO, SUKUH, SARASWATI dan candi Sanghyang ACINTHYA.

“…Candi Sanghyang ACINTYA…”

Sampai saat ini penduduk sekitar yang notabene masih keturunan SABDO PALON – NAYA GENGGONG  serta para Ksatria MAJAPAHIT itu, masihlah berpegang teguh dan mentaati ajaran-ajaran warisan leluhur dengan tetap berupaya menjaga keasrian, kelestarian dan kesucian kompleks candi CETHO & SUKUH tersebut. Di dalam komplek candi CETHO ini kita dapat menemukan sebuah bangunan pendopo yang terbuat dari bahan kayu, relief-relief pada dinding bebatuan yang mengambarkan perjalanan reinkarnasi dan keserasian / keharmonisan kehidupan manusia di alam semesta lengkap dengan aneka flora dan faunanya, gapura – gapura gerbang serta undakan -undakan yang berjumlah 7 buah undakan atau tingkat. Di mana semakin tinggi undakan / tingkat, maka berarti semakin tinggi pulalah tingkat kesucian tempat tersebut. Selain itu kita pun dapat menemukan batu-batu berbentuk Lingga Yoni. Batu Lingga melambangkan Laki-laki, sedangkan Yoni melambangkan wanita. Di mana pengabungan unsur keduanya akan membuahkan kesuburan, serta di percaya pula dapat menolak segala kekuatan yang berasal dari roh-roh jahat. Selain itu kita pun dapat pula menemukan bale – bale bercorak bangunan Rumah Adat JAWA yaitu Rumah JOGLO. Yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan upacara bagi umat Hindu, menyimpan pusaka serta tempat bermeditasi bagi para peziarah.

“…PETILASAN Eyang SABDO PALON – NAYA GENGGONG…”

Dan masih banyak lagi hal – hal yang unik serta menarik dapat kita temui di tempat itu. Lalu lalang para Wisatawan baik Domestik maupun Mancanegara terlihat betah berlama-lama berada di lokasi seputar areal Komplek Candi, menikmati keindahan dan seakan kami semua, team redakasi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ) pun ikut terserap di dalam lingkupan KHARISMA KEJAYAAN Masa Silam. Kabut tebal dan tetesan rintik hujan yang mendadak turun dari arah Puncak Gunung LAWU itu pun begitu memukau hati dan fikiran. Seakan memberikan Undangan bagi kami untuk suatu saat  “…Kembali DATANG…  ”  Selamat Bertandang..

Oleh :  Albert Dody Richmant

2 Tanggapan

  1. nice..pengen kesana…http://economicslaterreview.blogspot.com/

    mampir juga..buat nusantara jaya…

    salam..

    • Trims yaa n silahkan mampir ke Candi Cetho atau Sukuh yg Indah sekaligus dpt menambah wawasan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: