“…CIPTA GELAR…” KASEPUHAN Adat Budaya SUNDA


“…Tak terasa waktu telah menunjukkan tepat Pukul 18.00 wib, ketika derap roda 6 ekor Kuda Besi Ksatria redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ) bergerak memasuki pintu gerbang desa Cipta Rasa di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Sukabumi Jawa Barat.  Guna menuju sebuah Perkampungan Adat Budaya Sunda yang bernama Kasepuhan CIPTA GELAR yang berada di wilayah Sukamulya , desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat. Sedangkan Desa Cipta Rasa itu adalah merupakan desa terakhir menuju Kasepuhan CIPTA GELAR yang berjarak masih sekitar 9 – 12 Km lagi. Seketika itu juga keresahan sekaligus kebingungan menyelimuti segenap alam fikiran team redaksi PENANTRA, demi mendengar berbagai keterangan yang di sampaikan oleh para pemuka desa setempat, yang notabene masihlah terhitung kerabat dekat dari warga masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar tersebut, saat menerima kedatangan kami di desa itu.

“…Imah Gede Kasepuhan Adat Sunda Cipta Gelar…”

“…Waduh kalian teh datangna ka sorean , kalo mau ke Kasepuhan Cipta Gelar teh mesti kudu datangnya pagi – pagi..! Sebab teh Kampung adat budaya Sunda itu teh masih jauh dari sini, sekitar 9 s/d 12 km lagi…dan jalannya teh selain berat, juga musti kudu ngaliwati Leuweung / Hutan lebat Taman Nasional atuuh…hiyy menih serem atuh teh…! ” Ujar salah seorang pemuka desa yang ramah itu seraya tersenyum kepada kami team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ), dengan logat khas bahasa Sundanya. Dan seketika membuat kami pun tertegun dan mencoba berfikir keras demi menghadapi situasi yang di rasa kurang menguntungkan itu. Di tengah pembicaraan kami dengan para pemuka desa setempat, mereka pun mencoba menawarkan kepada kami,  agar kami menginap terlebih dahulu barang satu malam di sebuah Balai Desa milik warga, yang ternyata memang di sediakan bagi para Tamu yang datang ke malaman dalam perjalannya menuju Kasepuhan Cipta Gelar tersebut. Lalu sampai pada suatu ketika di tengah – tengah pembicaraan santai kami, tiba – tiba terdengarlah deru suara mesin kendaraan memasuki areal halaman balai desa.

“…Balai Desa Cipta Rasa…”

Segera sang pemuka desa pun keluar menuju arah suara, setelah beberapa saat kemudian dia pun datang menghampiri kami team redaksi PENANTRA seraya berkata :  “…Aduh…aduh kalian teh beruntung, kebetulan teh itu aya Truk yang mau berangkat ka CIPTA GELAR…”  Kalo kalian mau nanti teh Abah titipkan kalian buat ikut numpang sampai ke Cipta Gelar…Ujar beliau sambil tersenyum dan tertawa…” Yang seketika itu juga kami sambut dengan tertawa ceria pula…hahahaha…” Memang sungguh kami pun tak menyangka bahwasannya pertolongan Tuhan itu pun datang tiba-tiba…” Semangat yang mulanya hampir padam kini pun kembali menyala dan berkobar-kobar, untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang di tawarkan sang pemuka desa. Dan berdasarkan saran pemuka desa Cipta Rasa itu, maka Kuda-kuda besi pun kami titipkan di halaman Balai Desa setempat serta di jamin aman. Setelah berpamitan pada pemuka desa itu , maka deru suara mesin Truk pun kembali terdengar dan bergegas melanjutkan perjalanan menuju Kasepuhan CIPTA GELAR idaman.

“…Aktifitas Warga Kasepuhan Cipta Gelar saat Upacara Seren Taun ( Pesta Panen )

Perjalanan yang semula kami tempuh dengan Kuda-kuda Besi, kini berganti dengan seekor Kereta Gajah ( Truk bak terbuka berukuran sedang ). Meskipun jauh dari kenyamanan sebuah Mobil Sedan, Taxi Blue Bird atau pun Bus way di kawasan Ibu kota, namun bagi kami team redaksi PENANTRA menumpang Kereta Gajah / Truk bak terbuka itu terasa lebih manstabs, di tengah medan jalan  hutan yang berat serta di kanan kiri nampak penuh dengan jurang.  Malam yang pekat menjadi pemandangan yang terasa lekat di antara rimbunya aneka jenis pohon kayu yang tegak menjulang bagaikan raksasa penunggu hutan, di sisi kiri dan kanan jalan. Dan selama dalam perjalanan seiring canda dan tawa gembira di antara kawan, kami semua pun mencoba membayangkan seperti apakah kira – kira wujud Kasepuhan CIPTA GELAR kampung Adat Budaya Sunda yang sedang kami tuju itu…? Apakah keadaan pemukiman dan penduduknya masihlah sangat primitif, mengingat letaknya yang begitu jauh masuk kedalam kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun…?

“…Tarian Khas Adat Sunda saat Upacara Seren Taun…”

Apakah kami akan bertemu dengan orang-orang dengan pakaian seadanya yang terbuat dari bahan-bahan hasil hutan…? Pertanyaan demi pertanyaan pun berkecamuk dalam hati dan fikiran kami masing-masing saat itu. Karena memang sungguhlah wajar sebab kami sama sekali belum pernah merambah sampai ke daerah itu. Waktu pun terus berjalan sementara sang Kereta Gajah tunggangan baru kami ini pun, masihlah nampak gagah menghantam medan jalan yang terasa kurang ramah, penuh tanjakkan, kelokan, jurang-jurang jebakan serta turunan. Dan ini memang benar – benar sebuah kondisi jalan yang hanya mampu di lalui oleh kendaraan bergardan ganda semacam Jeep atau Toyota Hardtop. Dan special konsumsi bagi para Off Roader sajalah yang kira – kira mampu mengendalikan jalannya roda kendaraan di tempat itu, terlebih pada saat musim penghujan. Langkah sang Kereta Gajah / Truk masih tak tertahankan sampai pada akhirnya, terlihatlah oleh kami segenap team redaksi PENANTRA, setitik nyala lampu yang kian lama-lama kian dekat, sementara pemandangan alam gelapnya hutan berangsur berkurang dan seolah kini kami tengah memasuki semacam areal persawahan yang luas dan lapang.

“…Jalur Jalan Menuju Kasepuhan Cipta Gelar Taman Nasional Gunung Halimun…”

Seketika kami pun mulai tercenggang – cenggang heran,  manakala samar mulai terlihat di antara keremangan malam pintu gerbang masuk dan deretan pemukiman Kasepuhan CIPTA GELAR yang nampak terang benderang oleh cahaya lampu-lampu bohlam di setiap teras pekarangan rumah-rumah penduduk. Maka seketika buyarlah sudah dugaan kami tentang bayang keprimitifan warga Kasepuhan CIPTA GELAR selama dalam perjalanan kami di tengah hutan tadi. Sungguh ternyata kehidupan masyarakat Kasepuhan CIPTA GELAR ini terbilang cukup makmur serta maju, namun tetap mempertahankan dan menjunjung tinggi  nilai-nilai ajaran serta adat tradisi warisan para leluhur mereka. Dan hal ini pun adalah suatu keunikan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi segenap Sesepuh serta warga Kasepuhan tersebut. Singkat cerita tibalah kami di Imah Gede yaitu sebuah rumah induk berukuran sangat besar tempat terpusatnya segala aktifitas kerabat para pemuka adat sekaligus tempat penerimaan para tamu yang berkunjung.

“…Leuit Jimat si Lumbung Padi…”

Dan oleh salah seorang Jaro ( Sesepuh ) adat setempat, kami pun di sambut ramah bersahaja, kesibukan nampak terlihat saat itu karena ternyata kedatangan kami bertepatan dengan malam perpisahan kepindahan bagi seorang Guru Sekolah Dasar yang kebetulan berakhir masa tugasnya di Kasepuhan CIPTA GELAR itu…” Dan ternyata Kereta Gajah / Truk yang tadi kami tumpangi itu adalah :  di pergunakan dalam rangka menjemput Sang Guru sekaligus sebagai pengangkut barang – barang pribadi milik Sang Guru serta bagi sebagian warga yang hendak menghantarkan kepindahan Sang Guru… ”  Dan demi menyaksikan semua itu kami pun tersenyum – senyum sendiri lantaran jalan Tuhan yang misterius untuk menolong kami sampai di CIPTA GELAR malam itu juga,  setelah sebelumnya kami sempat merasa putus asa…dan Puji Tuhan atas segala Karunia-NYA. Sementara menunggu kedatangan Sang Kepala Suku Kasepuhan Cipta Gelar yang tersohor dengan sebutan : ABAH ANOM ( Encup Sutjipta ) yang kini telah Almarhum, dan kedudukanya pun saat ini telah di gantikan oleh puteranya yang bernama Abah UGI itu.  Oleh para Jaro / Sesepuh penerima tamu, kami pun di persilahkan untuk menikmati hidangan santap malam ala khas masakan asli Sunda. Dengan di antar oleh seorang mbok Emban kami pun di antar menuju ruang dapur masak yang ternyata pun penuh oleh Ibu-ibu dan para remaja putri yang tengah asyik memasak,  sambil bercengkrama sesama warga. Keramahan nampak terpancar dari wajah-wajah mereka terhadap para tamu yang datang. Aroma masakan khas ala Sunda terasa begitu menyengat, yang seketika itu juga membangkitkan gairah nafsu makan team redaksi PENANTRA yang memang sudah sejak tadi terasa keroncongan…hihihihi.

“…Lumbung Padi Milik Warga…”

Usai berpesta santap malam kami pun di perkenankan menghadap Sang Kepala Suku saat itu yaitu Abah ANOM yang nampak tengah menunggu kami di ruang pribadinya yang terpisah dari Imah Gede / Induk Rumah Adat. Sosok Sang Abah yang ternyata masih terbilang setengah baya ini memanglah pantas di sebut sebagai Abah ANOM atau Muda. Dan dari beliaulah kami kemudian banyak mendapatkan informasi perihal keberadaan Kasepuhan Cipta Gelar tersebut yang ternyata sudah cukup di kenal oleh berbagai turis mancanegara. Beliau pun menjelaskan perihal keberadaan listrik di desanya, yang ternyata berasal dari PLTA buatan warga setempat, yang kemudian mendapat bantuan mesin turbin dari seorang warga negara Jepang serta Pemda setempat yang antusias dengan keberadaan kampung adat budaya Sunda tersebut. Begitu pula dengan fasilitas pengadaan jalan , yang juga di kerjakan sendiri oleh warganya secara Gotong Royong.

“…Jembatan Kayu Menuju Cipta Gelar…”

Selain itu terdapat 1 Buah Leuit Jimat yaitu Lumbung Padi milik Desa dengan kapasitas menyimpan 22  –  30 Ton gabah kering / padi,  serta deretan Lumbung-lumbung Padi ( Leuit ) yang hampir di miliki oleh setiap warga, semua itu menyiratkan betapa makmurnya kehidupan masyarakat Kasepuhan ini serta jauh dari Kelaparan / Kekurangan Pangan. Sebuah bangunan Stasiun Radio Pemancar khusus bagi para petani Kasepuhan Cipta Gelar dan sekitarnya nampak berdiri di sisi kanan tak jauh dari Imah Gede. Stasiun Radio Kasepuhan Cipta Gelar yang mana program acaranya lebih di tujukan demi kemajuan pertanian warga sekitar. Ternyata juga di isi pula dengan berbagai program acara hiburan khas tradisi Sunda. Sejauh pantauan team redaksi PENANTRA ( Perhimpunan Nasionalis Nusantara ) ternyata pola kehidupan masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar ini patut di jadikan panutan. Di mana nampak kemakmuran terlihat dari keadaan penduduk setempat yang ternyata juga hidup secara modern dengan terlihatnya berbagai perkakas elektronik, kendaraan bermotor hingga akses internet. Dengan tanpa harus kehilangan nilai – nilai Adat – Budaya dan Tradisi namun tetap menjungjung tinggi norma-norma hidup warisan Leluhur negeri. Dan masih banyak lagi hal yang dapat di gali dan di pelajari dari pola kehidupan masyarakat Kasepuhan Adat Budaya Sunda CIPTA GELAR  ini. Di antaranya adalah Tradisi Upacara Seren Taun ( Pesta Panen ) warisan leluhur mereka turun-temurun. Yang selalu melandaskan diri pada sikap mengutamakan rasa ke Gotong Royongan, Kemandirian, Keharmonisan hubungan di antara  Komunitas pergaulan antar warganya serta Lingkungan Alam Sekitarnya….”

Oleh : Albert Dody Richmant

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: