“…MENGGALI AKAR TRADISI…” MEMUTUS Rantai MALNUTRISI


“ Penyakit ini turut berperan dalam kematian lebih dari separuh anak-anak di seluruh dunia –proporsi yang tak tertandingi oleh penyakit menular apapun sejak sampar hitam. Namun ini bukanlah penyakit menular. Kerugian yang diakibatkannya mencakup jutaan penderita yang menjadi cacat, secara kronis rentan terhadap penyakit, dan cacat secara intelektual. Penyakit ini mengancam kaum wanita, keluarga, dan akhirnya kelangsungan hidup segenap masyarakat”—The State of the World’s Children, UNICEF.

Malnutrisi adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan penyakit dalam kutipan di atas. WHO menyatakan, malnutrisi menyebabkan sedikitnya 10,4 juta anak meninggal setiap tahunnya. Di Indonesia, Departemen Kesehatan RI dan DPR menduga sekitar 30% dari 110 juta balita Indonesia menderita gizi buruk. Pemberitaan media massa pun menyebutkan kasus gizi buruk tidak hanya terjadi di desa-desa kecil namun juga di kota-kota besar, dan tidak hanya menimpa balita tetapi juga para remaja dan ibu hamil.

Kelaparan dan malnutrisi di Indonesia telah menjadi lakon yang terus menerus dialami masyarakatnya sejak jaman penjajahan, bukan hanya selama 7 tahun terakhir dimana bencana-bencana alam seakan tidak kunjung usai melanda Indonesia, atau sejak negeri ini dilanda krisis moneter tahun 1997.

Jauh sebelumnya, budaya agraris masyarakat Indonesia telah membentuk tradisi populer yang dapat menjauhkan bangsa ini dari krisis pangan dan malnutrisi. Suatu sistem pertahanan pangan yang kini banyak diabaikan karena distribusi bahan kebutuhan pokok telah menjadi semakin baik dan pola pemikiran mandiri berdikari telah digantikan dengan pola pemikiran konsumtif, ada uang ada barang.

Masyarakat dahulu telah mengembangkan kearifan lokal untuk sebagai sumber makanan alternatif sebagai pengganti makanan pokok berupa beras, jagung, atau sagu. Mereka mendapatkan sumber karbohidrat alternatif dari garut, singkong, umbi-umbian, gaplek, tebu, nira, kelapa dan buah-buahan lainnya yang terbukti menyelamatkan perut di saat paceklik.

Orang-orang desa dahulu terbiasa menanami lahan pekarangan dengan tanaman-tanaman yang bisa dijadikan penambah gizi dan menjaga kesehatan, seperti buah-buahan, tanaman obat, rempah-rempah,adalah tanaman wajib yang mengisi petak-petak tanah halaman sehingga malnutrisi dahulu hanya bergaung di perkotaan dimana penduduk miskinnya mengalami kesulitan membeli kebutuhan pokok.

Mengingat kekayaan alam indonesia yang merupakan negara megabiodiversity, masyarakat memanfaatkan lebih dari 6000 jenis tanaman untuk kebutuhan sandang, pangan, papan, dan menjaga kesehatannya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa penyebab malnutrisi di Indonesia bukanlah faktor kemiskinan, melainkan putusnya pengetahuan turun temurun dari nenek moyang kita akan makanan bergizi yang dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan karbohidrat, protein, vitamin dan mineral serta flora dan fauna berkhasiat obat.

Oleh : Dwi P. Ganatri

2 Tanggapan

  1. Man, really want to know how can you be that smart, lol…great read, thanks.

    • U’r Welcome Broer / Sist 4 Support

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: