“…PERENUNGAN Untuk INDONESIA…” Budaya dan Pariwisata Harus di Pisahkan


Hingar bingar Indonesia dengan korupsi yang tak habis, kemiskinan yang tak kunjung berhenti, suasana pendidikan tak jelas, teror bom yang mencekam, perusakan lingkungan dan banyak lagi situasi yang tidak memihak rakyat, belum lagi dunia kesenimanan mulai dikuasai birokrat yang mengatasnamakan seni. Ini semua menambah carut marutnya negeri ini. Negeri indah yang seharusnya dibangun dengan cinta, persaudaraan, kejujuran dan menghargai kemanusiaan sebagai nilai penting dalam kehidupan.Inilah cuplikan dari tema Pameran Lukisan “…Perenungan Untuk Indonesia…” yang di adakan di Taman Ismail Marzuki yang diadakan mulai tanggal 21- 30 Juni 2011 pukul 10.00 – 21.00 wib di Gedung Galeri Cipta III.Para pelukis yang terlibat di dalamnya adalah : Syahnagra Ismail, Iwan Aswan, Semut Prasidha dan Indra Syafrin. Dari pertemuan-pertemuan yang kerap mereka lakukan. Melahirkan suatu rasa dan pemikiran yang sama mengenai seni lukis, dan segala permasalahan yang berkembang akhir-akhir ini di tengah masyarakat. Banyak permasalahan yang kemudian menjadi renungan dan menumbuhkan optimisme, percaya diri bahwa seni lukis bisa mendekati hati membuka dialog dengan siapapun. Nama-nama seperti Zaini, Nashar, Rusli, Oesman Effendi, Srihadi Soedarsono, Roedjito dan Danarto yang secara langsung mengajar di studio lukis LPKJ-IKJ. Bahkan juga Ws.Rendra yang sering dijumpai di Taman Ismail Marzuki, selalu menjadi topik pembicaraan bagaimana mereka bisa menumbuhkan semangat dan idealisme, memberi jalan dalam setiap persoalan yang dihadapi, terutama masalah dunia kesenimanan. Itulah guru-guru seniman yang meneladani kita dengan sikap.

"..Suasana di Ruang Pameran.."

Dari hal itu semua maka lahirlah suatu gagasan untuk terselenggaranya Pameran lukisan dengan tema “…Perenungan Untuk Indonesia…” yang menjadi suatu ajakan kepada kita semua untuk mengenali diri, berkaca mencari jalan yang paling indah dalam membangun negeri ini. Menghargai alam, warna, komposisi sebagai ritme kehidupan. Bangsa ini dibesarkan dengan Seni dan Budaya yang tinggi seperti Borobudur, Prambanan dan tradisi-tradisi yang hebat-hebat. Tapi justru semakin kemari kita semakin tidak mengerti apa-apa. Itulah yang menjadi kelemahan Bangsa kita ini, tetapi memang tidak semua. Banyak juga kawan-kawan dari luar negeri yang banyak memberikan pandangan-pandangan baru tentang Kesenian termasuk Seni Lukis. Saya kira banyak yang mengerti Kesenian. Karena memang Kesenian ini agak sulit dimengerti. Misalnya ini seperti apa…? atau itu bentuk apa…? Karena belum terbiasa. Saya kira bila banyak tempat-tempat seperti TIM dan Pameran-Pameran, saya kira orang akan lebih banyak mengerti tentang Kesenian…” Demikian ungkap Syahnagra Ismaill berkenaan dengan keadaan masyarakat umum sekarang ini yang kurang mengerti akan Kesenian khususnya Seni Lukis sehingga mereka cenderung kurang menghargainya.

“ Hal tersebut menjadi suatu langkah berani yang harus diambil oleh para Seniman, bila seseorang itu sudah menentukan dirinya menjadi Seniman. Karena orang itu berada dalam suatu lingkup hidup di suatu Bangsa yang hampir nyaris tidak menghargai seni. Melihat carut marutnya Bangsa ini mulai dari pembudakan masyarakat Indonesia hinggga perkara Korupsi. Yang mana uangnya di ambil dan mereka pun tidak tahu apa-apa. Pejabat dan Birokrat-Birokrat itu sangat naif. Sebagai Seniman kami sangat merasakan itu sangat luar biasa. Karena itu kita mengajak masyarakat untuk berkaca diri. Ibarat Skrup pada suatu gerbong kereta api, maka kami masih punya hati”, papar Iwan Aswan.

Iwan Aswan di depan karyanya "Imaji"

“Bangsa ini memiliki Generasi Penerus dimana mereka bukan Pewaris tapi suatu titipan. Anak-anak adalah titipan. Kita mewariskan sesuatu bukan sebagai warisan, tapi Titipan. Karena sesuatu yang diwariskan akan habis.Sedangkan Titipan adalah suatu yang harus dijaga dan dilestarikan dengan baik. Karena itu kita butuh suatu Perenungan, butuh suatu sikap untuk menghadapi segala hal-hal yang terjadi. Kami berharap para Generasi Penerus yang adalah Generasi Titipan ini bisa jadi lebih baik dari kami, jauh lebih berbicara dari kami dan dapat merubah hal-hal yang kita rasakan sebagai suatu ketidakseimbangan yaitu Ketidakadilan dan ketidakpuasan.” Ungkapnya lebih jauh.

Masalah Kebudayaan adalah masalah yang sangat penting. Syahnagra Ismaill menegaskan bahwa: Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan harus dipisahkan. Karena masing-masing memiliki program sendiri-sendiri yang tidak sama. Pariwisata hanyalah mencari keuntungan seperti pedagang atau menjual sesuatu yang tentunya memperhitungkan untung rugi. Sementara Budaya itu sendiri lebih berfokus pada persoalan suasana hati, filosofi, masalah perasaan, masalah alam, dan banyak lagi yang memang harus dipikirkan tersendiri.

Kebobrokan Bangsa ini, ketidakadilan, ketidak damaian yang terjadi di negeri ini karena Kebudayaan yang tidak dikuasai oleh para Pemimpin negeri ini saat ini. Akibatnya mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, Korupsi seenaknya. Karena pendalaman Filosofi Budaya tidak ada pada diri mereka.

Pelukis Syahnagra Ismail di depan karyanya yang bertemakan pinggir laut

Berbeda pada zaman Bapak Soekarno memerintah dimana Beliau sangat mengerti akan Seni Budaya. Beliau sangat dekat dengan para pelaku seni. Baik Seni Lukis, Seni Patung, Seni Tari, dan Kesenian-Kesenian yang lain. Banyak karya-karya seni dan budaya yang Bapak Soekarno lahirkan pada masa pemerintahannya. Beliau meminta pada para Pelukis atau Pematung untuk mewujudkan apa yang tertanam dalam ide-ide nya . Dan beliau pun secara langsung berbicara serta mengarahkan Sang Seniman tanpa merasa gengsi atau menjaga jarak. Lalu secara langsung pula beliau pun memeriksa hasil kerja dari para Seniman tersebut.

Setiap minggu Bapak Soekarno mengundang para Seniman tersebut ke Istana Merdeka. Pernah Affandi ( salah satu Maestro Pelukis Indonesia ) itu pergi naik becak untuk dapat menghadiri undangan dari Bapak Soekarno tersebut, di Istana Merdeka Jakarta. Dan Bapak Soekarno pun menyambut seorang Affandi itu dengan hangat dan suka cita. Tidak memandang naik apa Affandi untuk bisa datang di Istana saat itu.

Di kota Jakarta ini banyak karya-karya Seni yang lahir dari Bapak Soekarno seperti Patung Selamat Datang, Tugu Monas, Patung pembebasan Irian Barat, Tugu Tani (Patung Pahlawan), Patung Dirgantara. Yang dibuat oleh pematung Edi Sunarso.

Dalam Seni lukis pun banyak lukisan-lukisan hebat dan luar biasa yang dipasang di Istana Kepresidenan seperti Istana Merdeka, Istana Bogor dan Istana Cipanas di Puncak Bogor.

Bahkan Simbol negara yaitu Burung Garuda pun adalah suatu karya Seni. Merah Putih Bendera Bangsa Indonesia ini pun suatu Seni dan Budaya. Yang mengandung suatu nilai-nilai filosofis, sejarah dan budaya.

Karya-karya Lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan Perenungan Untuk Indonesia kali ini menampilkan lukisan-lukisan dari para pelukisnya sesuai dengan karakter masing-masing seperti Lukisan Kampung Tangor, Pohon Kelapa di Pinggir Laut, dan Pohon Coklat karya Semut Prasidha.

Lukisan Musisi, Potret Keluarga, Kota Tua, dan Perahu Nuh karya Indra Syafrin. Lukisan Gadis berkalung manik, Imaji 41, dan Imaji 29 karya Iwan Aswan. Lukisan Kota Tua, Rumah dan menara-manara, serta lukisan Pohon diantara Rumah-Rumah karya Syahnagra Ismaill.

Semua lukisan-lukisan tersebut memiliki makna dan arti tersendiri. Yang harus dilihat dengan kedalaman jiwa. Tidak bisa hanya dilihat sepintas lalu saja. Atau hanya satu kali melihat saja. Memerlukan suatu perenungan yang dalam untuk dapat memahami apa yang tertuang dalam lukisan-lukisan ini. Dan menyelaminya. Ada maksud atau simbol-simbol yang ingin disampaikan oleh Sang Pelukis kepada masyarakat luas.

Lukisan Gadis Berkalung Manik karya : Iwan Aswan

Dalam lukisan Gadis Berkalung Manik, Iwan Aswan ingin menyampaikan bahwa Manik-Manik adalah suatu benda yang kecil tapi mewakili sejarah atau jamannya. Iwan Aswan menyukai suatu bentuk-bentuk yang punya latar belakang sejarah atau masa lalu. Itu hasil budaya manusia. Kadang masyarakat kita hanya melihat sesuatu yang Makro saja, padahal dalam Kebudayaan hal-hal yang Mikro juga luar biasa. Kita hanya melihat suatu yang Paradok. Seperti misalnya bila kita berjalan melihat suatu pohon yang rindang. Kita akan berpikir betapa enaknya dibawah pohon rindang itu. Tanpa pernah melihat bahwa di pohon tersebut pun memiliki akar yang menjalar kemana-mana di dalam Bumi. Sehingga kita hanya melihat sebagian. Tidak keseluruhan.

Sama halnya dengan manik-manik. Bila kita melihat Manik-manik dengan Kaca Pembesar maka kita akan melihat sesuatu yang indah dan baik. Atau Bunga Anggrek. Kita akan melihat betapa monumentalnya. Sehingga dalam hal ini Tuhan menciptakan baik yang kecil maupun yang besar sama Monumentalnya. Hal itulah yang diangkat dari Manik-manik dengan seorang gadis yang duduk dan pandangan matanya yang sedikit bias, tapi sebenarnya menjadi suatu proses perenungan masa lalu. Hal yang kecil tapi mewakili sejarahnya.

Lukisan Kapal Nuh Karya Pelukis : Indra Syafrin

Lain lagi dengan Pelukis Indra Syafrin yang melihat lukisan adalah suatu petunjuk. Pada saat melukis karyanya yang berjudul Perahu Nuh, dia tengah membaca suatu riwayat. Lalu saat melukis dia melihat suatu bentuk-bentuk yang saat dituangkan ke atas kanvas ternyata adalah bentuk-bentuk binatang. Lalu dia melihat banyak air. Di mana-mana air. Lalu Tsunami. Saat lukisan itu selesai, dia melihat lukisan itu suram dan muram. Indra Syafrin merasa takut melihat lukisan tersebut. Tidak berapa lama kemudian terjadilah Tsunami Aceh.

Indra Syafrin sering melukis sesuatu yang ternyata kemudian terjadi di negeri ini. Karena itulah Lukisan untuk Indra Syafrin juga adalah merupakan petunjuk. Mencari petunjuk tidak usah kemana-mana. Semua yang ada di alam semesta ini adalah petunjuk. Dan Indra Syafrin menuangkannya dengan jujur petunjuk-petunjuk tersebut dalam karya-karya lukisannya.

Pada tahun 2005 yang lalu dalam suatu pameran di Jakarta Pelukis Syahnagra Ismaill mencetuskan suatu gagasan untuk membuat acara 125 tahun wafatnya Raden Saleh. Karena Raden Saleh adalah seorang Pelukis penting untuk kancah wilayah Republik ini. Pelukis asli Indonesia yang luar biasa dan berpengalaman di kancah Internasional. Dan sangat disegani dan mendapat bintang-bintang kehormatan dari Raja-Raja Prusia.

Pelukis Indra Syafrin di depan karyanya yang bertajuk "Musisi"

Maka dibuatlah acara tersebut di Kebun Raya Bogor. Sebanyak 60 pelukis turut andil dalam acara ini. Dan Seniman-seniman seluruh Indonesia juga hadir dalam acara ini. Dari gagasan ini kemudian lahir Petisi yang disampaikan kepada Kantor DPRD dalam hal ini kepada Walikota Bogor untuk meresmikan Raden Saleh menjadi nama jalan di sana. Yaitu jalan di dekat Makam Raden Saleh. Karena rumah tinggal Raden Saleh yang merupakan situs bersejarah sudah tidak ada lagi di sana. Berubah menjadi Pusat Perbelanjaan.

Pada saat berziarah ke Makam Raden Saleh yang dibangun oleh Bapak Soekarno dengan I.r Silaban sebagai arsiteknya, Syahnagra memberikan orasinya yaitu bagaimana kita harus memelihara kebudayaan dan tokoh-tokoh yang sangat penting. Maka jadilah Jalan Raden Saleh.

Namun ada hal yang mereka sayangkan pada saat hal tersebut di lakukan Pemerintah Daerah tidak melibatkan mereka sebagai penggagas. Sehingga renovasi dan pembangunan lebih lanjut areal makam Raden Saleh dan Jalan Raden Saleh menjadi tidak sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh mereka. Tapi lebih pada hal yang semata-mata Proyek belaka.

Karena itu Perenungan ini sangat penting. Bukan hanya sekedar merenung, tapi juga melihat realitas yang ada. Kita harus melihat dengan realitas yang ada. Itulah yang diharapkan dari Pameran ini. Dan semoga Kebudayaan menjadi Prioritas utama dalam membangun Bangsa ini.

Oleh : DP.Ganatri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: