“…Menjelajah RANAH Menembus RANTAU…” Ekspresi Keprihatinan Seniman Minangkabau


Kali ini tim redaksi PENANTRA News (Perhimpunan Nasionalis Nusantara) kembali melangkahkan kami memasuki suatu ruang Pameran Lukisan yang membawa tim redaksi seperti dibawa berkunjung ke tanah Minangkabau Sumatra Barat.Seorang ibu pengunjung pameran ini yang berpapasan dengan tim redaksi di pintu masuk langsung mencurahkan perasaannya pada kami bagaimana ibu tersebut merasa terobati kerinduannya akan kampung halaman tanah Minangkabau setelah melihat lukisan-lukisan dari Kamal Guci tsb. Ini adalah pertama kali nya PKJ-TIM memberi kesempatan kepada Kamal Guci, seorang pelukis dari Padang Pariaman-Sumatra Barat berpameran di Galeri Cipta II-TIM Jakarta. Pameran berlangsung mulai tanggal 28 Juni – 07 Juli 2011. Mulai pukul 10.00 – 21.00 Wib.Kamal Guci lahir dan dibesarkan di dusun Sarang Gagak Kenagarian Pakandangan tanggal 13 Oktober 1960.Kerisauan dan keprihatinan Kamal Guci akan kampung halamannya Minangkabau sangat terlihat nyata dalam lukisan-lukisannya. Sehingga membuat masyarakat umum yang belum mengenal betul adat istiadat dan budaya Minangkabau berpikir ada apa dengan Minangkabau. Apa yang terjadi di sana. Mengingatkan dan menggugah masyarakat Minangkabau khususnya untuk kembali kepada adat istiadat dan budayanya, dan masyarakat umumnya. Karena apa yang tertuang dalam lukisan-lukisan Kamal Guci pun sebenarnya terjadi di semua daerah di Bumi Nusantara Indonesia ini. Rumah-rumah Gadang yang rusak parah, Surau-suraunya yang roboh, gempa bumi, Malin Kundang yang durhaka, kisah sedih Siti Nurbaya tertuang dalam Lukisan-lukisan Kamal Guci yang berjudul Ironi Minangkabau, Terlupakan, Peristiwa Gempa Lubuak Cumanak Tandikek, Balerong, Terkubur, Sibunuang Pulang, Singalang ditelan kabut, Robohnya Surauku, dll. Saya menggambarkan Minangkabau dalam bentuk alamnya dan melihat ke dalamnya yaitu budaya Minangkabau khususnya itu sudah hampir hilang. Bila berlanjut kehidupan seperti ini tidak ditanggulangi maka akan terjadi seperti legenda-legenda Malin Kundang atau Siti Nurbaya di mana hilangnya tata cara dalam kehidupan Budaya ungkap Kamal Guci.Ada 3 faktor filosofi yang ditonjolkan dalam lukisan ini yaitu Tempat, Manusia dan Alamnya.Terlihat Surau yang roboh di mana adalah merupakan tempat yang menonjolkan agama dengan Rukun Islamnya, di mana di sana orang Minangkabau menuntut ilmu akhirat dan bagaimana kehidupan setelah mati. Tapi kini di sana orang bicara tentang ekonomi, politik, dan partai-partai.

"...Bersama Kamal Guci Sang Pelukis Yg Berkaos Hitam..."

Peranan alim ulama di sini yang utama. Namun kini peranan mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Maka saya meramalkan kondisi Surau ke depannya akan roboh seperti ini.Rumah Gadang di mana ada kehidupan di sana yang mempunyai adat istiadat yang bagus. Dengan Ampat Ronjongnya. Filosofi Ampat Ronjong ini seperti Saio Sakato(seia sekata) yaitu sama besar bicaranya. Bila kita bicara pada orang yang besar (tua) itu adalah tempat bertanya. Kalau bicara pada orang yang kecil (muda) kita harus bicara menurun yaitu menasehati. Jadi ada tingkatnya cara bicara. Tapi itu semua sekarang sudah hilang. Yang tua tidak pernah dimuliakan lagi. Yang kecil (muda) tidak pernah di beri Nasehat. Hal ini menghancurkan Budaya. Tidak ada lagi warna Minangkabau. Kalau tak ada warna sopan santun lagi maka Indonesia warna hidupnya tidak ada lagi. Indonesia punya Budaya dan Ibu Pertiwi. Minangkabau punya Bundo Kanduang.Kerinduan Bundo Kanduang pulang ke Rumah Gadang melihat kondisi rumah gadang yang rusak parah, maka Beliau menangis. Bundo Kanduang itu harus bijaksana, tempat mengadu, tempat minta nasi. Seluruh ilmu ada pada Bundo Kanduang yaitu Ibu Pertiwi. Saya lihat Bundo Kanduang di Minangkabau sekarang sudah bergeser. Bukan tempat mengadu lagi. Karena kini tempat mengadu adalah kekuasaan dan uang. Mengadu kebenaran akan kocar kacir. Yang benar sedikit sekali. Yang batil banyak. Hal tersebut terjadi karena dosa-dosa Manusia. Tanyakan pada diri, maka jawaban yang pasti ada di sana. Perenungan pada diri sendiri itu penting. Maka kita akan mengenal diri. Dalam Malin Kundang mengandung makna pendidikan yang baik dari Bundo Kanduang yang sudah tidak dihargai, dilawan, diabaikan kata-katanya. Maka Bundo Kanduang menangis. Bila Bundo Kanduang sedih hatinya maka lebih berbahaya dari pada Beliau marah pada kita. Bila anaknya salah dia akan berdoa pada Tuhan agar anaknya diberi kebaikan. Jadi tidak ada kutukan dari Bundo Kanduang di Minangkabau sebenarnya. Kutukan pada Malin Kundang hanya kiasan.Bagaimana bila Bundo Kanduang bersedih maka sangat berbahaya.Seperti bila kita merantau, orang tua kita (terutama Ibu) tidak ihklas dan menangis. Maka lebih baik kita kembali pulang, karena akan sengsara di rantau.Perempuan yang bagaimanakah Bundo Kanduang…?

"...Lukisan Yg Berjudul Kehilangan...." Karya Kamal Guci

Yaitu perempuan yang berjalan di jalan Tuhan. Sebuah perkataan Bundo Kanduang memiliki hikmah. Sebuah senyum Bundo Kanduang merupakan nyanyian yang indah. Kedalaman pemahaman Kamal Guci akan budaya dan adat istiadat kampung halamannya Minangkabau melahirkan suatu karya-karya lukisan yang luar biasa. Yang mampu mewakili kondisi Minangkabau secara keseluruhan luar dan dalam.Dalam lukisan Ayam Biriak, Kamal Guci menjelaskan bahwa ayam pun memiliki filosofi di Minangkabau. Ada 4 jenis ayam di Minangkabau yaitu Ayam Biriang, Ayam Kinantan, Ayam Kuriak Bungo Tabu, dan Ayam Tadung. Ayam Biriang warna bulunya merah, fungsinya sebagai penjaga. Yaitu menjaga dan melindungi sanak saudara, istri dan kerabatnya.Dalam kehidupan manusia ibaratnya adalah harus kuat benteng kita untuk melindungi dan menjaga dari Iblis, dll.Dalam Ayam Kuriak Bungo Tabu dengan bulu-bulunya yang indah dan kokoknya yang bagus, melambangkan dalam hidup kita harus berkesenian yang indah yaitu berbudaya. Ayam Tadung adalah ayam untuk kesehatan. Biasanya untuk pengobatan, maka warnanya hitam. Dagingnya dan darahnya untuk obat. Daerah lain mengenal sebagai Ayam Cemani. Ayam Kinantan bulunya putih. Berkokok di pagi hari mengingatkan pada Yang Kuasa. Maka ayam Kinantan ini melambangkan kesucian dan ketauhidan. Saya menghimbau kembali manusia untuk kembali ke jalan yang benar, melihat pada lokal budayanya sendiri yang sekarang sudah hilang. Kembalilah ke daerah sendiri, ingat budaya sendiri, diri sendiri, baru kita merantau.Maka selamatlah Indonesia menjadi Indonesia yang bagus. Karena Indonesia dulu tidak seperti ini. Seperti yang saya gambarkan dalam lukisan-lukisan saya yang menggambarkan keindahan alam Minangkabau dan Rumah Gadang yang indah dan megah. Dari seni rupanya dan musiknya yang indah. Yang kini sudah mulai hilang dari Ibu Pertiwi, ungkap Kamal Guci lagi. Saya mengajak kembali ke Ranah kelahiran. Setelah tahu budaya itu ada maka Indonesia betapa indahnya. Hal ini juga diungkapkan oleh Datuk Suponobasa Eddy Ramadhan Chaniago sebagai tim penyelenggara pameran lukisan Kamal Guci ini dimana sesuai dengan inti dan tujuan tema pameran bahwa Jakarta ini adalah sentral pertemuan semua etnik. Jakarta terdiri dari berbagai suku bangsa yang mempunyai kultur atau budaya yang berbeda. Ia mengajak agar jangan menutup mata dengan pergeseran-pergeseran budaya yang terjadi. Seperti di Minangkabau yang kelihatannya begitu beragama dengan adat istiadatnya, namun itu semua kini hanyalah simbolik. Dan saya rasa hal ini juga terjadi di daerah-daerah lain baik di Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Papua atau Maluku. Sebuah negara tanpa Budaya maka akan hancur.Karena Budaya adalah identitas bangsa. Sekarang kita lihat Pemerintah kurang dalam perhatian pada Budaya. Mereka cenderung hanya memikirkan ekonomi dan politik. Khususnya bagi orang Minangkabau cobalah untuk mendengar cerita-cerita nenek moyang dan leluhur.

"...Lukisan Malin Kundang..." Karya Kamal Guci

Bila ada orang Minang yang tidak melihat Pameran ini maka suatu kerugian besar. Karena di sini bicara tentang keindahan alam Minangkabau, kehancuran Minangkabau, dengan gempa yang meruntuhkan Minangkabau. Gempa moral, gempa budaya lalu gempa bumi. Melihat kondisi Rumah Gadang yang hancur, sebagai seorang Datuk dia sangat prihatin. Karena Rumah Gadang adalah simbol. Di sana tempat segalanya. Seorang Datuk bila tidak memiliki Rumah Gadang maka adalah pertanda adatnya sudah hilang. Dan hal itu terjadi di Minangkabau. Banyak Datuk-Datuk yang tidak lagi memiliki Rumah Gadang, karena mereka tidak memahami makna Rumah Gadang. Datuk adalah pemimpin (kepala suku) dalam satu kaum yang terdiri dari beberapa Rumah Gadang. Namun kini Datuk-Datuk itupun bukan orang yang sebenarnya berhak menjadi Datuk. Ketika ada seorang keturunan Datuk tapi terbentur masalah ekonomi untuk membiayai proses sebagai Datuk maka hak Datuknya pun hilang. Dan bila ada yang memiliki banyak uang maka dia akan mencoba menjadi Datuk . Padahal dia bukan orang yang berhak untuk menjadi Datuk. Atau bukan keturunan. Pemberian gelar kehormatan tersebut pun banyak diberikan pada orang luar yang bukan orang Minangkabau. Dan tidak tinggal di Minangkabau. Sebenanya boleh saja gelar kehormatan diberikan tapi dengan syarat-syarat tertentu, yaitu orang tersebut tinggal di Minangkabau dan bermamakdi Minangkabau. Sehingga bila gelar tersebut diberikan pada orang luar yang tidak tinggal di sana maka tidak akan ada gunanya bagi Minangkabau. Karena gelar-gelar itu adalah Pusaka yang diperuntukan untuk kemenakan-kemenakan. Maka hal ini pun merupakan suatu pergeseran Budaya. Yang akhirnya dapat menghancurkan Minangkabau. Karena Budaya sudah tidak lagi dipertahankan dan di manipulasi untuk kepentingan-kepentingan Kekuasaan, Ekonomi dan Politik. Dengan melihat dan merenungkan makna dari Pameran Lukisan ini maka kita semua dapat melihat betapa Budaya Indonesia begitu kaya dengan ajaran-ajaran moral, etika, keTuhanan, keindahan, dan Cinta Kasih.

Oleh : Albert Dody Richmant

2 Tanggapan

  1. Owww… rarak badampuang, bagamurouh bana ko a hati jo jantuang satalah mamaniak-maniak cipratan tinta da Guci tu. Memang menakjubkan…. ndeh mandeh… ambo samakin taragak bana ka kampuang halaman jadinyo mah satalah sato lo manjalajah di dalam lembaran ko mah. Tarimo kasih uda-uni, kok gadang nan indak basabuik gala nan ketek indak basabuik namo. selamat dan samoga sukses se buek uda wak Guci yo da. Semoga dengan hadirnyo kritik konstruktif ko awak basamo mulai saling berbenah untuak ka muko. Agar a nan dicipratan da Guci menjadi serba tabaliak sadonyo. dan itulah nan samo awak karajokan dan kito tunggu. Amin…. Wassalam

    • Trims ya atas apresiasinya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: