“…Pentas Musikal LASKAR PELANGI…” Kembali Menuai SUKSES


“…Musikal Laskar Pelangi kembali membuktikan masih mampu menyedot perhatian publik. Setelah sukses yang diraih pada akhir tahun 2010 lalu, maka pada tanggal 1 – 11 July 2011 Musikal Laskar Pelangi kembali dipentaskan di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Kali ini Miles Productions dan Link Entertainment menggandeng kerjasama dengan Signature Musik Indonesia.Para Kreator Musikal Laskar Pelangi yaitu Mira Lesmana, Riri Riza, Erwin Gutawa, Jay Subyakto, Hartati dan Toto Arto kembali harus bekerja keras untuk mempersiapkan kembali pementasan yang didukung oleh 100 pemain dan musisi ini. Di mana dalam pementasan sebelumnya mampu menyedot sekitar 25.000 penonton.Dan antusiasme penonton tetaplah besar, terlihat saat penjualan tiket hari pertama pada 10 Juni 2011 yang lalu, ticket langsung sold out.

Kisah Laskar Pelangi yang diangkat dari tetralogi novel Bestseller karya Andrea Hirata diterjemahkan ke dalam bentuk layar lebar pada akhir 2008 dan berhasil memecahkan rekor film Indonesia dengan jumlah penonton bioskop terbanyak di Indonesia, yaitu 4,6 juta penonton. Film ini juga ditayangkan di berbagai penjuru dunia, dan ditayangkan di 20 festival film internasional di 5 benua. Dan meraih beberapa penghargaan bergengsi, seperti Audience Award di Italia, Golden Butterfly Award di Hamedan-Iran dan Best Picture Award di Taiwan.

"...Jay Subiakto..." Production Designer Pentas Musikal Laskar Pelangi

Tahun 2010 produser bertangan dingin, Mira Lesmana kembali membuat gebrakan dengan menggelar pertunjukan musikal mengangkat kisah Laskar Pelangi. Mira Lesmana yang juga menulis lirik lagu dalam musikal ini merangkul seniman-seniman papan atas nasional untuk bekerjasama merangkum kisah Laskar Pelangi menjadi seni pertunjukan multi dimensi, melebur musik, dialog, gerak tari, dan estetika panggung menjadi satu kesatuan cerita yang memukau.Untuk pertunjukan di tahun 2011 ini, Mira Lesmana menjelaskan pada PENANTRA News (Perhimpunan Nasionalis Nusantara), bahwa dalam pertunjukan kali ini ada perbedaan sedikit. ” Sebenarnya di dalam suatu pertunjukan musikal bila ada pengulangan seharusnya tidak berubah. Seperti standard Broadway pun tidak berubah. Walau sudah bertahun-tahun. Sehingga saat main di manapun, baik di kota lain maupun negara lain tetap sama. Hanya untuk Laskar Pelangi ini, para kreator-kreator Laskar Pelangi memang memberi beberapa adegan yang tidak sempat kami selesaikan pada sesi pertama.Di sesi kedua ini kami jalankan. Ada satu adegan yaitu saat working song sebelum anak pesisir dan beberapa tambahan dalam dialog.Sementara dari film ke musikal memang perlu adaptasi baru. Saya melihat ulang lagi novelnya”.

"...Pentas Musikal Laskar Pelangi..."

” Tapi karena saya sudah terbiasa menonton musikal maka saya sudah terbiasa dengan formatnya. Jadi tidak ada kesulitan”, ungkap Mira Lesmana lebih lanjut. Sementara untuk Andrea Hirata yang punya cerita untuk kali ini tidak terlibat, tapi ia sendiri memang membebaskan untuk berkreasi.

Laskar Pelangi mengisahkan tentang 10 orang anak-anak dari para buruh pekerja di PN Timah Kampong Gantong Belitong yang karena kondisi ekonomi yang lemah membuat mereka tidak dapat bersekolah di tempat yang baik. Namun dengan semangat yang besar dan karena pengabdian yang tulus dari Pak Harfan dan Ibu Muslimah selaku guru di sebuah sekolah Muhammadiyah yang kecil maka mereka dapat mewujudkan cita-cita untuk bersekolah. Ada Lintang yang anak pesisir, yang membutuhkan waktu hingga 8 jam perjalanan dengan sepeda untuk mencapai sekolah tersebut, dan ada Ikal sahabat Lintang di sekolah tersebut. Serta anak-anak lain yang memiliki karakter dan bakat yang berbeda-beda.Keadaan mereka berbanding terbalik dengan sekolah dasar PN Timah yang megah dan murid-muridnya yang berasal dari golongan elite dan berduit.Hal tersebut sangat kontras dengan sekolah Muhammadiyah mereka yang kecil,bangunannya sudah mau roboh, atap bocor dan kerusakan di sana-sini.

Dari awal hingga akhir pertunjukan Musikal Laskar Pelangi ini benar-benar menjadi suatu pertunjukan yang menarik, menghibur dan dengan mudah dapat dipahami khususnya bagi anak-anak yang memang menjadi sasaran utama pertunjukan ini.Di mana disana mengandung suatu ajaran tentang persahabatan, semangat dalam menuntut ilmu, kepedulian pada lingkungan sekitar dan rasa percaya diri.Namun hal ini tidak terlepas dari para penontonnya masing-masing.Karena setiap orang pasti punya sudut pandang yang berbeda-beda.

"...Mira Lesmana..." Script & Song Lyric untuk Teater Musikal Laskar Pelangi

Audisi dilakukan untuk mencari para talent baru untuk menggantikan beberapa pemain di Musikal Laskar Pelangi sesi pertama lalu. Dan audisi yang ketat ini terpilih para pemain yang memang memiliki bakat-bakat dan prestasi, sehingga benar-benar dapat mendukung dengan baik pementasan Musikal Laskar Pelangi ini. Dan dari sini dapat terlihat betapa sebenarnya banyak dari bangsa ini yang berbakat.Design Artistic yang baik juga sangat mendukung suksesnya pertunjukan ini. Dan terlihat benar-benar diperhitungkan dengan cermat sampai kepada hal-hal yang sekecil mungkin untuk dapat menampilkan alam dan kondisi di Belitong.Sehingga penonton benar-benar dibawa kepada suasana di Belitong.

Production Designer Jay Subyakto menyatakan pada PENANTRA News bahwa untuk mendapatkan suatu design artistic yang demikian ia survei langsung ke lokasi, meneliti dengan seksama alam di sana baik savana, jenis bebatuan, kondisi alam dari pagi hingga petang, bahkan sampai warung/toko tempat berjualan dan jenis-jenis barang-barang di warung/toko tersebut serta apa yang dijual di sana.Dan itu berbeda dengan warung-warung/toko-toko di tempat lain.” Di pertunjukan ini saya tidak ada referensi dari luar. Saya tidak suka membuat sesuatu yang mirip Broadway atau western. Harus musikal yang asli Indonesia.Karena sebenarnya dulu juga sudah ada seperti Miss Cici, Dardanela, dan Wayang Barata. Kita sudah punya sendiri, Jadi untuk apa melihat keluar. Di dalam sebuah musikal harus memiliki jagoan yang bisa semuanya”.

"...Pentas Musikal Laskar Pelangi..."

” Seperti dalam pertunjukan Operet Papiko di TVRI pada tahun 80an, pemrakarsanya adalah Almarhum Bpk Mus Mualim. Karena dalam semua namanya operet yang dasarnya adalah musik pasti musiknya dulu yang harus enak. Musik itu liriknya harus bisa bertutur dan sesuai dengan jalan ceritanya”.

“Dan semua yang terlibat juga menjadi kekuatan, tidak hanya satu orang saja.Namun untuk daerah, kami bukan tidak ingin mengadakan di sana, tapi masalahnya karena fasilitas gedungnya belum ada.Baru di Theater Jakarta TIM ini yang memadai. Di mana di tempat lain fasilitas fly barnya tidak ada. Jadi bukan ukuran dari gedung atau panggungnya, tapi fasilitasnya yang tidak memadai. Bahkan di TIM inipun sebenarnya masih jauh dari memuaskan, tapi sudah cukup baik dan dapat dipergunakan untuk pertunjukan musikal Laskar Pelangi ini” , ungkap Jay Subyakto lebih lanjut.

Untuk karya-karya kedaerahan, Jay Subyakto juga pernah membuat Matah Hati. Sebuah pertunjukan berbahasa Jawa. Yaitu mengenai Mangkunegaran I R.M. Said. Pangeran Samber Nyawa. Jay Subyakto menampilkannya di luar negri. Dan tetap harus dengan bahasa Jawa, tidak boleh diubah ke bahasa lain. Karena bila main di dalam negeri maka pementasan tersebut tidak akan laku. Dengan alasan Wayang membuat ngantuk.

"...Jay Subiakto dan Redaksi PENANTRA News..."

“Kondisi di Indonesia ini orang-orangnya kurang menghargai karya bangsa sendiri. Mereka cenderung mencari-cari kesalahan dan setengah-setengah. Sehingga harus main di luar negri dahulu. Saat saya main di Singapura dan Pers Singapura memuji serta sukses, barulah saat main di sini bisa Sold Out “, tegas Jay Subyakto.Menyoroti masalah Budaya yang menjadi satu dengan Pariwisata, Jay menyatakan bahwa sebenarnya saya dengan Alm. Fuad Hasan, Herawati Diah, Alm. Iwan Tirtha, Ishadi, dll pernah membuat Lembaga Kebudayaan Indonesia, agar dipisah antara Kementrian Budaya dan Kementrian Pariwisata.

” Karena sama sekali tidak ada hubungannya.Kebudayaan bukanlah kesenian. Dan Kesenian hanyalah bagian kecil dari Kebudayaan. Kebudayaan adalah apa kita dan apa yang kita hasilkan untuk negeri ini. Orang tidak pernah tahu. Bila digabung antara Budaya dan Pariwisata maka yang akhirnya yang terjadi adalah kebudayaan dijual untuk Pariwisata. Namun para pemimpin tidak mengerti, jadi kita harus berjuang sendiri. Saya tidak menganggap mereka ada”.

Dari Laskar Pelangi ini kita dapat melihat dan belajar bagaimana menghargai karya anak-anak negeri. Walau alur ceritanya sebenarnya sederhana dan banyak cerita yang sama sering ditampilkan, namun dengan penyajian yang sangat apik, teliti dan tidak asal-asalan maka Laskar Pelangi memiliki suatu nilai lebih yang dapat dibanggakan bagi para kreator, para pemain dan bagi negeri ini.

Oleh : Santi Widianti

Satu Tanggapan

  1. mauuuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: