“…Menelusuri JEJAK Kelam STADUISH…”


Gedung Staduish yang kini dikenal dengan Museum Sejarah Jakarta seakan menjadi saksi bisu segala hal yang terjadi di sana. Setelah 300 tahun berdiri, gedung ini masih berdiri dengan kokoh dan menyimpan misteri nya sendiri. Memandang dan memasuki nya membuat kita merasa Gedung Staduish ini berbicara banyak melalui kebisuannya. Walau kini hiruk pikuk Kota Tua yang tidak pernah sepi dari pengunjung selalu mewarnai Gedung ini, namun tetap tidak dapat menutupi sejarah masa lalu dan segala peristiwa yang terjadi di Gedung ini. Bersama redaksi PENANTRA News, mari kita melongok dan meneropong ada apa dengan Gedung ini. Peristiwa dan misteri apa yang terkandung di dalamnya. Gedung Staduish ini menyimpan banyak kenangan sejarah yang berisikan kisah tragedi, sedih, gembira dan kemeriahan.

"...Bekas Tempat Pangeran Diponegoro di Tawan..." Kini Menjadi Ruang Perpustakaan

Semuanya terjadi di dalam gedung, di kawasan sekitar gedung, dan juga di lapangan luas di muka gedung. Gedung Staduish (Balai Kota ) ini dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jenderal JP Coen. Namun setelah sempat hancur karena di bakar oleh pasukan Mataram pimpinan Sultan Agung yang menyerang Batavia tahun 1628 dan 1629 maka pada tahun 1707-1710 gedung Staduish di bangun kembali yaitu pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham Van Riebeck. Penyerangan Batavia oleh Sultan Agung dari Mataram terjadi bermula saat Sultan Agung akan mulai menguasai Banten yang pada masa itu sudah dalam kekuasaaan Belanda. Sultan Agung adalah raja Mataram yang tidak mau berkompromi dengan VOC. Karena posisi Batavia yang menjadi penghalang untuk menyerbu Banten, maka Batavia perlu direbut lebih dahulu. Bulan April 1628 Kyai Rangga Bupati Tegal menjadi duta ke Batavia menyampaikan tawaran damai dengan syarat tertentu dari Mataram. Sekaligus Kyai Renggo menjadi intelegen untuk melihat kekuatan benteng-benteng Belanda.

Tawaran dari Mataram ditolak oleh pihak VOC sehingga perang menjadi pilihan selanjutnya. Maka pada bulan Agustus 1628, pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Bahurekso (Bupati Kendal) tiba di Batavia. Pasukan kedua tiba bulan Oktober 1628 dipimpin Pangeran Mandureja (cucu Ki Juru Mertani). Total semuanya 10.000 prajurit.

"...Ibu Tuty Kepala Bagian Perpustakaan (Kiri) dan Redaksi PENANTRA..."

Perang besar terjadi di Benteng Holandia. Namun dalam pertempuran pasukan Mataram mengalami kekalahan karena jauhnya jarak Mataram-Batavia, kekurangan logistik dan pasokan air. Namun Sultan Agung tidak berhenti begitu saja. Serangan kedua dilancarkan. Pada tahun 1629 kembali menyerang Batavia. Kali ini dengan persiapan lebih baik. Lumbung-lumbung perbekalan disiapkan di jalur yang dilalui pasukan Mataram, yaitu di Karawang dan Cirebon.Namun kembali kegagalan dialami pasukan Mataram karena penghianatan yang dilakukan oleh Tumenggung Endranata yang membocorkan siasat pertempuran dan keberadaan lumbung-lumbung padi dan perbekalan. Akibatnya lumbung-lumbung itu kemudian dibakar tentara Belanda (VOC). Namun walau serangan gagal, Gubernur Jenderal JP Coen berhasil dibunuh. Pasukan Mataram mengotori Sungai Ciliwung dengan kotoran-kotoran sehingga terjadi wabah kolera. Dan JP Coen tewas karena terkena wabah kolera. Gedung Staduish pun sempat dibakar oleh pasukan Mataram. Sementara Tumenggung Endranata yang berkhianat ditangkap dan dipenggal kepalanya. Untuk memperingatkan rakyat Mataram agar penghianatan itu tidak terjadi lagi, maka tubuh tanpa kepala Tumenggung dikubur di salah satu kaki tangga ke Makam Imogiri agar semua orang bisa menginjak tubuh penghianat itu. Namun ada versi lain yang menyebutkan bahwa tubuh tanpa kepala yang dikuburkan di sana adalah tubuh JP Coen sendiri sebagai simbol kebencian terhadap penjajahan.Sekarang ini kita dapat melihat lukisan tentang penyerangan Sultan Agung dari Mataram itu di salah satu dinding di Museum Sejarah Jakarta (Gedung Staduish) tersebut karya seniman Sudjojono.

"...Ruang Lukisan Mural..." Karya Harjadi.S

Disana terlihat Sultan Agung yang duduk dengan gagahnya di singgasananya, pertempuran pasukan Mataram dengan VOC dan Kyai Rangga dengan JP Coen saat diperintah untuk melakukan perundingan damai dan mematai-matai Benteng VOC (Belanda). Pada tahun 1710-1816 Gedung Staduish digunakan sebagai Balai kota Batavia.

Dan pada tahun 1816-1905 digunakan sebagai Kantor Residensi Batavia. Selain menjadi Balai Kota, Gedung Staduish juga memiliki penjara-penjara bawah tanah yang dipakai untuk memenjarakan budak-budak yang melanggar hukum dan memberontak. Budak-budak tersebut berasal dari Bali, Ambon, Jawa, India dan Cina. Pada tahun 1830,Pangeran Diponegoro, istrinya dan beberapa pengikutnya pun pernah ditahan di Gedung Staduis ini selama 1 bulan lamanya sebelum dibuang ke Manado. Perang Jawa yang terjadi tahun 1825-1830 yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro mulai meletus disebabkan saat pemerintahan Hindia Belanda di Jogjakarta hendak membangun jalan yang melintasi tanah pribadi di Tegal Rejo milik nenek Pangeran Diponegoro tanpa izin dari nenek Pangeran Diponegoro dan Pangeran Diponegoro sendiri. Hal ini membuat Pangeran Diponegoro sangat marah. Kebenciannya kepada Hindia Belanda selama ini semakin memuncak. Pada tanggal 20 Juli 1825 maka pecahlah perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

"...Penjelasan Tentang Meriam si Jagur..." Oleh Petugas Museum kpd Redaksi PENANTRA

Di Tegal Rejo berdasarkan hasil musyawarah rakyat di Dekso memutuskan mengangkat Pangeran Diponegoro sebagai Sultan dari Kerajaan Jogjakarta dengan gelar Sultan Hamid Herutjakra Amirul Mukminin Sajidin panatagama Kalifatullah Tanah Jawa. Daerah operasi Perang Jawa bukan hanya di Jogjakarta tapi meluas sampai Kroya Tegal dan Madiun.Sampai tahun 1827 sebenarnya Pasukan Pangeran Diponegoro berada dipihak yang unggul. Namun pada tahun ini juga keunggulan Pangeran Diponegoro menurun karena antara lain ditinggalkan saudara dan sahabatnya yaitu Kyai Maja, Sentot Prawiradirja dan Pangeran Mangkubumi. Lalu pada tanggal 28 Maret 1830 melalui suatu siasat licik yang dilakukan De Kock dalam suatu perundingan. Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang. De Kock lah yang paling bertanggung jawab atas penangkapan yang dilakukan terhadap Pangeran Diponegoro. Hal ini terungkap dari surat perintah rahasia yang diberikan De Kock kepada Kolonel Du Perron dan Mayor Michiels untuk menangkap Pangeran Diponegoro bila tindakan paksaan diperlukan. Pangeran Diponegoro lalu dibawa ke Batavia, tepatnya Gedung Staduish. Beliau tidak ditempatkan di penjara bawah tanah, tapi di sebuah ruangan di gedung sayap kiri lantai 2 Gedung Staduish. Sekarang tempat tersebut dipergunakan sebagai Perpustakaan Museum Sejarah Jakarta. Pangeran Diponegoro tidak di penjara bawah tanah karena Beliau seorang Pangeran atau Raja, sehingga ditempatkan di tempat yang lebih terhormat dan dipisahkan dari tahanan-tahanan lain yang merupakan budak-budak. Pangeran Diponegoro hanya ditahan 1 bulan di sana, karena kekhawatiran Belanda akan serangan dari para pengikut Pangeran Diponegoro di Jawa bila mendengar Pangeran Diponegoro ditahan di sana. Pangeran Diponegoro, istri dan beberapa pengikutnya kemudian dibuang ke Manado.

"...Bpk Slamet Suyanto Petugas Museum...." Memberi Penjelasan kpd para Siswa Sekolah Dasar Pengunjung Museum

Lalu Pangeran Diponegoro dan istri nya di pindahkan ke Makassar sampai wafatnya 8 Januari 1855. Sedangkan para pengikutnya tetap di Manado. Pada tanggal 1 Januari 1964, Presiden Soekarno pernah memberikan penjelasan tentang cita-cita dan perjuangan Pangeran Diponegoro sebagai berikut “Diponegoro adalah satu figur yang besar, satu ulama yang linuhung, satu orang yang takut kepada Allah SWT, orang yang beragama Islam, yang cinta pada agama Islam itu, dan tidak berhenti-henti dia mengemukakan bahwa salah satu tujuan Beliau adalah agungnya agama Islam ini !” Selain Pangeran Diponegoro, pahlawan lain yang pernah ditahan di Gedung Staduish adalah Cut Nyak Dien dan Untung Surapati. Namun Untung Surapati hanya satu hari di tahan. Dia berhasil melarikan diri. Karena sebagai budak di sana, dia sangat mengenal seluk beluk Gedung Staduish dan waktu-waktu pergantian petugas jaga. Sebagai pusat pemerintahan Batavia, dari gedung ini dikeluarkan berbagai kebijakan yang berdampak pada kehidupan pemukiman warga Cina di kota ini, baik pada masa kekuasaan VOC (1620-1800) maupun di bawah pemerintahan Hindia Belanda (1817-1942). Di kawasan gedung ini pula, yang oleh akibat paksaan kebijakan pemerintah kolonial kegiatan niaga pemukim Cina dipusatkan dan terkonsentrasi di kawasan Glodok yang sampai hari ini masih tetap memiliki posisi kuat dalam perekonomian negara. 8 Oktober – 10 Oktober 1740 sebanyak 500 orang tahanan Cina di Stadhuis di hukum pancung oleh VOC pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Adriaan Valckenier karena adanya peristiwa pemberontakan warga Cina saat itu, saat pemerintah VOC mengeluarkan aturan orang Cina di Batavia harus memiliki ijin tinggal. Akibat dari semakin banyaknya orang Cina di Batavia. Bila tidak memiliki surat ijin maka mereka dikirim ke Srilangka. Tanggal 30 Maret 1974 Gedung Stadhuist ini diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin. Perbendaharaan koleksi Museum ini mencapai lebih dari 23.000 buah. Di antaranya adalah Meriam Si Jagur, replika prasasti (Prasasti Ciaruteun, Prasasti Tugu, Prasasti Padrau), Arca Wisnu, Arca Ganesha, dll. Ada pula lukisan Perang antara Sultan Agung dengan VOC karya Sudjojono dan lukisan Mural karya Harjadi S. yang menggambarkan masa pendudukan VOC. Namun sayang lukisan dinding yang dibuat tahun 1974 atas perintah Gubernur Ali Sadikin dan menempati dinding salah satu ruangan yang luas di Museum ini belumlah selesai, karena Harjadi S. meninggal dunia. Dan hingga saat ini tidak diteruskan. Dan lukisan Mural ini tidak dibuka untuk umum,di karenakan kondisi cat lukisan Mural tersebut yang sudah sangat sensitif terhadap pengaruh udara atau cuaca.Sehingga di khawatirkan akan kian memperparah kondisi lukisan Mural tersebut,apabila terlalu sering mendapat pengaruh udara luar. Gedung Stadhuis ini mungkin akan menambah panjang sejarahnya di masa yang akan datang. Sejarah yang akan senantiasa terukir selama roda kehidupan ini masih terus bergulir.

Oleh : DP.Ganatri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: