“…Sejarah ISLAM di PADJAJARAN…” Seminar Sehari Napak Tilas Islam Jawa Barat


“…BOGOR – Napak Tilas Islam di Bogor menjadi tema besar dari Acara Seminar Sehari yang diselenggarakan oleh Majelis Nadhatul Ulama Sekretariat Cabang Kabupaten Bogor pada hari Minggu, 3 Juli 2011 lalu. Pada acara yang dibuka oleh sejumlah tokoh masyarakat ini, disampaikan pula sebuah makalah berjudul Berkembangnya Islam di Padjajaran yang dibawakan oleh Budayawan Eman Soelaeman dari Yayasan Hanjuang Bodas, Bogor.

Dalam kesempatan tersebut, Budayawan Sunda Eman Sulaeman sangat mengapresiasi itikad baik NU yang mengangkat tema Sejarah Islam di Padjajaran. Karena belum pernah ada sebelumnya seminar yang membahas hal tersebut secara spesifik. Alhasil, masyarakat lebih percaya kepada Mitos dan Cerita Legenda bahwa yang menyebarkan Islam untuk pertama kalinya di Tatar Sunda adalah Prabu Walang Sungsang, anak dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, padahal Islam telah diterima di tanah Sunda puluhan tahun lebih awal.

Berbicara mengenai Sejak Kapan dan Siapa Tokoh yang mengembangkan Ajaran Rasullulah Muhammad di Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran tentunya tidak akan tuntas dalam sehari, namun Abah Eman berusaha menyampaikan sejarah tersebut dengan ringkas dan menarik antusias hadirin yang datang. Diakui oleh Budayawan Sunda Abah Eman Sulaeman bahwa untuk mendapatkan kajian keterangan yang otentik tentang Sejarah suatu daerah, tidak dapat hanya menggali dari opini masyarakatnya atau kirata (kira-kira nyata).

"..Peserta menyimak jalannya seminar.."

Sejarah Sunda, seperti uraian perjalanan sejarah Kerajaan Pakuan Padjajaran khususnya,telah berbaur dengan berbagai bentuk cerita dan pendapat yang kirata, seperti Cerita Rakyat, Legenda, Cerita Pantun, Wawacan, Dongeng, yang semuanya memiliki Pesona Cerita atau Penggambaran Konotatif yang tentunya tidak sebenarnya terjadi dan perlu diterjemahkan kembali makna kejadian sebenarnya yang hendak disampaikan si pengarang cerita agar memiliki bobot, setidaknya secara otentik dapat diterima.

Perjalanan panjang sejarah Islam di Padjajaran tidak terlepas dengan Sistem Agama dan Pemerintahan yang berlaku sebelumnya. Kerajaan Sunda Pakuan Padjajaran merupakan kerajaan paling berpengaruh di tanah Sunda kala Agama Islam masuk ke Nusantara. Mengacu kepada Prasasti Batutulis, Kabantenan, dan Kawali, Kerajaan Tarumanagara sebagai penguasa Tatar Sunda sebelumnya mengalami kemunduran di akhir abad ke-7 M. Inilah yang mengakibatkan lahirnya kerajaan-kerajaan kecil yang memisahkan diri dari Tarumanagara, yaitu Kerajaan Kuningan, Galuh, dan Sunda.

Kerajaan Sunda didirikan sejak tahun 669 Masehi oleh Maharaja Tarusbawa dan pada saat diwastunya Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata atau Ratu Dewataprana, atau Pamanahrasa, yang lebih dikenal sebagai Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, kerajaan-kerajaan kecil tersebut menyatu menjadi satu pemerintahan Kerajaan Sunda Pakuan Padjajaran yang beribukota di Bogor.

"..Prasasti Batutulis.." Memoar kebesaran nama Prabu Siliwangi

39 tahun lamanya masa pemerintahan Prabu Siliwangi (1482 – 1521), dan selama itu Kerajaan Sunda Pakuan Padjajaran memiliki 6 buah Pelabuhan, yaitu Banteun, Pontang, Cigeude, Tangerang, Kalapa, dan Cimanuk. Sistem kerajaan Agraris-Maritim yang diterapkan pada masa itu menyebabkan kemajuan pesat di bidang Perdagangan Internasional.

Lembaga pengajaran keagaamaan ada dua yaitu Kabuyutan dan Kapendetaan. Ditetapkan pula lahan-lahan khusus yang disebut Lemah Larangan, Jayagiri, dan Nusa Sembada. Lemah Larangan adalah tempat pengajaran Keagamaan tapi keamanannya langsung di bawah tanggung jawab Raja. Oleh Prabu Siliwangi, Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak pernah kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin atau isu-isu yang mengoncangkan kewibawaan kerajaan. Senang sejahtera di utara, barat dan timur.

Dalam masa itu, dikenal kepercayaan sinkretisme Syiwa, Budha, dan Sunda Wiwitan sebagai kepercayaan yang dominan di masyarakat Sunda. Prabu Siliwangi pada Tahun 1337 M di Sunda Sembawa, selain membangun kabuyutan juga mendirikan Binayapanti, tempat para wiku serta putra-putri raja dan petinggi kerajaan mempelajari ilmu Sanghiyang Siksa (perundangan), Sanghiyang Darma (kepemimpinan), dan Jati Sunda (kepribadian bangsa serta etika moral).

"..Bukit Badigul.." di Rancamaya, Bogor

Kemudian Sang Maharaja membangun Gugunungan dekat Bukit Samaya sebagai tempat penyelenggaraan upacara keagamaan. Gugunungan itu adalah Bukit Badigul, dan Bukit Samaya adalah gunung Gadung (Samaya=Gadung), kedua lokasi tersebut kini berada di daerah Rancamaya Bogor. Bukit Badigul menjadi tempat perabuan raja-raja Sunda Pakuan Padjajaran, Bukit Badigul menjadi tempat perabuan Prabu Siliwangi pada akhir hayatnya (di sinilah nilai khusus Rancamaya). Mengingat kebesaran nama Siliwangi dan ketaatan beliau pada ajaran leluhur, maka Prabu Siliwangi adalah sosok pemimpin yang memiliki etika moral yang tinggi. Etika moral Jati Sunda yang dijiwai oleh etnis Sunda selama ratusan tahun sebelumnya menjadikan etnis Sunda sebagai etnis yang jujur, terbuka, dan cinta damai.

Budayawan Sunda Eman Sulaeman membuka tabir masuknya Islam ke Padjajaran, tidaklah melalui peperangan, seperti paham sebagian mitos yang tersebar. Adalah salah bahwa Penyerbuan Pasukan Cirebon, Demak, dan Bantenlah awal masuknya Islam ke Padjajaran. Atau legenda tentang pengejaran Walang Sungsang (Kian Santang) yang ingin mengislamkan ayahandanya, Prabu Siliwangi.

Wawancara dengan Narasumber "..Bapak Eman Sulaeman.."

Agama Islam masuk ke Tatar Pasundan pada abad ke-13, Islam masuk ke Tatar Pasundan diterima dengan terbuka oleh Prabu Siliwangi. Beliau merestui Agama Islam berkembang di Padjajaran dan mengizinkan bagi masyarakat Padjajaran yang meyakininya untuk menganut ajaran Islam. Ajaran baru tersebut masuk pertama kalinya ke Tatar Sunda oleh Ki Brata Legawa seorang Pangeran Kerajaan Sunda Galuh yang kaya raya dan berprofesi sebagai saudagar. Yang mana beliau telah melakukan banyak perjalanan ke Mancanegara di antaranya adalah : Maladewa, India,sampai akhirnya Tanah Suci Mekkah. Sebutan terkenalnya untuk sawaka Sunda saat itu adalah Haji Purwa Galuh. Selain berdakwah Ki Brata Legawa juga sering menyedekahkan hartanya sehingga menarik simpati masyarakat. Keturunan Ki Brata Legawa salah satunya adalah Syekh Quro yang mendirikan pesantren di Karawang pada abad ke 15 M, pesantren yang mengajarkan dasar-dasar Islam serta ilmu Al-Quran.

Nyatalah bahwa masuknya Islam ke Tatar Pasundan tidak dengan kekerasan. Selain itu pula, salah satu tonggak sejarah bagi Islam di Tanah Pasundan adalah saat Prabu Siliwangi memperistri Subang Larang yang beragama Islam, putri dari Ki Gedeng Tapa, juga santri dari Pesantren Syekh Quro, sebagai Ratu Padjajaran. Dari Permasuri Subanglarang lahirlah Walang Sungsang, Raja Sangara, dan Rara Santang. Walang Sungsang sendiri pada akhirnya menjadi mubaligh dan memimpin kadatuan di Cirebon.

"..Bersama Para Pengurus PCNU Kab.Bogor dan Narasumber.."

Menurut pemaparan Budayawan Sunda Eman Sulaeman, Penerimaan Ajaran Islam tidaklah mengakibatkan kemunduran kejayaan Padjajaran pada masa itu. Bahkan kerajaan Padjajaran sempat pula menjalin hubungan bilateral dengan bangsa Portugis dibidang politik, ekonomi, dan pertahanan pada tahun 1521 dengan Surawisesa (Putra Prabu Siliwangi dari Permaisuri Kentringmanik) yang oleh Portugis disebut Ratu Samiam (Ratu Sanghiyang). Yang memperkuat kedaulatan Kerajaan Sunda Pakuan Padjajaran secara Internasional.Demikian pentingnyalah Sejarah Islam digali dan dipelajari oleh para mubaligh, umat muslim masa kini.

Ketua PCNU Kabupaten Bogor, Doni Romdoni menyatakan, agar NU Bogor bisa menjadi Islam yang sebenarnya, harus mengetahui dulu sejarah Islam. Salah satu upayanya yakni dengan NAPAK TILAS.

"..Bersama Narasumber dan Pengurus PCNU Kab Bogor.."

Tentu yang dimaksud dengan Napak Tilas tersebut secara batin adalah dengan mengadakan seminar dan diskusi sejarah perkembangan Islam khususnya di Bogor, sedangkan secara lahiriah adalah melakukan sowan atau ziarah ke tempat-tempat suci dari tokoh mubaligh Islam itu sendiri kelak setelah mengetahui kiprahnya dalam sejarah perkembangan Islam. Napak tilas diadakan untuk meredam isu keberadaan Islam radikal yang makin marak. NU ingin meluruskan itu semua, agar masyarakat kembali ke ajaran Islam yang diterima dan diyakini para orangtua dahulu, yaitu Ajaran Islam yang Menghargai BUDAYA LOKAL dengan tanpa meninggalkan inti ajaran Islam itu sendiri. Kesadaran akan sejarah pulalah, Seperti ucapan Bung Karno “…Jangan Lupakan Sejarah…”, yang turut mengilhami terselenggaranya kegiatan ini. Budayawan Sunda Eman Sulaeman sendiri menganjurkan agar orangtua menanamkan kecintaan pada Sejarah sejak dini. Bagi Anak – anak berikanlah pengertian tentang Sejarah yang mudah-mudah, seperti sejarah nama tempat tinggal mereka, maka dengan sendirinya mereka akan belajar mencintai lingkungannya.

"..Marawis.." yang dibawakan anak-anak TPA Nurul Huda

Acara ditutup dengan doa dan Ramah Tamah. Kelompok Marawis TPA Nurul Huda turut memeriahkan acara Seminar Napak Tilas Islam di Bogor ini. Dengan penuh semangat mereka membawakan lagu-lagu bernuansa Islami mengiringi para hadirin yang beramah tamah.

Pihak NU menjelaskan bahwa acara Seminar ini tidak akan selesai untuk saat ini saja namun mereka akan rutin menyelenggarakan diskusi-diskusi dan akan mengundang Budayawan Sunda Eman Sulaeman untuk turut mengisi acara diskusi tersebut. Yang sekarang ini secara rutin dilaksanakan setiap Jumat Malam berbarengan dengan acara pengajian dan ceramah Islami yang dipimpin oleh para Ulama NU di Sekretariat NU cabang Kabupaten Bogor, Cibinong – Bogor.

Oleh : DP.Ganatri

Iklan

Satu Tanggapan

  1. bagus ceritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: