“…Diskusi PWI Bedah Kasus PEMBERITAAN Nazaruddin…”


­­

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Perkembangan dunia Pers yang semakin maju, baik dalam pola beritanya maupun cara penyampaian berita membuat berita semakin cepat di sebar luaskan dan di terima oleh publik. Peran Media Sosial atau New Media sangat besar sebagai sumber berita yang super cepat ini. Sehingga berita-berita atau kasus-kasus yang sedang up date saat ini dapat dengan segera diberitakan. Bukan hanya berita nasional, tapi bahkan juga internasional. Jarak dan waktu sudah tidak lagi menjadi kendala. Menyoroti hal ini maka PWI mengadakan suatu diskusi bedah kasus mengenai peranan Sosial Media sebagai sumber berita , khususnya berita yang sedang hangat saat ini yaitu tentang kasus Nazaruddin.

Acara yang dilaksanakan di Lobby TVRI Jakarta tanggal 2 Agustus 2011 yang lalu ini menampilkan nara sumber-nara sumber yang kompeten di bidangnya yaitu Prof. DR.Drs. Tjipta Lesmana, Uni Zulfiani Lubis (anggota dewan pers), Iwan Piliang (Presstalk), dan Arswendo Atmowiloto (pengamat media).

"....Para Pembicara dlm Forum Diskusi...."

Menurut Prof.DR.Drs. Tjipta Lesmana, dalam kasus pemberitaan Nazaruddin ini Pers atau Media telah bekerja secara profesional. Bagaimana wawancara yang dilakukan saudara Iwan Piliang dengan Nazaruddin ini pun sudah sesuai prosedur yang benar. Dan disampaikan kepada publik secara akurat. Demi kepentingan publik pers bisa memberitakan suatu berita walau itu menabrak kode etik Pers. Mengenai kebenaran dari apa yang disampaikan Nazaruddin adalah menjadi tugas dari Kepolisian untuk melakukan investigasi. Bukan tugas Pers.

Ada 3 etika yang dipakai oleh Wartawan yaitu Etika sebagai tujuan, Etika adalah prinsip dan Etika sebagai konsekuensi perbuatan. Baiknya adalah gunakan gabungan dari ke 3 teori etika tersebut, lanjut Prof.DR.Drs. Tjipta Lesmana.

Media sosial/New Media baik Media Online, Twitter, Facebook, dll memiliki karateristik seperti semua orang bisa mengakses, tidak memerlukan keahlian dalam media, penyebaran berita super cepat, bisa masuk kemana saja yang sulit ditembus media tradisional, dan cepat menggalang simpati dan opini publik.

"...Para Hadirin Forum Diskusi..."

Arswendo Asmowiloto mengungkapkan bahwa Media sosial yang diasosiasikan dengan online, internet dan segala pengembangannya adalah bentuk baru ekspresi dari yang kemudian dijadikan nara sumber. Kemajuan tekhnologi komunikasi memungkinkan itu. Bahwa wartawan dituntut mengetahui bobot atau isi atau mengutip bagian mana atau tentang siapa dari Media Sosial, itu sudah dengan sendirinya. Dan sesungguhnya dalam kasus Nazaruddin ini ang menjadi sumber berita bukan Media Sosialnya, melainkan Nazaruddin itu sendiri, bahkan disiarkan secara live. Artinya tidak ada masalah dan tak perlu dipermasalahkan keabsahannya.

Proses di mana menyampaikan fakta saja tidak cukup, melainkan juga harus mengungkap kebenaran di balik fakta tersebut, menjadi suatu langkah yang berani dari Pers Indonesia dalam mengungkap kebenaran, sekaligus tetap setia pada profesinya. Namun juga membuat gelisah, karena ketika mengungkapkan kebenaran, berarti juga menyingkapkan adanya ketidak benaran, yang bergerak ke berbagai arah.

"...Prof.Cipta Lesmana Narasumber..."

Dengan tanpa menutup-nutupi sesuatu Iwan Piliang (Presstalk) dengan sangat jelas menyampaikan bagaimana prosesnya dia dapat wawancara langsung dengan Nazaruddin. Dia tidak menyangkal tentang keterlibatannya dengan Partai Demokrat sebelumnya yang tentu saja disanalah dia kenal dengan Nazaruddin. Namun kemudian dia keluar dari Demokrat. Dan saat kasus Nazaruddin ini mencuat maka secara iseng dia menghubungi Nazaruddin ini melalui BBM yang ternyata ditanggapi oleh Nazaruddin yang memang sudah kenal sebelumnya dengannya.

“Dan karena Nazaruddin ini sedang menjadi orang yang paling dicari baik secara nasional maupun internasional, maka saya mengusulkan untuk bagaimana apabila dapat wawancara dengan dia”, ungkap Iwan Piliang lagi.

“Maka kemudian terjadilah wawancara langsung via Skype antara saya dengan Nazzaruddin. Bahkan Nazaruddin sendiri yang mengusulkan. Seperti yang sudah kita saksikan bersama di televisi “, Lanjutnya.

"...Arswendo Atmowiloto Narasumber..."

Kepada PENANTRA News, Iwan Piliang menyatakan bahwa dia akan tetap follow up dengan Nazaruddin. Bahkan beberapa saat sebelum acara Diskusi Bedah Kasus ini pun dia sempat BBM an dengan Nazaruddin. ” Mungkin besok dia akan bicara. Tapi mengenai apakah Nazaruddin akan bicara lagi melalui saya atau langsung ke televisi, saya belum tahu.”

” Dan mengenai ada kepercayaan Nazaruddin kepada saya sehingga dapat wawancara dengan dia, namun menurut saya, Nazaruddin tetap tersangka. Karena dia telah menggunakan uang rakyat atau negara untuk kepentingan pribadi. Dan apa yang terjadi tentang wawancara saya dengan dia itu juga merupakan suatu kebetulan. Yang saya sendiri tidak menduga.”

“Tentang peran Media Sosial sendiri menurut saya adalah kepercayaan yang harus dibangun. Jadi saya juga memerlukan dan berharap kawan-kawan dapat memberikan suatu konten-konten yang kredible”, ungkap Iwan Piliang lagi.

Sementara Uni Zulfiani Lubis (anggota Dewan Pers) banyak menyoroti mengenai Media Sosial yang saat ini memang berkembang dengan sangat cepat di Indonesia ini. Saat ini Indonesia menjadi urutan kedua dalam penggunaan New Media ini. Perkembangannya dalam 6 bulan terakhir sangat besar. Dari sebelumnya urutan ke lima di dunia, sekarang menjadi urutan kedua di dunia.

"...Redaksi PENANTRA News bersama Ibu Titi Said..." Dlm Moment Diskusi

Kode etik Pers dalam New Media tetap sama, yang berubah hanya model bisnisnya dan caranya saja. Dimana Media Online mengutamakan kecepatan. Dan kami dari Dewan Pers dalam waktu dekat ini akan mengadakan suatu diskusi antara Dewan Pers dengan Forum Media On Line untuk membahas masalah ini.

Acara yang dihadiri oleh wartawan-wartawan senior dari PWI dan dari elemen lain ini menjadi semakin hidup saat para wartawan-wartawan senior atau undangan yang hadir memberikan suatu dukungan pada Iwan Piliang untuk maju terus berkenaan dengan kasus Nazaruddin ini.

Hj. Titie Said seorang wartawan senior PWI dan penulis novel kondang menyatakan pada PENANTRA News bahwa adalah hak bagi media untuk menyampaikan suatu berita. Bila ada berita sudah pasti diburu. Dalam kasus Nazaruddin bila media tidak memberitakan justru akan timbul suatu pertanyaan mengapa tidak diberitakan. Ada apa sebenarnya. Jadi memang sudah menjadi tugas pers untuk memburu suatu berita dan menyampaikan kepada publik secara benar dan lugas.

Diskusi bedah kasus pemberitaan Nazaruddin yang dibuka oleh Bapak Baqir Manan mantan Ketua Mahkamah Agung RI periode 2001 – 2008 dan saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pers Indonesia, kemudian ditutup dengan Buka Puasa bersama dan ramah tamah

Oleh :  Santi Widianti

Satu Tanggapan

  1. IA INDUSTRI TELEVISI JUGA BISNIS DAN UJUNG-UJUNGNYA DUIT LAGI, HAHAHA APALAGI BOSNYA POLITISI YG AMBISIUS, HAHAHAHA DUIT DAN KEKUASAAN YG DIKEJAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: