“…Mengenal BUNG Lebih DEKAT…” Pameran Foto Bung Karno 2011



VIDEO LIPUTAN EVENT PAMERAN Team Redaksi PENANTRA News.

 

Ditengah para penerus perjuangan

Soekarno, siapa tidak kenal nama besar beliau…? Sang PROKLAMATOR ini sangat fenomenal di zamannya. Untuk mengenang beliau, ditahbiskan bulan Juni sebagai bulan Bung Karno. Tak ayal, sebab Juni sepertinya menjadi istimewa terkait Bung yang satu ini. Kelahiran, gagasan dasar negara Pancasila, hingga wafat beliau, semua jatuh di bulan ini.

Adalah pameran foto di Galeri Cipta II Taman Ismail Maruki, Jakarta, digelar untuk mengenang beliau. “…Aku Melihat Indonesia…” dipilih menjadi tajuk pameran ini. Dalam acara tersebut, pengunjung seakan diajak untuk mengenal pribadi Soekarno dalam memandang negerinya tercinta lewat presentasi foto-foto yang dipajang disana. Tak cuma foto, diputar pula film dokumenter Bung Karno yang berkisah perihal perjalanan beliau sebagai Presiden dan diakhiri dengan video pengakuan kedaulatan Indonesia.

Tugu Peringatan satu tahun proklamasi RI yang terletak di depan rumah Bung Karno. Rumah itu kini berganti mejadi tugu petir di kawasan Tugu proklamasi, Jakarta Pusat

Pertama memasuki ruang pameran, Anda disuguhkan pemandangan ruangan dengan panggung kecil di pojok kiri. Tembok sekelilingnya ditutup gambar sebuah rumah kuno. Jika tidak cermat memerhatikan, mungkin anda hanya menganggap lalu rumah itu, apalagi ia memang disetting sebagai gambar latar. Tapi, ketika diperhatikan, rumah itu sebenarnya adalah rumah Bung Karno ditahun 1945, dimana ia membacakan proklamasi.

Rumah itu kini memang sudah dirubuhkan, berganti dengan kompleks Tugu Proklamasi dan Gedung Pola. Namun, satu hal yang meyakinkan PENANTRA News bahwa itu adalah rumah Bung Karno, terletak pada sebuah tugu yang terletak disamping rumah itu. Tugu peringatan setahun kemerdekaan. Hingga hari ini, tugu itu masih tegak berdiri di lingkungan Tugu Proklamasi, tepatnya ada diseberang Tugu Petir. Tugu Petir sendiri adalah titik dimana Bung Karno berdiri membacakan teks Proklamasi.

Sementara panggung kecil dipojok kiri itu, digunakan untuk acara seminar dan pertunjukan aksi seni yang jadi serangkaian dari acara pameran ini.

Pejuang Bangsa

Masuk kedalam, kita disambut oleh patung Bung Karno dan Bung Hatta yang tengah membacakan teks Poklamasi. Inilah tonggak awal berdirinya negara kedaulatan Republik Indonesia. Rangkaian awal foto-foto yang digelar memang erat dengan kegiatan sosial politik beliau yang sudah ditekuninya sejak remaja.

Pak Tjokro, sosok guru yang sangat berpengaruh bagi Bung Karno

H.O.S Tjokroaminoto, salah satu pemimpin Sarikat Islam, adalah yang semakin mengasah dan banyak memberi pengaruh bagi Soekarno remaja lahir-batin seperti ditulis Bung Karno yang diterakan pada bagian bawah foto ini. Sejak remaja pula, Soekarno sudah aktif berorganisasi. Saat itu ia bergabung dengan Tri Koro Dharmo, salah satu organisasi pergerakan yang pertama-tama muncul. Selanjutnya Tri Koro Dharmo ini dikenal juga dengan sebutan Jong Java.

Usai menamatkan sekolah HBS-nya di Surabaya, Soekarno lantas meneruskan ke THS di Bandung (sekarang ITB). Di kota inilah Soekarno makin aktif dalam pergerakan nasional. Hingga akhirnya ia mendirikan Partai Nasional Indonesia, partai yang kelak menjadi partai terbesar di Indonesia. Bersama dua pimpinan PNI lainnya, Dr. Samsi dan Mr. Iskak, lewat partai inilah petualangan perjuangan Soekarno muda untuk membangkitkan semangat persatuan dan nasionalisme bangsanya semakin agresif. Hingga akhirnya Belanda menilai pergerakannya ini berbahaya dan menjatuhi hukuman bagi mereka.

Masa persidangan Bung Karno meninggalkan jejak bersejarah ketika beliau membacakan pledoinya. Dimana ia menuntut kemerdekaan bagi Indonesia. Pengadilan Bandung inilah yang lantas mengantarkannya menjalani serangkaian pembuangan mulai di Ende, Flores, hingga Bengkulu. Rangkaian foto di awal ini mengajak kita mengenal perjuangan awal Bung Karno dan mengenalkan pribadinya yang memang berjiwa pejuang bagi bangsanya.

Cinta Rakyat

Soekarno dan rakyat kecil yang dicintainya

Lepas dari ruangan ini, sebuah ruang berlatar gelap dengan sebuah patung dada Bung Karno dibagian tengah dan dua bangku disediakan berhadapan dengan patung itu. Ruang ini seolah menjadi ruang bisu yang mengajak pengunjung untuk duduk merenung atau berdoa bagi beliau. Pada dinding tergantung tulisan tangan Bung Karno saat hari ulang tahunnya yang ke 56. Keinginannya adalah untuk senantiasa diberi hidup yang manfaat, manfaat bagi bangsa dan negaranya. Sebuah keinginan yang selalu dipanjatkannya tiap-tiap sembayang kepada Tuhan, Sang Paraning Dumadi.

Dari surat tersebut bisa terlihat bagaimana ketulusannya bekerja bagi bangsa dan negaranya ini. Kecintaannya terlihat pula dalam rangkaian foto yang bercerita bagaimana ia berbaur dengan luwes dengan rakyatnya. Beliau pun terlihat menikmati kunjungan dan interaksinya dengan rakyat kecil itu, baik pedagang kaki lima di Yogyakarta, petani, ibu tua bahkan dengan anak-anak. Tampak pula serangkaian kunjungan beliau ketika berkunjung ke berbagai daerah di nusantara. Dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sulawesi di ujung timur.

Membumi

Bersama keluarga, berkebun di pekarangan rumah

Meski menjabat Presiden, namun Bung Karno tak meninggalkan kesahajaannya. Misalkan saja seperti tampak pada salah satu foto ketika Bung Karno bersama Bu Fat tengah berkebun di pekarangan rumahnya. Ini berarti beliau tak segan mengotori tangannya sendiri untuk sekadaberkebun. Terjun langsung ke lapangan, ikut terlibat dalam kegiatan yang biasa dilakukan rakyatnya. Menurut salah satu pengakuannya, Bung Karno juga turut andil membuat dan merawat taman-taman di beberapa istana negara. Istana Bogor adalah salah satunya.

Toleransi adalah satu hal lain yang ditularkan Sang Bung bagi rakyatnya. Sebab, ia tak segan untuk bergaul dengan pemuka dari berbagai agama. Seperti ditunjukkan dalam salah satu foto dimana Soekarno tengah berfoto bersama para suster di sekolah Santa Ursula.

Kepiawaian memimpin, kesahajaan, kedekatan, dan kepeduliannya menjaga toleransi, tak pelak membuat rakyat menjadi jatuh hati dengan negarawan ini. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana rakyat berbondong-bondong datang dan menyimak pidato beliau. Sehingga tiap-tiap pidato beliau, selalu disambut gembira oleh rakyatnya. Kharisma beliau ini ternyata tak hanya berlaku di dalam negeri saja. Dalam sejumlah lawatannya ke mancanegara, baik tampak pada foto dan video yang diputar, tampak kemeriahan sambutan kedatangan Bung Karno di negara-negara itu.

"...Kata Akhir..."

Sayang, kisah hidup beliau mesti ditutup dengan tragis. Seorang negarawan besar, mesti terpenjara dan terkucilkan di akhir hayatnya. Hingga diujung rangkaian foto ini, ditutup dengan ungkapan kata – kata “…Anakku simpan segala yang kau tahu, jangan ceritakan sakit dan deritaku pada rakyat, biarkan aku menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu. Ini aku lakukan demi persatuan, kesatuan, keutuhan, dan kejayaan bangsa…”

Selamat hari jadi Bung, biar kisah hidupmu ini menjadi inspirasi bagi kami untuk melanjutkan perjuanganmu dan pahlawan bangsa lainnya. Salam Merdeka…!

Oleh : Eka Shantika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: