“…SEMINAR Peluncuran Buku ASEAN CONNECTIVITY In Indonesian Context



VIDEO LIPUTAN EVENT Team Redaksi PENANTRA News.

 
“…Dalam memperingati HUT RI dan HUT Kementrian Luar Negeri RI ke 66, serta hari jadi ASEAN ke 44, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), kementrian Luar Negeri, menyelenggarakan seminar dan Peluncuran Buku Kajian BPPK mengenai “ASEAN Connectivity in Indonesian Context a Preliminary Study on Geopolitics and Maritime Transport, pada 11 Agustus 2011, di ruang Nusantara, Kementrian Luar Negeri Jakarta.
Seminar dibuka oleh Wakil Mentri Luar Negeri Triyono Wibowo. Dalam sambutannya Wamenlu Luar Negeri Triyono Wibowo menyatakan bahwa jauh sebelum kita bicara tentang lahirnya ASEAN Connectivity ini ada gagasan ASEAN untuk membangun proyek kereta api dari Singapura. Belum ditetapkan ASEAN Connectivity. Namun hal ini menjadi embrio dari pemikiran mengenai penghubung antara satu point dengan point lainnya di ASEAN dalam pergerakan antara orang maupun barang.
Kita ingat tahun 2002 yang lalu ada persaingan yang keras antara Singapur dan ASIA.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya ASEAN Connectivity yaitu Perubahan Ekonomi Dunia, Globalisasi Ekonomi, Persaingan Ekonomi dan Kerjasama Ekonomi.
Lebih lanjut Wamenlu Triyono Wibowo menyatakan bahwa ramalan para ahli menyatakan bahwa pada tahun 2025 Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia no 14, dan pada tahun 2050 akan menjadi kekuatan ekonomi dunia no 7. Untuk dapat mencapai ini harus terjadi suatu pertumbuhan ekonomi antara 6 – 7 % pertahun. Bila hal ini ingin terwujud maka soal energy adalah soal yang sangat penting.
Buku ini merupakan hasil sutdy lapangan yang telah dilaksanakan oleh Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasific dan Afrika (P3K2 Aspasaf), BPPK-Kementrian Luar Negeri, sejak Desember 2010 – Juli 2011. Studi lapangan ini dimulai di Greater Mekong Sub region (GMS), Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dan Brunei-Indonesia-malaysia-Filipina- East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA). Tim P3K2 Aspasaf juga melakukan pemantauan konektivitas di wilayah Pasifik, Pedalaman Papua, serta pulau-pulau yang membentang dari Bali ke Dili.

Buku ini bertujuan untuk mendorong diskursus yang lebih luas mengenai konektivitas di wilayah ASEAN-kepulauan, khususnya di Filipina dan Kawasan Timur Indonesia, mengingat Kawasan Timur Indonesia merupakan mata rantai yang lemah dalam konektvitas maritim ASEAN.
Ada beberapa masukan yang diberikan dalam buku ini yaitu diantaranya pengembangan Hydropower di Papua (di kawasan Memberamo dan Urumuka) melalui MOU dengan perusahaan industri padat energi seperti peleburan alumunium dan peleburan logam lainnya, sehingga listrik yang dihasilkan dapat langsung diserap oleh perusahaan tersebut. Dengan demikian Papua akan menjadi bagian penting dalam kebijakan ASEAN Connectivity.
Dalam kajian mandiri BPPK ini mendapat dukungan penuh dari Perwakilan Tetap RI (PTRI) untuk ASEAN, Kementrian Perhubungan, Kementrian Perdagangan, Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, ASEAN Power Grid Consultative Committee, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), PT. PLN (Persero) dan ASDP Indonesia Ferry (Persero).

Dan dalam acara seminar dan peluncuran ini diserahkan Piagam Penghargaan dan Buku ASEAN Connectivity In Indonesia Context pada semua Badan-Badan Pendukung tersebut. Piagam dan Buku diserahkan oleh Wamenlu Triyono Wibowo.
Acara kemudian di tutup dengan sebelumnya ada tanya jawab dari para undangan yang hadir dan dari kalangan Media/Pers.

Oleh : Santi Widianti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: