“…NAPAK TILAS Mengenang Detik-detik PROKLAMASI…” Pekan Museum JOANG 45


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

"...Peserta Parade Napak Tilas Proklamasi..." Pekan Museum Joang 45

“…Sehari sebelum perayaan Proklamasi 17 Agustus 2011, Dewan Harian Nasional dan Dewan Harian Daerah jakarta Angkatan 45 mengadakan acara Napak Tilas Proklamasi. Peserta acara Napak Tilas diajak berparade mulai dari Gedung Joang 45 di kawasan Menteng Jakarta, Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, dan berakhir di Tugu Proklamasi, di kawasan Cikini, Jakarta. Tujuannya adalah mengenang peristiwa detik-detik Proklamasi yang terjadi di tiga tempat tersebut.
Acara Napak TIlas ini diinisiasi oleh Bapak Ahmadi dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 pada tahun 1980. Saat itu, peserta Napak Tilas selain dihadiri masyarakat umum, para tokoh dan keluarga pelaku sejarah masih banyak yang ikut serta. Napak Tilas Proklamasi, Mengenang Detik-detik Proklamasi Hanya saja rute yang ditempuh saat itu dimulai dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi hingga Tugu Proklamasi saja.

"...Rekonstruksi Pembacaan Teks Proklamasi di Tugu Proklamasi..."

Belakangan, Gedung Joang 45 juga berinisiatif ikut serta dalam acara napak tilas ini. Ini dilakukan mengingat gedung bersejarah tersebut juga punya andil saat detik-detik proklamasi.
Tepatnya sebagai basis golongan muda yang mengajak Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, sebelum perumusan naskah Proklamasi malam harinya.
Bagi Museum Joang 45, acara Napak Tilas ini masuk dalam rangkaian Pekan Museum Joang 45 yang berlangsung hingga 22 Agustus 2011.

Puncak acara Napak Tilas di gedung Joang, ditandai dengan penyerahan tanah dan air yang diambil dari berbagai tempat di nusantara yang diserahkan oleh masing-masing perwakilan daerah yang hadir, seperti diungkap Seksi Pameran dan Edukasi Museum Joang 45, Bayu Niti Permana. Bayu yang juga menjadi Ketua Panitia Napak Tilas dari gedung Joang ini, menyebutkan bahwa pengumpulan tanah dan air yang terkumpul itu akan menjadi bagian pameran museum.

"...Bpk Bayu Niti Permana Ketua Panitya Napak TilasProklamasi 45..."

Nantinya tanah dan air itu akan dilengkapi keterangan mengenai kekayaan alam dari tiap daerah, “Agar generasi muda kita bisa melihat bahwa Indonesia sebenarnya negeri yang kaya.”
Dari Museum Joang, arak-arakan bergerak ke Jalan Imam Bonjol, tepatnya menuju Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Di Museum ini telah hadir para veteran dan keluarga pejuang yang keluarga tokoh pejuang yang saat perumusan naskah turut hadir di rumah Laksamana Tadashi Maeda.
Arak-arakan tampak meriah dengan derap marchingband yang membahana, diikuti oleh kirab bendera di bagian depan barisan. Para veteran dan purnawirawan yang cukup sepuh pun tak mau kalah. Dari Museum Naskah Proklamasi ini, mereka ikut berjalan dengan rombongan Napak Tilas hingga Tugu Proklamasi. Para remaja dan pemuda yang sudah lebih dulu berjalan dari gedung Joang, beberapa tampak asyik bertukar cerita dengan para sesepuh ini.
Kemeriahan rombongan arak-arakan ditambah lagi dengan yel-yel dan atraksi dari tim asal Taman Mini Indonesia Indah yang menyemarakkan kirab lewat pakaian dan lagu khas masing-masing daerah. Tim Sumatra Selatan tampil lengkap dengan pakaian, lagu, dan tarian daerah mereka.

"...Peserta Parade Berkostum Prajurit Mataram..."

Tim Lampung, hadir dalam tim besar dengan berbagai kostum, mulai dari raja, prajurit, ulama, dan rakyat, ikut serta dalam barisan. Barisan terdepan tim Nusa Tenggara Barat, menampilkan tiga pria dengan kostum berbeda, menunjukkan tiga suku yang menempati wilayah NTB, Sasak, Sumbawa, dan Bima.
Tim Yogyakarta tampil kocak, dengan kombinasi pakaian tradisonal dan prajurit kesultanan, namun diiringi lagu rap Jawa “Jogja Istimewa”. Sementara tim Betawi tampil lengkap dengan Ondel-ondel dan iringan Barongsai. Belakangan, arak-arakan dari Komunitas Onthel Batavia yang bergaya pejuang tempo dulu mengikuti, lengkap dengan pemeran Bung Karno dan Bung Hatta. Setelah semua peserta tiba di Museum Naspro, Eddy Safuan, mantan pengurus Dewan Harian Nasional Angkatan 45 menyerukan orasi mengenai arti penting museum perumusan naskah proklamasi.
Dalam orasinya, Eddy menyebutkan bahwa gedung yang dulunya adalah rumah Laksamana Tadashi Maeda ini merupakan lokasi penting yang mengubah masa depan Indonesia. Sebab, naskah Proklamasi yang menjadi tonggak kemerdekaan Indonesia itu, berawal dari buah pikir yang lahir di tempat ini.

"...Ibu Huriati Kepala Museum Naskah Teks Proklamasi..."

Awalnya, acara Napak Tilas ini diinisiasi oleh Ahmadi dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45, ungkap Eddy kepada PENANTRA News usai orasi. Namun, pria paruh baya ini berharap, agar acara ini bisa diambil alih oleh Panitia Nasional Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia. “Entah oleh panitia di Sekretariat Negara atau dari kementerian Budaya dan Pariwisata. Sedang kita usahakan,” ujarnya. Hal ini penting dilakukan mengingat betapa bersejarahnya peristiwa detik-detik Proklamasi bagi bangsa ini, sehingga patut dirayakan secara nasional. Sebelum rombongan arak-arakan tiba, digelar dulu drama teatrikal perumusan naskah proklamasi oleh kelompok teater sekolah yang menjadi pemenang lonba teatrikal perumusan naskah proklamasi. Acara tahunan ini, rutin digelar sejak tahun 1980. Saat itu, masih banyak tokoh, istri, dan keluarga pejuang yang ikut serta dalam parade, ujar Eddy. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pejuang yang berpulang, hingga saat ini pejuang yang tersisa bisa dihitung dengan jari.
Usai orasi dan sambutan dari perwakilan Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, peserta kembali melanjutkan napak tilas ke Tugu Proklamasi.

"...Bpk Eddy Safuan Mantan Pengurus Dewan Harian Angkatan 45..."

Di tempat inilah kemudian dibacakan Naskah Proklamasi oleh pemeran Bung Karno dan Bung Hatta. Truus Sardjono (80), seorang mantan pejuang pertempuran 10 November 1945 dii Surabaya, lalu memimpin seluruh peserta Napak Tilas menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Acara pun ditutup dengan doa bagi para pahlawan, bangsa dan negara. Lewat acara ini, para vetaran tersebut berharap generasi muda bisa turut mengerti arti perjuangan mereka dan meneruskan cita-cita pendiri bangsa, yaitu menjadikan Indonesia yang lebih baik. Nasib bangsa ini selanjutnya ada di tangan kita!

DIRGAHAYAU Republik Indonesia ke 66 17 Agustus 2011 MERDEKA…Sekali MERDEKA…Tetap MERDEKA..!

Oleh : Eka Shantika

2 Tanggapan

  1. Majulah Bangsaku…MERDEKA

    • Sekali Merdeka tetap MERDEKA..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: