“…Mengenal MUSEUM WAYANG Indonesia…”


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Seperti kita ketahui bersama, Wayang dan Pertunjukkan Wayang telah diakui UNESCO pada tanggal 7 November 2003 sebagai Karya Kebudayaan yang Menganggumkan di dalam Bidang Cerita Narasi dan Warisan Nilai Kemanusiaan (Master Piece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity). Bersama Wayang, Kerajinan Batik dan Keris juga diakui, tidak hanya sebagai warisan budaya Indonesia, melainkan sebagai karya agung warisan budaya dunia. Secara Resmi penyerahan piagam UNESCO dilaksanakan pada tanggal 21 April 2004 di Paris, Perancis. Tentu ini hal yang sangat membanggakan dan meningkatkan prestise Indonesia di mata dunia.

Tertarik ingin mengenal wayang lebih jauh? Museum Wayang Indonesia tempatnya. Dengan tiket sebesar dua ribu rupiah, kita bisa menikmati koleksi wayang dari berbagai corak, bentuk, dan daerah. Museum Wayang Indonesia mengoleksi ribuan koleksi wayang

dari seluruh nusantara maupun dunia. Di tempat ini pun ada para pemandu ahli yang siap menjelaskan tentang wayang, aneka tokoh wayang, filosofi wayang dan berbagai detil lainnya.

DARI GEREJA LAMA HINGGA MUSEUM WAYANG

"..Deretan Prasasti Nisan Para Pejabat dan Gubernur Jenderal Belanda.." Di Taman museum Wayang

Tak hanya koleksinya yang unik, Gedung yang kini menjadi Museum Wayang Indonesia memiliki sejarah panjang yang menarik pula. Gedung yang terletak di kawasan kota tua, tepatnya di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat. Mulanya dibangun sekitar tahun 1640 sebagai gereja bernama “De Oude Hollandsche Kerk” (Gereja Belanda Lama) dan bertahan hingga 93 tahun, kemudian dibangun kembali dan berganti nama menjadi “De Nieuw Hollandsche Krerk” (Gereja Belanda Baru) hingga tahun 1808.

Halaman samping gereja dipergunakan sebagai makam, terdapat makam gubernur jenderal, pejabat tinggi VOC serta keluarga mereka antara lain Jan Pieterszoon Coen (1692), Guberner Jenderal VOC pendiri kota Batavia,  yang meninggal 1692. Juga terdapat prasasti Gubernur Jenderal VOC Gustaaff Willem Baron van Imhoff, pendiri Toko Merah dan Istana Bogor, serta Gubernur Jenderal Adriaan Valckkenier (1751). Kini, makam-makam itu dipindahkan ke Museum Taman Prasasti yang terletak di Jalan Tanah Abang I, Jakarta. Setelah terjadi gempa bumi hebat, bangunan bekas gereja itu dirobohkan oleh Gubernur Jenderal Daendels.

"..Prasasti Nisan Jan Pieterszoon Coen.." Gubernur Jenderal Peletak dasar Kota Batavia

Bangunan yang ada sekarang dibangun tahun 1912, kemudian dibeli oleh Bataviaasch Genootschap van Kusten en Wetenschappen, sebuah lembaga Ilmu Pengetahuan, Seni dan Budaya di Batavia pada tahun 1936. Lembaga ini akhirnya menyerahkan gedung ini kepada Stichting Oud Batavia yang kemudian dijadikan Museum “De Oude Bataviaasche Museum” (Museum Batavia Lama). Secara resmi museum tersebut dibuka pada 22 Desember 1922 oleh Gubernur Hindia Belanda terakhir di Indonesia, Jonkheer Meester Aldius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborg Stachouwer. Di zaman Jepang, museum ini ditelantarkan dan baru tahun 1957 diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia. Pada 17 September 1962, gedung ini diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian ditetapkan sebagai Museum Jakarta. Pada 23 Juni 1968, Pemda DKI kemudian menyerahkan pengelolaan gedung ini kepada Yayasan Nawangi untuk dijadikan Museum Wayang dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta masa itu, Bapak Ali Sadikin, pada tanggal 13  Agustus 1975. Pada tanggal 16 September 2003 museum diperluas atas hibah Bpk.Probosutejo.  Nah, karenanya maka gedung museum ini resmi masuk dalam daftar 136 cagar budaya yang dilindungi di Jakarta.

DARI JAWA HINGGA EROPA

"..Aneka etnis diabadikan dalam wayang golek.."

Para pengunjung diajak untuk mengenal berbagai karakter, sikap, maupun perilaku lakon dari berbagai daerah dengan menyaksikan sejumlah koleksi wayang, seperti wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng wayang, wayang beber, wayang kaca, gamelan, serta lukisan-lukisan wayang. Museum Wayang menampilkan juga aneka koleksi wayang dan boneka dari negara-negara  sahabat antara lain : Thailand, Vietnam,  Kanton, Rusia, Polandia, India, Boneka Punch dan Boneka Judy dari Inggris, Boneka Marionet dari Amerika dan Perancis,kemudian Wayang Suriname, Wayang Malaysia serta Wayang Kamboja menjadi bagian dari koleksi Museum Wayang.  Tak ketinggalan dari Indonesia pun,terdapat koleksi boneka tokoh-tokoh cerita serial kartun anak-anak di TVRI, seperti Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, Melani, Usro, Ucrit,dan tokoh favorit lainnya yang sangat terkenal tahun 1980-an.

Koleksi kerajinan di Museum Wayang tercatat mencapai hampir 6000 koleksi.  Salah satu koleksi masterpieceadalah Wayang Kyai Intan dari Yogyakarta lengkap dengan gamelan Kyai Intan.  Wayang intan tergolong koleksi tertua, diperkirakan dibuat sekitar abad 17 atau 18 oleh seorang Saudagar Tionghoa di Muntilan.  Agar menarik, wayang itu ditaburi intan batu yakut sehingga berkilauan ketika dimainkan. Ada pula Blencong antik yang serupa dengan Blencong antik berusia 200 tahun lebih sumbangan dari kolonel (purn) Casel A Heshisius.   Blencong serupa terdapat di Pura Mangkunegaran Surakarta. Blencong yaitu lampu minyak untuk pertunjukkan wayang yang digantung di belakang dalang sehingga wayang yang dimainkan dapat menghasilkan bayang-bayang pada kelir.

" ..Bpk Katimo.." Pegawai Senior yang memberikan penjelasan sejarah dan koleksi Museum Wayang.

Koleksi lainnya adalah tembikar Semar dari Cirebon yang dapat ditemui di bagian depan Museum. Kemudian tak kalah menarik adalah aneka wayang golek dari berbagai daerah di Jawa Barat, antara lain Wayang Golek Bogor, Wayang Golek Elung Bandung Karya Pak Sule ( R.Sulaeman Prawiradilaga) berbahan kayu cendana yang dibuat tahun 1975-1980 sebanyak 126 buah. Wayang Golek Pakuan yang diciptakan dalang Parta Suwanda dari Bandung pada tahun 1960, Wayang Golek Menak, Catur, Cepak, Wayang Golek Gundala-gundala dan Si Gale-Gale dari Tapanuli,  dan Golek Lenong Betawi yang diciptakan Tizar Purbaya tahun 2001.

Pada koleksi wayang kulit, Terdapat Wayang Kulit Purwa Palembang, Wayang Gedog, Wayang Kulit Cirebon, Wayang Kulit Mojokerto, Wayang Kulit Purwa Banjar Kalimantan Selatan, Wayang Kulit Madya , Wayang Kulit Bali,  Wayang kulit purwa ngabean yang dibuat tahun 1917, Wayang Kulit Tejokusuman tahun 1946 dengan tatahan dan sunggingan yang rumit dan halus, Wayang Kulit Purwa Deli Serdang dari Sumatera Utara yang dibuat pada tahun 1932 oleh Mbah Ngadi dan Mbah Suratman, Petani Jawa yang dibawa ke Deli pada masa Kolonial. Wayang Kulit Sasak dari Lombok karya Amak Rahimah tahun 1925, Wayang Sadat yang dibuat tahun 1985, Wayang Wahyu yang dibuat tahun 1960, Wayang Kulit Sawahlunto dari Padang Sumatera Barat buatan tahun 1935 serta Wayang Kaper dan Wayang Kancil yang berukuran kecil sebagai permainan melatih anak-anak mendalang. Wayang Ukur diciptakan Sukasman tahun 1964 sebagai wayang kontemporer.

"..Salah Sattu Koleksi Wayang Revolusi.."

Di ruang Wayang Revolusi, tersimpan seperangkat wayang kulit yang menggambarkan sosok berbagai profesi, tingkat sosial, jenis kelamin dan etnis Indonesia, dengan tokoh perjuangan, tokoh pemuda, rakyat, bangsawan, serta orang-orang Belanda. Wayang Perdjoangan/ Wayang revolusi mengangkat kisah-kisah VOC dengan cerita tentang perang Jawa, Perang Aceh, dll hasil Karya R.M Sayid tahun 1950-an untuk memperkuat nasionalisme bangsa Indonesia yang baru merdeka pada saat itu. Di ruang pamer Wayang Revolusi berada, kita akan disambut oleh sebuah fragmen wayang yang menceritakan peristiwa proklamasi kemerdekaan. Terdapat sosok Bung Karno dan Bung Hatta di dalam fragmen tersebut. Wayang ini sempat dikoleksi oleh Museum Rotterdam Belanda sebelum akhirnya disumbangkan menjadi koleksi museum ini.Keseluruhan Koleksi Museum Wayang ini diperoleh dengan beraneka ragam. Ada yang merupakan titipan, hibah, sumbangan, hadiah atau sengaja dibeli dari kolektor.

DARI 1500 SM HINGGA ABAD MILENIUM

"..Wayang Mainan.." yang dibuat anak gembala dari rumput Dom-doman

Wayang berasal dari kata Bayang, sehingga kisahnya dapat dipahami sebagai refleksi dari realitas hidup manusia sehari-hari. Awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi, karenanya pertunjukkan wayang sering dilakukan di saat-saat panenan atau penanaman dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun ‘merti desa’ agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala (bahaya/malapetaka).

Wayang dikenal oleh bangsa Indonesia sudah sejak 1500 SM. Nenek moyang kita percaya bahwa setiap benda hidup mempunyai roh/jiwa, ada yang baik dan ada yang jahat. Agar tidak diganggu oleh roh jahat, maka roh-roh tersebut dilukis dalam bentuk gambaran (gambar ilusi) atau bayangan (wewayangan/wayang) dan digunakan sebagai media komunikasi dengan roh leluhur yang disebut “hyang“. Kemudian di tahun 898 – 910 M Wayang Purwa yang bercorak Hindu sudah berkembang, seperti yang tertulis dalam Prasasti Balitung Sigaligi ” Mawayang buat Hyang, macarita Bhima ya Kumara “(menggelar Wayang untuk para Hyang menceritakan tentang Bima sang Kumara). Di jaman awal Majapahit, wayang digambar di kertas Jawi dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian.   Awal abad ke- 10 perkembangan bentuk wayang juga mengalami perkembangan ragamnya, yakni mulai dari rumput, kulit kayu, kulit binatang (wayang kulit), wayang lukisan kain (wayang beber), dsb.

Pada Abad 16 pengaruh budaya Islam mulai meresap, Raden Patah memerintahkan mengubah beberapa aturan wayang yang segera dilaksanakan oleh para wali secara gotong royong. Wayang Beber karya prabangkara (jaman majapahit) segera direka-ulang dibuat dari kulit kerbau yang ditipiskan,gambar dibuat menyamping, tangan dipanjangkan, digapit dengan penguat tanduk kerbau, dan disimping. Di jaman ini Sunan Kudus memperkenalkan wayang golek dari kayu sedang Sunan Kalijaga menyusun wayang topeng dari kisah-kisah wayang gedog.

"..Wayang Kancil.." membawakan Cerita Fable favorit anak-anak Indonesia

Panembahan senapati menambahkan berbagai tokoh burung dan hewan hutan dan rambut wayang ditatah semakin halus, Sultan Agung Anyakrawati menambahkan unsur gerak wayang kulit dengan memberi sendi pada pundak, siku, dan pergelangan dan posisi tangan berbentuk ‘nyempurit’ dengan adanya inovasi ini muncul pula tokoh baru : cakil, tokoh raksasa bertubuh ramping yang sangat gesit dan cekatan. Inovasi Wayang masih terus dan terus berkembang sehinga menciptakan wujud dan isinya seperti saat ini. Wayang saat ini tidaklah sama dengan wayang pada masa lampau dan wayang masa depan tidaklah sama dengan wayang masa kini akan tetapi dalam setiap perubahannya tidak mempengaruhi jati dirinya.

Wayang memiliki landasan yang kokoh antara lain HAMOT, HAMONG, dan HAMEMANGKAT.   Dengan landasan itu menyebabkan wayang memiliki daya tahan dan daya kembang sepanjang zaman.  Hamot adalah keterbukaan menerima masukan dari dalam dan luar.  Hamong adalah kemampuan untuk menyaring unsur baru sesuai dengan nilai yang ada selanjutnya diangkat menjadi nilai yang cocok dengan wayang sebagai bekal untuk bergerak maju sesuai dengan perkembangan masyarakat. Hamemangkat adalah berkembangnya suatu nilai menjadi nilai yang baru melalui proses yang cermat.

Disamping itu juga adanya kebijaksanaan pengembangan wayang yang telah digariskan dengan strategi Trikarsa,yaitu tekad untuk melestarikan, mengembangkan dan mengagungkan wayang. Oleh karena itu wayang dapat menunjukan kemampuannya sejak zaman kuna sampai sekarang.

"..Wayang Sadat.," di Ruang Koleksi Museum

Dalam masa perkembangan wayang dari zaman dahulu hingga sekarang didapatkan beberapa perubahan antara lain pada bentuk dan seni rupa wayang yang semula seperti relief wayang di candi menjadi imajinatif dalam arti tidak seperti bentuk manusia, seluruh anggota badan tetap lengkap atau fungsional namun tidak proposional ukurannya, tetapi tetap indah.

Secara garis besar wayang dapat dikelompokkan dari bahan, cerita, dan fungsinya.  Berdasarkan bahan pembuatnya wayang terdiri atas :
1. Wayang Kulit : Wayang yang terbuat dari kulit kerbau atau lembu. Setelah diolah lalu ditatah (ukir) kemudian disungging
(lukis) sesuai dengan karakter tokoh yang akan dibuat. Wayang Kulit berkembang pesat di Jawa Tengah.
2. Wayang golek : Wayang yang terbuat dari kayu yang dipahat menjadi orang-orangan, wayang golek berkembang pesat di Jawa Barat.
3. Wayang beber adalah bentuk wayang tertua yang dilukiskan pada gulungan kain, Pada saat ini pertunjukkan Wayang Beber dapat dikatakan telah punah karena lukisan beber tersebut tidak dibuat lagi atau dalang-dalangnya tidak memproduksi lagi.
4. Wayang Mainan : Wayang Mainan dibuat dari rumput “dom-doman” atau anyaman bambu, dipakai oleh anak-anak pedesaan sebagai mainan untuk menemani menggembalakan ternak.
5. Kerucil atau Khlitik: Wayang yang dibuat dari bahan papan kayu yang tipis
6. Wayang Wong : Wayang yang diperankan oleh manusia. Wayang Wong berkembang pesat di Jawa Timur.

"..Turis dari Bangladesh.." yang memberikan opini pada PENANTRA News tentang Wayang.

Berdasarkan Ceritanya, secara garis besar Lakon Wayang terbagi menjadi :
1. Wayang Purwa : ceritanya bersumber pada perpustakaan Wayang seperti Pustaka raja Purwa, Purwakandha, Ramayana atau Mahabrata
2. Wayang Menak : Wayang yang ceritanya diambil dari kehidupan kaum menak atau bangsawan.
3. Wayang Gedhog : Wayang yang mengambil cerita tentang panji atau cerita kepahlawanan.
4.Wayang Kancil : Wayang yang mengambil cerita kancil, cerita fable anak-anak yang terkenal di Indonesia.
5. Wayang Suluh : Wayang yang digunakan untuk penyuluhan, kampanye terhadap suatu hal yang baik

Adapun fungsi wayang adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan atau Edukasi : Nilai yang ada dalam wayang baik cerita, bentuk, karakter tokoh di dalamnya mengandung nilai-nilai falsafah Indonesia. Misalnya cerita tentang Sang Pencipta, manusia, alam, pertarungan antara kebaikan dan kejahatan
2. Penerangan atau informasi. Wayang adalah media komunikasi dalam hal menyampaikan pesan
3. Religi. Wayang bisa dipertunjukkan pada acara-acara tertentu , terutama pada upacara2 adat untuk menolak bala, ruwatan, dan perayaan agama.
4. Sebagai hiburan. Wayang adalah hiburan dan kesenian rakyat namun seiring perkembangan zaman, wayang menjadi hiburan bagi semua kalangan.

Pada akhir cerita, Wayang bukan hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan dalam kehidupan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.  Cerita pewayangan sering dijadikan kajian ilmiah oleh peneliti mahasiswa baik didalam maupun diluar negeri sebagai kajian filsafat. Kini wayang tak lagi hanya dimainkan di panggung pertunjukkan atau diiringi gamelan dan sinden. Dengan kemasan yang baru, kini Wayang telah masuk televisi dan dapat melakukan berbagai hal, seperti berdialog dengan orang, menjadi pembawa acara dll.

Banyak sekali bukan hal-hal yang menarik yang dapat  dipelajari dengan datang ke Museum Wayang?Tak puas hanya melihat-lihat koleksi wayang?

Di dalam Museum terdapat fasilitas Ruang Audiovisual Wayang 3D, kemudian hampir setiap Minggu di halaman Museum Wayang, tepatnya di Plaza Taman Fatahillah, Pihak Museum menggelar ” Sundays Wayang Theatre “, pertunjukkan wayang semalaman dengan jadwal yang tertera di muka museum.  Secara berkala juga diadakan kegiatan pameran dan workshop pembuatan wayang di tempat ini. Jadwal kegiatan Museum dapat ditelusuri via internet atau dengan menghubungi Kantor Museum dengan nomor Telp. (021) 6929560. Museum Buka pada hari Selasa-Minggu pada pukul 09.00-15.00 WIB dan tutup pada hari Senin atau Hari Libur.

Oleh : DP.Ganatri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: