“…Dari PEGANGSAAN sampai RIJSWIJK…” Pameran Foto PERJUANGAN Bangsa


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SLIDESHOW PHOTO EVENT PAMERAN LIPUTAN Team Redaksi PENANTRA News Online.

"...Cover Pameran Dari Pegangsaan Sampai Rijswijk..."

“…Lewat pameran foto ini kami ingin menunjukkan bagaimana liku-liku perjuangan negara Indonesia terutama setelah proklamasi 1945 sampai pengakuan kedaulatan yang ditutup dengan foto pada 17 Agustus 1950,” terang Oscar Motuloh, kurator kawakan yang menjadi pimpinan dari Galeri Foto Jurnalistik Antara yang menjaditempat penyelenggara pameran. Maksud pameran tersebut kemudian dituangkan pada judul pameran foto yang bertajuk, “dari Pegangsaan sampai Rijswijk” Acara berlangsung sejak 19 Agustus – 19 September 2011. Sesuai dengan angka tahun kemerdekaan ke-66 RI, 66 foto pun dipamerkan disini. Semua foto ini merupakan hasil karya Mendur bersaudara, Frans Mendur dan Alex Mendur, dan IPPHOS. IPPHOS sendiri adalah jaringan foto jurnalistik di Indonesia yang saat itu pertama kali dibuat oleh Mendur Bersaudara. Foto-foto yang dipamerkan disini adalah foto-foto yang jarang, bahkan luput dari pemberitaan dan dokumentasi buku-buku sejarah kita. Gedung GFJA yang dijadikan lokasi pameran pun punya peran di masa-masa itu. Selain menyiarkan berita Proklamasi RI ke seluruh penjuru dunia pada 17 Agustus 1945 lewat berita kawat. Tempat ini juga menjadi pusat kegiatan stasiun berita Antara dalam mendukung perjuangan bangsa Indonesia dengan memberitakan peristiwa-peristiwa seputar perjuangan kebangsaan.

"...Plakat Perak Berisi Tulisan Bung Karno..."

Pameran foto ini sekaligus ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan RI merupakan hasil perjuangan bersama, baik rakyat dan pemimpin. Dalam foto ditunjukkan bagaimana para pemimpin berusaha mendapatkan pengakuan kedaulatan lewat jalan diplomasi. Foto-foto ketika Perdana Menteri Syahrir ataupun Bung Hatta yang tengah meminta nasihat Presiden Soekarno adalah contohnya. Sementara, rakyat pun masih berjuang, angkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Bukan cuma kisah heroik, ditunjukkan pula bagaimana pembangunan pun tetap dilaksanakan saat itu. Misal seperti pada foto di Jawatan Kereta Api, dimana masyarakat tengah mengerjakan pembangunan rel. Atau ketika Tentara Nasional Indonesia yang rela ikut membantu rakyat di sawah dan proyek pembangunan lainnya.Diceritakan pula kiprah tokoh-tokoh seperti Sultan Hamengkubuwono IX yang banyak berperan di masa ini. Bagaimana Keraton Yogyakarta menjadi tempat para pemimpin bangsa mengungsi ketika Jakarta diduduki tentara Sekutu saat itu. Sri Sultan pula yang mewakili Indonesia dalam penandatanganan penyerahan kedaulatan RI dari Belanda yang diwakili oleh Lovink.

"...Cover Buku Dari Pegangsaan Sampai Rijswijk..."

Pada acara penyerahan kedaulatan di Istana Rijswijk atau Istana Merdeka inilah, diadakan pula upacara penurunan bendera merah-putih-biru, yang diganti menjadi bendera merah-putih. Kedekatan Bung Karno dengan Sri Sultan juga tampak ketika perayaan satu tahun kemerdekaan RI, dimana saat itu ia memilih berada di Yogyakarta. Sementara upacara perayaan di Jakarta dipimpin oleh perdana Menteri Sutan Syahrir yang sekaligus meresmikan tugu perayaan satu tahun kemerdekaan Indonesia, sumbangan dari gerakan wanita di Jakarta. Peran wanita pun ingin ditampilkan dalam pameran ini. Hal ini dapat dilihak dari sebuah foto besar dimana barisan tentara wanita tengah megang senjata dan spanduk yang bertuliskan, “…Kaum wanita pun tak takut angkat senjata…” Sebuah semangat luar biasa dari para wanita Indonesia saat itu.Pentingnya persatuan, lagi-lagi diingatkan Bung Karno lewat selebaran yang juga diabadikan di salah satu palet besi di pameran ini. Sebab, masa-masa perundingan menuju pengakuan kedaulatan di tahun 1945-1950 itu merupakan saat genting bagi bayi Indonesia. Persatuan mesti dijaga. ” Terima hasil perundingan baik Pro maupun contra. Jaga persatuan,” kira-kira demikian bunyi selebaran dengan latar belakang gambar Bung Karno itu. Dalam menjalani profesinya sebagai jurnalis foto, Mendur bersaudara juga seringkali mendapat kesempatan untuk memotret momen-momen pribadi para tokoh negara saat itu. Momen yang menyajikan saat-saat privat dari para tokoh negara.

"...Teks Museum Pers Indonesia..."

Sisi lain dari potret kesehariannya di panggung kenegaraan dan sosial politik. Semisal ketika Bung Karno tengah bersampan bersama putranya, Guntur saat pengasingan di Bangka. Ataupun ketika Bung Hatta tengah bersantai di Kaliurang, Yogyakarta, sambil memangku putrinya. Perayaan kemerdekaan di bulan Ramadhan, seperti halnya saat Proklamasi, umur Indonesia di angka ke-66, yang juga menjadi tahun kejatuhan Soekarno, serta gedung bersejarah, menurut Oscar menjadikan perayaan kemerdekaan tahun ini menjadi istimewa dan bisa menjadi renungan bagi semangat kebangsaan dan kebhinekkaan yang saat ini sepertinya semakin luntur. Ia berharap pameran ini dapat memberi inspirasi bagi siapapun untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik lewat penegakan hukum, kebijakan yang memihak publik, dalam artian untuk semua golongan, agar hak kemajemukan kita terlindungi. Sebagaimana ketika Republik ini pertama didirikan diatas keberagaman yang dipersatukan pada proklamasi 17 Agustus 1945.

Oleh : Eka Shantika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: