“…MENSINERGIKAN Aspek MANUSIA dan TEKNOLOGI dalam PENGELOLAAN Sumberdaya di INDONESIA…”


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SLIDESHOW PHOTO LIPUTAN EVENT Oleh Team Redaksi PENANTRA News

 

" Hasil olah data citra digital berupa Peta Rawan Bencana Indonesia "

“…Penggunaan teknologi satelit dan penginderaan jauh selama tiga dekade terakhir ini semakin populer karena kebutuhan akan proses analisis keruangan suatu wilayah yang dibutuhkan oleh banyak pihak. Data satelit menjadi alat yang efektif dalam pengelolaan sumberdaya alam, pemantaun perubahan iklim dan lingkungan, pendeteksian dini bencana, pemetaan tutupan lahan, dan beragam manfaat lainnya.Di Indonesia sendiri penggunaan teknologi ini telah berkembang pesat untuk lebih memahami dalam melakukan monitoring sumber daya alam yang dimiliki oleh bangsa ini. Salah satu contohnya adalah peranan penginderaan jauh (remote sensing) dalam inventarisasi data sumber daya alam Indonesia.Seperti kita ketahui Indonesia adalah negara tropis kepulauan, dimana keanekaragaman hayatinya merupakan ke-3 terbesar di dunia setelah Brazilia dan Republik Demokrasi Kongo. Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 dunia. Bila seluruh sumber daya alam dan manusia ini tidak terinventarisasi dengan baik,  potensi dan karunia besar dari Tuhan bagi Indonesia ini akan tersia-siakan.

"Perubahan tata guna lahan dari waktu ke waktu dapat dianalisis lebih mudah dengan bantuan sistem informasi geografis "

Informasi Geospasial akan memberikan hasil pembangunan yang lebih berkualitas karena setiap obyek yang menyangkut waktu dan keruangan menjadi aspek sangat penting dalam mendukung aktivitas perekonomian, peningkatan kualitas pengelolaan sumberdaya alam, dan perlindungan aktivitas perekonomian.Sistem Informasi Geografis dapat memantau antara lain perkembangan kondisi pesisir  atau hutan di Indonesia. Foto satelit dari tipe sensor seperti IKONOS dan Quickbird dengan tingkat ketelitian yang tinggi untuk memberikan gambaran permukaan bumi dapat digunakan untuk pengelolaan kawasan yang lebih sempit namun detil. Sedangkan untuk luas wilayah yang lebih besar seperti tata ruang kota, provinsi, dan lainnya yang memerlukan gambaran wilayah secara umum kita bisa menggunakan citra satelit Landsat, SPOT, ASTER ataupun ALOS-Palsar. Manajemen pengelolaan kawasan dapat menggunakan teknologi ini sehingga survey dan analisis di lapangan dapat dilakukan dengan tingkat efisiensi yang tinggi serta biaya lebih rendah.

" Partisipasi aktif masyarakat lokal dalam menata ruang publik semakin terbuka luas "

Didapatkan bahwa setiap pengembangan suatu wilayah, perlu mengenali potensi sumberdaya maupun daya dukung lingkungannya agar dapat dilakukan penyesuaian dalam desain tata ruang untuk memperkecil biaya dan mengurangi resiko terhadap dampak negatif pembangunan di kemudian hari. Terutama bagi masyarakat miskin pada wilayah pesisir, konversi lahan, hutan dan masyarakat kepulauan yang akan menjadi kelompok pertama yang menderita bila terjadi bencana alam, kekeringan, kelaparan, atau penurunan daya dukung lingkungan lainnya. Karenanya dengan menyiapkan Informasi geospasial yang akurat, dapat dipertanggungjawabkan dan mudah diakses oleh masyarakat akan sangat diperlukan untuk dasar perencanaan penataan ruang, penanggulangan bencana, pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia, alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian dan sumber daya lainnya. Sehingga tingkat resiko atau dampak negatif dari pembangunan atau bencana  bagi masyarakat dan lingkungan dapat diminimalisir.

Dr. Ernan Rustiadi, Kepala Pusat Pengkajian, Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB

Untuk mengimbangi perkembangan teknologi satelit dan penginderaan jauh, Indonesia juga memerlukan sumber daya manusia berkualitas di bidang tersebut. Karenanya, Pusat Pengkajian dan Perencanaan Pengembangan Wilayah (P4W) – IPB bekerjasama dengan LAPAN (Lembaga Penerbangan  dan Antariksa Nasional) dan BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) serta 11 institusi lainnya menggelar Seminar Internasional bertajuk “ Geospatial and Human Dimension of Sustainable Resources Management “ pada tanggal 12-13 September 2011 lalu. Para praktisi sadar, bahwa aspek teknis seperti pengindraan jauh dan sistem informasi geografis tidak akan bermanfaat bila tidak dipertemukan dengan dimensi manusia. Seperti yang diungkapkan Kepala P4W Dr. Ernan Rustiadi di sela-sela seminar, “ Idenya adalah mempertemukan aspek teknis dan non teknis, teknis adalah geospasial, sistem informasi, dan teknik-teknik tata ruang, sedangkan yang non teknis adalah aspek manusia, kelembagaan, dan masyarakat.”

" ..Penyampaian Makalah tentang penataan ruang.."

” Karena yang sulit dalam tata ruang bukanlah menata alamnya, melainkan mengatur manusianya. Ketika manusianya tidak tertata, maka alam akan rusak, karenanya aspek fisik, teknik, dan kelembagaan diterjemahkan dalam seminar internasional ini menjadi sesi geospasial, tata ruang, dan the commons “. Seminar Internasional “ Geospatial and Human Dimensions of Sustainable Resource Management ”  diharapkan menjadi salah satu wadah yang mampu mensinergiskan pengembangan dimensi ilmu pengetahuan dan teknologi geospasial, serta meningkatkan peran serta aktif dari kelembagaan masyarakat untuk menjamin kelestarian alam sekaligus keadilan dan payung hukum bagi masyarakat. Hasil dari perhelatan Internasional ini akan disarikan menjadi beberapa buah buku untuk dipublikasikan.

Dwi Pravita G.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: