“…WORLD MUSIC Festival BAMBU V 2011…”


Bukan hanya angklung yang diusung di Festival Bambu V ini, tapi ada juga karinding dan kreasi alat musik bambu lainnya

“…Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bekerjasama dengan Republic Entertainment dan Maharani Esa Sejati kembali menggelar Bambu Nusantara V. Bambu Nusantara V merupakan perhelatan rutin tahunan yang mengangkat genre world music, yaitu genre musik yang mengangkatmusik tradisional sebagai instrumennya. Tahun ini, perhelatan musik tradisional ini digelar pada 1-2 Oktober 2011 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung.Berbeda dari tahun sebelumnya, meski masih menyediakan tiga panggung, tapi kali ini panggung utama Festival Bambu V berbayar. Tiket dijual Rp50.000,00 untuk satu hari dan Rp75.000,00. Ini dilakukan untuk menangkap segmen baru, yaitu penonton yang memang berminat menikmati musik bambu berkelas dunia. Sehingga tak heran, sejumlah nama besar juga turut hadir memeriahkan Festival Bambu V, sebut saja Sawung Jabo, Dwiki Darmawan, Samba Sunda, Ary Juliant, Balawan, dan Europe In De Troppen. Ada pula kolaborasi unik dari Australia, Cile, dan bersama Wallaki dari Indonesia. Bahkan, musisi world music asal Jepang juga tampil mengusung musik tradisional asli Indonesia, mereka adalah Melodi Manis, Sora Awi, dan Anggrek.”World music itu adalah genre, seperti halnya pop, rock, jazz, yang (mana istilah ini) tidak bisa diartikan dalam bahasa Indonesia,” terang Iman Noer Adi, Direktur Pelaksana Festival Bambu Nusantara V.

"...Iman Noer Adi, Direktur Program Bambu Festival V..." Saat Menjelaskan Acara World Music pd Redaksi PENANTRA

Dalam helaran ini, world music yang disajikan akan terbagi menjadi indigenous dan kontemporer. World music indigenous akan menampilkan musik-musik tradisi dalam bentuk aslinya. Sementara, melodi world music kontemporer akan bercampur dengan sentuhan alat musik modern. “Artinya world musik ini berbahan dasar musik tradisi, artinya setelah dikolaborasikan menjadi musik yang baru yang tidak kalah dengan jazz yang impor itu, dengan rock yang impor itu. Musik tradisi kita jika dikemas dengan baik sangat marketable, ada ceruk pasar yang masih memungkinkan untuk digali, ada potensi yang masih bisa digali.” Festival World Music V kali ini juga diharapkan bisa menjadi titik balik regenerasi jenis musik tradisi, dari para seniornya yang sudah sukses di taraf internasional. Sehingga, pengisi acaranya pun mengundang kelompok musik tradisional dari sekolah dan kampus. Semisal, kelompok angklung dari berbagai SMP dan SMA di Bandung. Mahasiswa dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Desain Produk Institut Teknologi Nasional (Itenas), dn Bengkel Kostum Sekolah tinggi Seni Indonesia (STSI), yang urun rembug menampilkan kreasi seni dari bambu. Baik berupa kreasi pakaian dari daun bambu ataupun modifikasi alat musik dari bambu. Diharapkan dengan banyaknya anak muda yang mengisi acara ini, dapat menarik perhatian kalangan muda lainnya terhadap musik tradisional.

"...Karinding..." Alat Musik Tiup dari Bambu Khas Sunda

Perhelatan yang mengusung Bambu sebagai instrumen utamanya ini, menurut Iman, tidak hanya mengandalkan angklung. Tahun ini mereka bereksplorasi dengan karinding, sebuah instrumen musik tua ala Sunda yang juga terbuat dari bambu. Iman menargetkan pengunjung acara ini sekitar 7000 pengunjung tahun lalu, sementara tahun kemarin pengujungnya mencapai 5000 orang. menurutnya, masyarakat masih belum banyak yang tahu world music, mash menilai ini hanya musik tradisi. Padahal di dunia industri musik sudah dibentuk menjadi sebuah industri sendiri. “…Setiap kota di dunia punya festival world musicnya sendiri. Australia dengan Wamed, Singapur ada dengan Wamex. Itu semua memadukan musik tradisi dengan musik dunia,” terang Iman. World Music Indonesia, jika dibandingkan dengan world music dunia, “Kualitas kita hebat, kayak Sambasunda, kalau mereka mengadakan tur ke Eropa, selalu penuh, tandas Iman. “Indonesia kaya dengan musik tradisi, hanya kita saja yang belum terbuka matanya. Padahal kalau dikemas dengan baik, kalau kita tahu cara mengeksplornya dan memasarkannya akan sangat dahsyat…”

Oleh : Albert Dody.R

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: