Diskusi PELANGI “..Warna-Warni Gerakan Pemuda di Era Kontemporer..”


"..Pemberian penghargaan bagi para Pembicara.."

Komunitas SABANTARA Universitas Indonesia menggelar diskusi bertajuk PELANGI dengan tema “Indonesia Pasca SUMPAH PEMUDA : Warna-Warni Gerakan Pemuda dalam Era Kontemporer” bertepatan dengan momentum 83 tahun Sumpah Pemuda, yaitu tanggal 28 Oktober 2011. Melalui diskusi kali ini, SABANTARA berupaya memberikan gambaran kepada peserta diskusi tentang berbagai macam hal yang dapat dilakukan para pemuda pada era milenium ini dalam berkontribusi dan berbagi untuk negeri. Sebagai pembicara dihadirkan A. Wildan Masyhari sebagai Ketua Komunitas Sabantara, Hafiza Elfira dari Nalacity Foundation, Maria Melani dari Indonesia Menyala, Yasinta Dewi,S.Hum dari Komunitas Salam Beta, dan Peneliti LIPI Sandi Nur I R,S.Sos.
Peran mahasiswa sebagai agen perubahan berkembang sesuai permasalahan kebangsaan yang terjadi pada zamannya. Beberapa momentum penting dalam sejarah bangsa melibatkan GERAKAN MAHASISWA di dalamnya, mulai Kebangkitan Nasional 1908 hingga Reformasi 1998. Hal yang penting bagi mahasiswa pasca-reformasi kini adalah bagaimana bergerak sebagai aktivis sesuai dengan jiwa zaman di era milenium. Indonesia dalam masa demokrasi kini tidak lagi berada di bawah tekanan penguasa, namun berbagai masalah terkait Kemiskinan, Pendidikan, Kesehatan, dan aneka persoalan/bencana lingkungan menjadi hambatan, ancaman, dan tantangan bangsa yang layak dijadikan target gerakan mahasiswa.

"...Para Pembicara Tengah Berbagi Pengalaman dlm Acara..."

Para pembicara berbagi pengalaman mereka dalam menggalang komunitas dan melakukan gerakan kepedulian sosial dengan warna masing-masing, gerakan sosial pemuda ini tak sedikit pula mendorong perubahan yang positif dan menghasilkan prestasi yang membanggakan. Pada intinya gerakan-gerakan pemuda yang ada mengarah pada satu tujuan yakni menuju Indonesia yang lebih baik. Tema warna warni gerakan pemuda dalam era kontemporer cukup merepresentasikan kondisi gerakan pemuda saat ini,yang dapat diisi dengan berbagai cara, ada yang bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat marginal, pengembangan kawasan perbatasan,atau membantu kawasan bencana.
Di bidang pendidikan antara lain yang dilakukan oleh gerakan Indonesia Menyala, Komunitas Sabantara, dan Salam Beta untuk menyalurkan buku ke pelosok-pelosok hingga daerah perbatasan atau membentuk perpustakaan/rumah baca di daerah-daerah dengan akses minim. Sementara Nalacity Foundation berusaha memandirikan masyarakat Sitanala-Tangerang,yang merupakan komplek rumah mantan penderita penyakit kusta dan keluarganya, dengan mengembangkan keterampilan memproduksi jilbab. Gerakan yang dilakukan para aktivis muda ini memberikan suatu Orientasi bahwa gerakan mahasiswa kini lebih condong pada aktivitas terjun ke masyarakat, terutama kaum marjinal, dan berpartisipasi melakukan perubahan tatanan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.
“…Panggilan sebagai mahasiswa tentunya kita berpatokan pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, kita berusaha dalam kapasitas kita untuk dapat melakukan sesuatu untuk negeri.

"..Foto Bersama.." Peserta dan Panitia Diskusi PELANGI

Bila hambatan itu ibarat kegelapan, maka daripada kita menuntut kegelapan alangkah baiknya bila kita menyalakan pelita. Meskipun pelitanya itu kecil, tetapi pelita dalam kegelapan sekecil apapun tetap ada cahaya yang bisa kita lihat”, ucap Wildan, Ketua Komunitas Sabantara, dalam sesi tanya jawab. Sandi Nur, menyampaikan pandangannya sebagai peneliti di bidang sosial-politik, ” Gerakan sosial ini akan dapat menjadi modal yang membawa Indonesia ke peradaban baru. Terkait dengan peran pemuda, mungkin satu hal bahwa saya sangat pesimis terhadap kondisi pemuda sekarang, pemuda sekarang lebih suka melakukan kritik dibanding dia melakukan sesuatu yang positif, sesuatu yang aktif. Tanamkan dalam diri bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang hebat, dimulai dari diri kita, Mulailah dari hal kecil, dan Lakukan SEKARANG…”. Sepatutnya kita Meneladani semangat Bapak proklamator kita Presiden Soekarno dengan kutipannya, “1000 orangtua hanya dapat berharap namun 1 anak muda saja dapat mengubah dunia..!”, Seperti pula yang dapat diteladani dari John F.Kennedy “Jangan tanyakan apa yang negara dapat berikan kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang dapat kau berikan pada negara”, maka diskusi ini ditutup dengan kesimpulan bahwa pemuda harus menunjukkan sumbangsihnya pada negara, “Untuk itu kita sumbangkan apa yang bisa kita sumbangkan dan berikan apapun warnanya senyata mungkin,” tutup moderator acara.

Oleh : Dwi Pravita G.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: