“…KRAYON : RASAWARNA…” Perkusi Penuh Rasa dan Warna dari PAYON PERCUSSION


"..Tata Panggung.." pada halaman terbuka di tengah Payon Restoran, Kemang Raya, Jakarta

Payon Percussion, sukses menggelar pertunjukkan KRAYON : RASAWARNA pada hari Minggu, 23 Oktober 2011 bertempat di Payon Restoran, Jl. Kemang Raya No.17, Jakarta.
Memasuki usianya yang ke-6, Payon telah menunjukkan kematangannya bermusik sekaligus menjalin kekerabatan dengan sesama musisi khususnya dalam musik perkusi. Pertunjukkan KRAYON : RASAWARNA menghadirkan 11 aransemen musik kedaerahan yang dicampurkan dengan elemen kontemporer hasil olah cipta Payon Percussion. Di dalamnya terdapat pula asimilasi dari beberapa unsur musik daerah dan budaya. Payon Percussion adalah grup yang terdiri dari 7 orang anak muda dari beberapa komunitas yang bergabung mengeksplorasi musik etnik tradisional sebagai respon terhadap kesadaran generasi muda yang semakin berkurang terhadap warisan budaya. Mereka adalah Muiz, Sabar, Nizar, Mumu, Pele, Dedi, dan Bulus. Instrumen yang mereka mainkan antara lain djembe, african drums, dunnun, tong drum, bonang, kendang sunda, suling, gamelan jawa, calung, rindik, karinding, didgeridoo, timbales, bongo, caxixi, dan maracas.

"..Dinamis dan Bersemangat.." warna yang dibawakan oleh komposisi-komposisi musik perkusi Payon

KRAYON : RASAWARNA yang merupakan catatan pengalaman dan hasil karya Payon Percussion selama 6 tahun berisi kisah-kisah, kejadian, emosi, sahabat-sahabat, serta perjalanan yang selalu memberikan warna dan nuansa pada proses kreatif berkarya dan berkesenian.Pertunjukkan ini juga merupakan persembahan kepada musisi-musisi hebat yang memberikan rasa dan warna dalam sejarah perjalanan grup Payon Percussion seperti Alm.INNISISRI [Kahanan, Kantata Taqwa, Sirkus Baroque], KANG ZINNER [Samba Sunda], DARMAN [Djembe Merdeka], MICHAEL HOLGATE [Jamaica], MARK DOODSWORTH, PETER SCHAUPP & ZENZELE NGWENYA[Manding Kan, South Africa]. Komposisi pertama yang diciptakan Payon berjudul Tabula Rasa dibawakan sebagai pembuka didukung oleh dua orang penari berkain putih yang menandakan awal lahirnya payon percussion ibarat kanvas yang masih putih, bersih, siap diberi garis, bentuk, dan warna. Dari komposisi-komposisi yang dibawakan seperti Wolosodon, Dudukdulu, Sinanggar, Wayang Gendeng, Iboya, Nyawa Utan, Kasoreang dan Genjring yang dinamis, penuh WARNA, kejutan, dan didukung pula oleh pemain-pemain pendukung yang tampil prima seperti Sanggar Roda, Darman Merdeka, Dalang Bhismo Kunokini, Zinner Kendang, para penari dan vokalis serta pendukung lainnya.

"..Anak-anak Sanggar Roda.." salah satu pendukung Acara RASAWARNA

Payon percussion membuktikan kepada para penikmat musik perkusi akan kebolehannya memainkan suatu paduan berbagai jenis pukulan, bunyi, nyanyian, bahkan teriakan dari berbagai hal, tempat, atau daerah yang ‘diramu’ menjadi suatu komposisi hasil eksplorasi di ranah musik etnik khususnya musik perkusi. Alhasil, pertunjukkan mereka yang dibawakan sepenuh hati ini mampu membuat para penonton merasa ‘enjoy’ dan terpengaruh pancaran semangat dari musik yang dibawakan, seperti yang diakui oleh salah seorang penonton, Bapak Jeffry dari Bintaro, “Musik perkusi dapat membuat orang terpengaruh dan bersemangat, karena ia sangat dinamis, membuat orang ingin bergoyang, dan memang mendengar musik-musik tradisional ini lain rasanya dari mendengar musik-musik modern “. Setiap akhir sesi musik yang dibawakan dalam pertunjukan Rasawarna ini pun ditutup dengan teriakan dan gemuruh tepuk tangan para penonton.

Oleh : Dwi Pravita

2 Tanggapan

  1. bagus

    • trims ya atas apresiasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: