“..Tonil Musikal KADAL NGUNTAL NEGORO..” pertunjukan teater Indonesia Kita


"...Jalannya Pentas Tonil Kadal Nguntal Negoro..."

“…Indonesia Kita kembali menggelar pertunjukkan teaternya yang keenam sekaligus pertunjukan terakhir di tahun 2011 ini. Pertunjukan Tonil Musikal kali ini mengambil judul Kadal Nguntal Negoro (Korup Siji Korup Kabeh). Pementasan ini merupakan puncak dari lima pementasan sebelumnya. Dalam pementasan ini, yang ingin dismpaikan adalah gagasan: Indonesia sebagai rumah kita bersama, yang bersih, dan bebas dari perilaku korup. “…Ketika korupsi makin menggurita dan nyaris melumpuhkan semua sendi bangsa, lakon ini kami harapkan bisa menjadi semacam refleksi bersama. Betapa telah begitu mencemaskan soal korupsi,” ujar Butet dalam rilisnya. Lima pementasan sebelumnya, membawa pesan soal misi budaya (Laskar Dagelan), semangat perdamaian (Beta Maluku), keberpihakan pada rakyat (Kartolo Mbalelo), pergaulan kebudayaan yang toleran (Mak Jogi), dan kepedulian kepada lingkungan (Kutukan Kudungga). Apresiasi terhadap pertunjukkan ini sungguh hebat, sampai-sampai disediakan pertunjukkan ekstra. Hal ini  terjadi pula pada pementasan Indonesia Kita sebelumnya, Kartolo Mbalelo dan Laskar Dagelan seperti dituturkan Djaduk Feriyanto, yang kali ini berperan sebagai tim kreatif dan penata musik.

"...Jalannya Pentas Tonil Kadal Nguntal Negoro..."

Ide-ide ini kemudian dituangkan dalam lakon satir yang diramu dengan apik oleh Agus Noor selaku sutradara dan penulis cerita. Menurutnya, ketika ditemui redaksi PENANTRA, lewat tonil ini ia ingin memotret ironi dari perilaku koruptor ini. Maka diciptakanlah tokoh koruptor nyeleneh. Nyeleneh karena ia tak berada di jalur “Kode Etik Korupsi” yang pantang mengakui perbuatannya hingga titik darah penghabisan. Tokoh Susilo yang ada dalam tonil ini malah membanggakan prestasi korupsinya, yang tentu saja ditentang rekan seprofesi lainnya. Ia bahkan melapor sendiri ke kepolisian agar ditangkap karena prestasi korupsinya itu. Keinginan ini pun ditolak oleh polisi. Singkat cerita, berhasillah Susilo masuk penjara mewah yang dilengkapi dengan segala fasilitas. Disiapkan pula sebuah sidang rekayasa. Susilo pun berperkara juga dengan istri dan wanita idaman lainnya. Di akhir pertunjukkan, Susilo dari balik jeruji besinya berujar, “Saya koruptor tapi saya juga muak. Mudah-mudahan di satu saat nanti para koruptor akan menyatakan dengan penuh kejujurannya. Akan bangkit dan menyatakan kesalahannya, kemudian membangun tanah ini. Wahai para koruptor, bersatulah…bangkit…Lanjutkan kejujuran saya.”

"...Jalannya Pentas Kadal Nguntal Negoro..."

Sepanjang pertunjukan tonil ini, kita akan ditemani oleh musik keroncong jenaka dari Orkes Sinten Remen pimpinan Djaduk Ferianto. Hadir pula komedian senior Indro “Warkop” yang semakin menghangatkan suasana persidangan lewat lakonnya sebagai pengacara. Bagi Indro, ketika ditemui redaksi PENANTRA News di akhir pertunjukkan, keterlibatannya di pertunjukan ini merupakan sebuah “jalan pulang” ke dunia yang sudah lama tak digelutinya. “Sudah lama nggak saya lakukan, tiba-tiba sekarang harus saya lakukan lagi…kalau panggung dulu sama Warkop sama seperti ini. Kalau kepekaan mengangkat isu-isu sosial ke dalam komedi saya nggak berubah…Keuntungan terbesar saya disini ya, otak saya jadi terpakai kembali,” ujarnya sambil tergelak. Menyoal tema yang diangkat tonil ini, Indro juga menyatakan, “jangan sampai dosa besar koruptor ini jadi dosa bangsa…dengan kita ikut mengekscuse mereka, nggak bisa, kita harus lawan itu. Karena ini untuk kehidupan anak cucu kita…Prinsip terbesarnya adalah ketidak acuhan bangsa ini terhadap nasionalisme, karena kita nggak pernah dididik nasionalisme.”

Lewat lakon-lakon yang dihadirkan, tonil ini memang menyintir semua peristiwa yang biasa terjadi di Negara “Afrika Selatan”. Meski negeri yang diceritakan ini merupakan cerminn dari negeri Afrika Selatan. Tapi, seperti dikatakan Butet Kertarjasa selaku produser di awal pertunjukkan,meski demikian, kita jangan kapok menjadi Indonesia. Sehingga, kita senantiasa memperbaiki diri agar kebanggaan terhadap bangsa ini menjadi kian terpahat di sanubari.

Oleh : Eka Santhika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: