” TRADITIONAL MISS SAIGON..” Persembahan 15 Tahun MAHAGENTA Bagi MUSIK Tradisional Indonesia



"...Jalannya Pentas Pertujukan Mahagenta Miss Saigon..."

Mahagenta kembali mempertunjukkan gelaran musik tradisional atau dikenal sebagai world music untuk merayakan 15 tahun mahagenta berdiri. Konser yang bertajuk Miss “traditional” Saigon ini mengangkat lakon naskah musikal internasional, Miss Saigon. Sebagaimana halnya world music, bumbu alunan musik dari alat-alat musik tradisional tentu tak ketinggalan. Memadukkan alat-alat tradisional seperti Talempong (Sumbar), Kendang Sunda (Jabar, Sitar (India), Guzheng (Cina) yang punya tangga nada berbeda dari alat musik tradisional tentu sebuah tantangan tersendiri bagi Mahagenta. Namun, Mahagenta berhasil memadukannya dalam balutan musik dan nyanyian apik di gedung Graha Bhakti Budaya, 12 November lalu. Miss Saigon sendiri merupakan karya musikal karya Claude-Michel Schonberg dan Alain Boublil dan Richard Maltby, Jr. Kisah Miss Saigon sendiri menceritakan tentang kisah tragis dari roman yang melibatkan seorang wanita Asia yang ditinggalkan kekasih Amerika-nya. Kisah ini mengambil setting di tahun 1970-an di Saigon, tempat terjadinya Perang Vietnam. Terdapat duabelas lagu yang diaransemen ulang dalam balutan musik tradisional di pertunjukan ini, antara lain Sun and Moon, I’d Give My Life for You, Why God, I Still Believe, Too Much for One Heart, Her Or Me, dan Heat is On Saigon.

"...Uyung Pimpinan Mahagenta ketika di Wawancara Redaksi Penantra..."

Pertunjukan ini merupakan pertunjukan tahunan keempat yang dilakukan Mahagenta bagi pecinta world music Indonesia. Pada tahun sebelumnya, The Phantom of The “Traditional” Opera serta Les “traditional” Miserable sukses dipentaskan pula oleh Mahagenta. Bahkan untuk Phantom of The Opera, Mahagenta berlatih gila-gilaan selama dua tahun untuk menyajikan persembahan terbaik mereka, seperti diungkap salah satu anggota Mahagenta di akhir pertunjukan. Meski respon terhadap world music di tanah air memang belum bagus, namun Mahagenta terus bertahan dan nyatanya berhasil menoreh sukses di negara-negara Eropa seperti Norwegia, seperti diungkap Uyung, pimpinan Mahagenta. KecintaanUyung dan kawan-kawan Mahagenta terhadap alat musik tradisionalan yang membuat mereka terus eksis dengan pertunjukan perkusi tradisionalnya yang dimulai pada 1996. “Semua ini kami lakukan untuk sebuah idealis. Inilah yang membuat kita bertahan kenapa harus main gender, kenapa harus main rebab… meskipun yang menonton tak banyak,” tambah pria itu lagi. Padahal, menurut Uyung kepada PENANTRA NEWS, “World musik kita di mata dunia sangat dikenal,” ceritanya. “Perangkat gamelan yang lengkap sudah diperkenalkan di beberapa negara bagian di sekolah-sekolah Amerika Serikat. Karena, mereka kan punya American Gamelan Institute. Padahal mahal sekali harga gamelan itu.” Sungguh kenyataan yang ironis memang.

"...Jalannya Pentas Mahagenta Miss Saigon..."

Sementara di negeri sendiri, Uyung berkomentar, “(World Music) Saya pikir belum begitu populer, karena genre musik ini bagaimanapun harus berdampingan dengan industri. Sementara industri kita belum mengarah kesana karena tergantung masih terkait rating, daya jual, dan sebagainya… Kita bertahan 15 tahun ini dengan harapan suatu saat nanti peluang bisnis atau industrinya akan terbuka,” jelas Uyung. Selama 15 tahun berdiri, Mahagenta berhasil unjuk gigi sebab dipercaya membuat scoring utuk musik layar lebar di Norwegia dan Australia. Bahkan album-album mereka lebih dikenal di negara-negara barat ketimbang negeri sendiri. Pertunjukan apik malam itu, mendapat respon luar biasa dari penonton. Dita, salah seorang penonton yang hadir mengungkapkan, “Melihat pertunjukan malam ini saya sangat menikmati. Paduan musik tradisional dan modernnya terasa pas,” ujarnya. Semoga perjuangan Uyung dan Mahagenta bisa menarik hati anak bangsa seperti Dita dan kawan-kawan. Selain mengangkat musik tradisional kita sendiri di mata dunia.

Oleh : Eka Shantika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: