“…HOUSE Of SAMPOERNA…” Mengintip KISAH di Balik TEMBAKAU


Bagian muka dari museum House of Sampoerna

Sekelumit kisah perjalanan di balik bagaimana sebatang rokok dibuat, bisa Anda saksikan di House of Sampoerna (HOS). HOS ini merupakan salah satu lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi di Surabaya. Museum ini merupakan lokasi pabrik pertama dari serangkaian rokok keluaran Sampoerna. Meski bernama museum, namun tempat ini jauh dari kata menjemukan karena semua titik apik terawat dan ditata dengan menarik. Ingin penjelaan lebih detil? Ada pemandu yang siap menjelaskan kepada Anda soal koleksi di museum itu dengan senang hati. Museum adalah satu dari empat bangunan yang ada di HOS. Bangunan pertama yang terbesar, terletak di tengah merupakan pabrik rokok. Bangunan ini terdiri dari ruang bagian depan dan belakang. Dulu, di tahun 30-an, ruang depan ini dipergunakan sebagai tempat pertunjukan. Namun, sekarang dialihfungsikan jadi museum. Sementara bagian belakang, tetap menjadi pabrik rokok. Museum ini menampilkan koleksi proses pembuatan rokok ala Sampoerna, selain bercerita bagaimana sejarah dari PT Sampoerna.

Berbagai jeis cengkeh dari beberapa daerah di Indonesia yang biasa digunakan sebagai campuran rokok

Sedikit banyak, berbagai koleksi yang ditampilkan memberi gambaran kepada kita mengenai kekayaan alam nusantara, terutama bahan baku pembuatan rokok. Semisal cengkeh, Cengkeh yang digunakan pabrik Sampoerna ini dibawa dari berbagai daerah dengan ciri khasnya masing-masing. baik dari Jawa, Menado, Bali, Zanzibar, dan Madagaskar. Dari semua jenis itu, yang terbaik untuk bahan baku rokok adalah yang datang dari jawa, karena memiliki ketajaman bau yang paling tinggi. Cengkeh kemudian di jemur di bawah sinar matahari untuk menjaga bau dan kualitasnya. Selanjutnya adalah pemrosesan daun tembakau. Daun tembakau yang digunakan pun diangkut dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Cina, Brasil, Yunani, Turki, Tamanan, Bondowoso, Surabaya, dan Garut adalah jenis-jenis tembakau yang ditampilkan disini. Tembakau yang sudah dipetik harus dikeringkan. Ada dua cara pengeringan, dijemur atau dioven. Dijemur adalah proses pengeringan tembakau yang umum dilakukan di Jawa. Sementara di Lombok, mereka menggunakan mesin oven dari batu bata yang diisi dengan bambu-bambu panjang, untuk menggantung tembakau. Layaknya anggur di Eropa, tembakau ini semakin lama disimpan akan semakin mengeluarkan aroma dan rasa yang makin nikmat. Namun biasanya untuk produksi, tembakau yang disimpan 2-3 tahun sudah cukup untuk menjadi bahan baku rokok. Setelah disimpan, tembakau ini mesti dicacah. Penyacahan dilakukan dengan pisau secara manual ataupun menggunakan mesin cacah. Besar kecilnya potong serta warna daun tembakau kering ini pun berbeda di tiap daerah. Begitu pula cara pengemasannya dalam bal, sehingga kita bisa mengenali asal daerah kiriman tembakau lewat cara mengemasnya.

Tembakau yang sudah dikeringkan, disimpan, dan dicacah ini kemudian dikemas dalam bal tikar sebelum dijual ke berbagai pelosok negeri

Bal dengan anyaman tikar yang besar berasal dari Madura, bal tembakau dari Gunung Sumbing, Jawa Tengah berbentuk bulat terbuat anyaman bambu tali dan pelepah pisang kering, bal dari Ploso, Jawa Timur juga dibungkus dengan tikar, namun anyamannya lebih kecil. Setelah semua bahan tersedia, ternyata untuk menciptakan cita rasa rokok berkualitas, diperlukan serangkaian percobaan terlebih dulu. Distilasi, ekstraksi, dan bermacam perlakuan dijelajah demi mendapat resep saus pilihan untuk rokok. Setelah ramuan dirasa pas, komposisinya dicatat dan menjadi resep rahasia. Proses selanjutnya adalah pengepakan. Kertas pembungkus rokok, bahan sampul rokok disediakan dan dicetak sesuai keinginan. Naik ke lantai atas, terdapat toko souvenir serta pemandangan ke arah pabrik. Selain itu terdapat ruang kaca dimana sekitar enam pekerja wanita tengah asyik melinting rokok sambil saling ngobrol diiringi alunan musik dari radio kesukaan. Dibagian belakang gedung, malah terlihat lebih banyak lagi pekerja wanita yang tengah melinting rokok. Jumlahnya mencapai ribuan orang. Sehingga, memang tak dapat dipungkiri jika banyak keluarga dari masyarakat ekonomi lemah yang beroleh rejeki dari pabrik-pabrik rokok seperti ini.

Oleh : Eka Shantika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: