“…Kesultanan NGAYOGYAKARTA HADININGRAT..” Sejarah dan Kiprah D.I Yogyakarta Bagi Bangsa Indonesia


 

"...GBPH.H.Prabukusumo SPSi Adik Sri Sultan Hamengkubuwono X..."

“…Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat meskipun telah berusia 255 tahun sejak berdirinya, yang sekaligus merupakan penerus Trah Kesultanan Mataram di Tanah Jawa. Sampai kini tetaplah tidak kehilangan kharisma keagungan, keluhuran dan kewibawaannya. Kraton Yogyakarta di bangun pada tahun 1756 M atau tahun Jawa 1682 Saka oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati yang bergelar Hamengkubuwono I. Beberapa bulan setelah perjanjian Giyanti yang dilaksanakan pada tanggal 13 Pebruari 1755. Sebelum menempati Kraton Yogyakarta yang ada saat ini, Sri Sultan Hamengkubuwono I atau bergelar : “..Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah..” Beliau tinggal di Ambar Ketawang Gamping, Sleman, 5 kilometer sebelah barat Keraton Yogyakarta, ungkap Bapak Nurhidayat, salah seorang petugas pemandu Keraton Yogyakarta kepada PENANTRA News Online. Hal tersebut tergambar dalam relief di dinding tembok salah satu sisi Keraton Yogyakarta di sisi bangunan Siti Hinggil. Secara fisik Keraton Yogyakarta memiliki 7 kompleks inti yaitu Siti Hinggil Lor (Balairung Utara), Kamandhungan Lor (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan) dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan).

"...Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Bung Karno..."

Kompleks Siti Hinggil secara tradisi digunakan untuk menyelenggarakan upacara resmi Kerajaan. Di Siti Hinggil ini terdapat dua bangsal Pacikeran yang digunakan oleh abdi dalem Mertolulut dan Singonegoro sampai sekitar tahun 1926. Bangunan Tarub Agung terletak tepat di ujung atas jenjang utara. Bangsal manguntur Tangkil terletak di tengah-tengah Siti Hinggil di bawah atau di dalam sebuah aula besar terbuka yang disebut Treteg Sitinggil. Bangunan ini adalah tempat Sultan duduk di singgasananya pada saat acara-acara resmi Kerajaan. Seperti pelantikan Sultan dan Pisowanan Agung. Gusti Bendoro Pangeran Haryo. H. Prabukusumo, SPSi. Yang merupakan adik dari Sultan Hamengkubuwono X kepada PENANTRA News Online mengungkapkan bahwa : “..di Bangsal SITI HINGGIL ini pada tanggal 17 Desember 1949, Ir.SOEKARNO di Lantik menjadi PRESIDEN Republik Indonesia Serikat ( RIS ). Dan pada tahun 1950 KESULTANAN Yogyakarta resmi menjadi wilayah PERTAMA RI. Hal tersebut tidak lepas dari Keluhuran dan Ketulusan hati SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX yang sebagai seorang RAJA JAWA mau merelakan dirinya untuk mendukung berdirinya Republik Indonesia. Menjadikan wilayah Kerajaannya menjadi bagian dari Negara Republik Indonesia yang baru lahir dan baru saja memproklamasikan Kemerdekaannya.

"...Bangsal Manguntur Tangkil Tempat Singasana Sri Sultan Yogyakarta..."

. Pada waktu itu ketika Ir.Soekarno baru saja memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, pihak Belanda pun mempertanyakan kepada Ir.Soekarno, apabila Indonesia memang sudah MERDEKA sebagai suatu NEGARA, lalu manakah WILAYAH Indonesia itu…? Soekarno kemudian menghubungi Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan menyampaikan pertanyaan pihak Belanda tersebut. Sri Sultan Hamengkubuwono IX pun lalu mengatakan pada Ir.Soekarno untuk tidak perlu khawatir mengenai hal itu, Beliau ( Sri Sultan Hamengkubuwono IX ) pun kemudian menghubungi Sri Pakualaman di Kraton Surakarta. Dan malam itu juga Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan pada Ir. Soekarno bahwa : “…Wilayah Kerajaan NGAYOGYAKARTA dan SURAKARTA menyatakan bersedia menjadi wilayah PERTAMA dari Republik Indonesia. Demikianlah asal mula dari Ayah saya mendukung Negara Republik Indonesia ini dan mendukung Ir.Soekarno menjadi Presiden RI. Yang secara otomatis sebagai RAJA JAWA maka Ayah saya dengan kebesaran hatinya yang luar biasa mau berada di bawah suatu kekuasaan Negara Republik Indonesia yang baru berdiri, ungkap GBPH. H. Prabukusumo,SPSi lebih lanjut. Hal tersebut pula yang kemudian menjadi bahan pertimbangan dan keputusan dari Presiden Soekarno atas Status KEISTIMEWAAN Yogyakarta.

"...Ruang Pusaka Keraton, Kagungan Dalem..."

Secara resmi Sri Sultan bertempat tinggal resmi di Gedhong Jene, yaitu bangunan yang didominasi warna kuning pada pintu dan tiangnya dipergunakan sampai Sultan HB IX. Hal yang tidak kalah penting dari bagian Keraton Yogyakarta adalah Pusaka Kraton yang disebut dengan Kagungan Dalem. Yang dianggap memiliki kekuatan magis. Kekuatan dan kekeramatan dari Pusaka memiliki hubungan dengan asal usulnya, keadaan masa lalu dari pemilik sebelumnya atau dari perannya dalam kejadian bersejarah. Pusaka merupakan sebuah aspek budaya Keraton Yogyakarta. Keraton memiliki peraturan mengenai hak resmi atas orang yang akan mewarisi benda pusaka. Pusaka memiliki kedudukan yang kuat dan orang luar selain diatas tidak dapat dengan mudah mewarisinya. Keberadaannya sebanding dengan Keraton itu sendiri. Beberapa pusaka menempati kedudukan tertinggi dan dipercaya memiliki kekuatan paling magis, seperti Kanjeng Kyai Ageng (KKA) Pleret. Tombak ini menjadi pusaka terkeramat di Kraton Yogyakarta dan mendapat kehormatan setara dengan kekeramatan Sultan sendiri. Dan masih banyak lagi pusaka-pusaka lain yang menjadi bagian dari kekuatan dan keluhuran Keraton Yogyakarta.

Oleh : Santi Widianti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: