“…Candi SUKUH Warisan MAJAPAHIT Yang UNIK di LERENG Gunung LAWU…”



Candi utama di kompleks Candi Sukuh yang berupa trapesium, menyerupai bangunan suku Maya

“…Candi Sukuh, candi ini terletak di lereng barat gunung Lawu. Berada di pungung gunung yang menjadi perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini, kompleks candi ini menyuguhkan pemandangan candi yang unik. Sebab, bentuk candi ini berbeda dengan candi-candi di masa sebelumnya. Bentuknya mirip dengan bangunan milik suku bangsa Indian Maya di benua Amerika, yaitu berupa trapesium terpotong. Sementara gerbang utama mirip pintu masuk piramida di Mesir, seperti dijelaskan Sarjono, petugas di candi ini. Candi Sukuh merupakan candi peninggalan Hindu JAWA. Meski demikian, candi ini dibuat tidak mutlak atas pengaruh Hindu. Melainkan, masih memasukkan unsur kepercayaan asli bangsa Indonesia sebelum Hindu masuk. Hal ini terlihat dari bentuk candi yang berupa punden berundak. Bentuk yang demikian, dijelaskan Sarjono merujuk pada bangunan asli nenek moyang kita. Tempat tertinggi di puncak punden merupakan tempat tersuci. Secara keseluruhan, kompleks Candi Sukuh ini juga terbagi dalam tiga pelataran yang semakin meninggi. Bentuk punden berundak ini semakin jelas terlihat pada bangunan utama yang terletak di belakang kompleks candi. Masih menurut Sarjono, Candi ini dibuat pada masa mulai runtuhnya kerajaan Mahapahit. Diduga dibuat oleh bangsawan Majapahit yang melarikan diri akibat situasi keraton yang sedang kacau akibat Perang Paregreg.

Sarjono, petugas Candi Sukuh ketika memberi penjelasan kepada PENANTRA News

Angka tahun pembuatan candi ini tertera di relief bagian gerbang candi yang bernama Gapuro Bhuto Abara Wong. Nama sengkalan tersebut merujuk angka tahun saka 1359 atau 1437M. Sementara angka tahun di pelataran ketiga, yaitu di tempat pandai besi, terdapat angka tahun Gajah Wiku Anahut Buntut yang menunjukkan angka tahun saka 1378. Ini diperkirakan menjadi tahun selesainya pengerjaan candi ini. “ Tidak semua tahun bisa dijadikan sengkalan…(Karena) sengkalan (adalah) suatu rangkaian antara simbol angka tahun dan makna dari relief itu dan makna bangunan itu sendiri. Tahun yang tidak bisa disengkalan, digunakan angka tahun Jawa. Seperti yang di ada di Arca Garuda ” papar Sarjono. Meskipun candi ini terletak di lereng barat gunung Lawu yang masuk dalam wilayah Jawa Tengah, tapi candi ini dibangun sesuai ciri khas bangunan candi di Jawa Timur. Ini terlihat dari pola bangunan candi yang menempatkan tempat paling sakral di bagian belakang. Berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah yang menempatkan tempat paling sakral di bagian tengah. Secara keseluruhan, menurut Sarjono, candi ini menggambarkan perjalanan kehidupan. “ Bagi orang Jawa ada falsafah hidup, Sangkan Paraning Dumadi, yaitu mengenai asal mula kejadian manusia. Relief-relief di candi Sukuh ini menggambarkan soal itu, soal perjalanan hidup.

Relief Sudamala yang menggambarkan ruwatan Dewi Durga

Didalamnya ada relief lingga yoni sebagai lambang kesuburan, kemudian di lantai tiga ada relief rahim ibu sebagai wujud dari sangkan paraning dumadi tadi,” terangnya. Ia melanjutkan, bahwa manusia dilahirkan hanya dengan dua sifat, baik dan buruk, subha karma dan asubha karma. Dua karakter ini tidak akan sama kadarnya dalam diri manusia. Dalam perjalanan hidup, jiwa kita ditarik oleh dua kekuatan ini. Tergantung kita lebih condong kemana. Jika, Subha Karma dominan, kita bisa kembali ke asal, nirwana. Jika Asubha Karma yang lebih dominan maka jiwa kita pun belum bersih sehingga tidak bisa kembali ke asal. Untuk membersihkan jiwa agar bisa kembali ke asal kita diciptakan,bagi orang Jawa salah satu caranya adalah dengan melakukan upacara RUWATAN. “ Upacara RUWATAN ini dilakukan untuk membersihkan jiwa kita dari asubha karma tadi agar kita bisa kembali ke tempat semula ketika kita diciptakan, ” tandas Sarjono. Dilihat dari relief-relief yang ada di tempat ini, kebanyakan berkisah mengenai upacara ruwatan tersebut. Salah satu relief utama, menceritakan mengenai upacara ruwatan Dewi Durga yang dikutuk menjadi seorang raksesi. Kisah ini terangkum dalam cerita Sudamala. Mengamati relief-relief tersebut, maka disimpulkan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat Upacara RUWATAN. Cerita Sudamala ini kemudian dipentaskan dalam bentuk tarian Kundung Kala Durga. Tarian ini biasanya dibawakan lengkap dengan gending tradisional di candi ini tiap Gerebeg Lawu di bulan Suro. Sayangnya, gelar acara budaya tersebut saat ini tidak lagi di selenggarakan di situs candi tersebut. Kundung Kala Durga sendiri berarti, menghalau sengkala yang ada di dalam diri Hyang Dewi Bhatari Durga.

Oleh : Eka Santhika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: