“…Surat CINTA Buat Sang PRADA Mendapatkan SOUTH To SOUTH Film Festival AWARD…”



"...Gleen Fredly Bersama Mama Letha, Pejuang Perempuan yang Menginspirasi dari Kabupaten Mollo NTT..."

“…Jakarta (26/02/2012) [stosfest.org]- Film Surat Cinta Buat Sang Prada akhirnya terpilih sebagai film kompetisi dokumenter terbaik dan berhak mendapatkan South to South (StoS) Film Festival Award, pada malam penganugerahan danpenutupan South to South (StoS) film Festival IV, 2012, Minggu (26/2) lalu di Goethe Haus, Jakarta. Dewan Juri film kompetisi dokumenter yang terdiri dari Arief Ash Shiddiq, Darwin Nugraha dan Nanang Sujana menyatakan bahwa Film Surat Cinta Buat Sang Prada ini layak menjadi film kompetisi dokumenter terbaik karena film tersebut berfokus pada permasalahan yang disampaikan, dipaparkan secara sederhana namun mampu membawa layer-layer persoalan dibalik peristiwa yang ada dalam film ini. “ Surat Cinta Buat Sang Prada ” merupakan buah karya Wenda Maria Imakulatas Tokomonowir, yang menceritakan kisah nyata – dalam sebuah surat video dari seorang perempuan Papua Maria ‘Eti’ Goreti untuk seorang Prajurit Indonesia, Samsul Bacharudin, yang pernah bertugas di kampungnya, Bupul. Bupul terletak di perbatasan Indonesia- Papua Nugini. Mereka memiliki relasi yang berbuah seorang anak perempuan. Samsul menelantarkan Eti ketika ia mengandung. Setelah lahir, Eti pun berjuang seorang diri untuk menghidupi ‘si anak kolong’ dibawah diskriminasi dan caci maki warga. Kendati menjadi kontroversial di kampungnya, Eti tetap berharap agar Sang Prajurit bisa kembali kepadanya untuk menemui putri mereka: “Aku akan terus menunggu untuk Anda, Samsul.

".. Glen Mengamati Komik Perjuangan Masyarakat Mollo yang diekshibisi di Goethe Haus.."

Saya tidak peduli apa yang orang katakan…” Demikian salah satu cuplikan film tersebut. Dewan juri juga memberikan penghargaan Special Mention untuk film Dokumenter pendek yang berjudul Sop Buntut, karya Sutradara Deden Ramadani. Film ini dianggap dewan juri dekat dengan subyek, menguasai permasalahan dengan riset yang matang. Persoalan yang diangkat juga merupakan persoalan mendasar tentang masa depan bangsa namun disajikan dengan ringan. Sementara Film Dokumenter TV Terbaik diberikan kepada Film “Demi Goresan Kapur”, produksi DAAI TV, karya Ari Trismana. Film ini dianggap telah memilih subyeknya dengan tepat dalam memotret Semangat Tanpa Batas. Tidak “mengeksploitasi” kemiskinan sebagai “barang dagangan.” Film ini jelas mengkritik pemerintah, namun juga tidak menggebu-gebu tapi sangat menohok. Sementara itu, untuk kompetisi film fiksi, Dewan Juri yang terdiri dari Adrian Jonathan Pasaribu, Perdana Kartawiyuda dan Catharina Dwihastarini menyatakan tidak ada yang terpilih di festival IV kali ini. Menurut dewan juri karya-karya yang telah diterima belum ada yang terasa unggul dibandingkan dengan lainnya. Namun para juri telah menetapkan karya film fiksi sebagai Special Mention yaitu Jakarta 2012 dan Kalung Sepatu. Film “Rumah Multatuli” karya Sapto Agus Irawan, produksi DAAI TV terpilih menjadi Film Dokumenter Favorit pengunjung South to South Film Festival. Sedangkan Film Favorit Pilihan Penonton Fiksi dipilih juri adalah Layar Kacau.

"...Suguhan Musikal menutup Festival Film South to South IV di Goethe Haus..."

Malam penutupan StoS Film Festival ini juga memilih lima karya Esai terbaik dalam Kompetisi Esai “Semangat Tanpa Batas”. Lima karya esai terbaik ini disaring oleh Dewan Juri yang terdiri dari Mujtaba Hamdi (MediaLink), Imam Shofwan (Yayasan Pantau) dan Siti Maimunah (StoS Film Festival), dari 72 karya esai yang masuk, kemudian dinilai dan dipilih 30 nominator untuk dinilai lebih lanjut. Penilaian pemenang meliputi unsur orisinalitas, topik, subtansi, gaya tulisan dan pertimbangan pilihan pembaca. Sepanjang 8 – 18 Februari 2012 terdapat 1160 pembaca yang telah memberikan pilihannya. Lima karya esai terbaik tersebut adalah : Antara Pemuda, Pangan, dan Perubahan, karya Detha Arya Tifada; Sekantung Ubi yang Mencipta Energi, karya Azmy Basyarahil; Berani Melaju Kencang, karya Fredy Wansyah; Perempuan-Perempuan Tanpa Batas, karya Ganar Adhitya; dan Kampung Bathik Banyumas: Gerakan Glokalisasi Kolektif, karya Siti Nur Azizah. Lomba foto “Semangat Tanpa Batas” yang diikuti oleh 16 foto yang diunggah ke fan page, terjaring 3 nominator yang mendapatkan “like” terbanyak. Foto karya Nuzulul Dina terpilih sebagai foto favorit pengunjung fan page. Ferdinand Ismael, Direktur Festival menyatakan bahwa Semangat Tanpa Batas tidak akan berhenti sampai di sini, karena mereka akan membawa film-film festival ini ke kampung-kampung, pelosok, sekolah dan kampus. “Kami ingin film-film ini menjadi filmnya rakyat. Mencerdaskan dan memberikan inspirasi untuk tumbuhnya gerakan-gerakan solidaritas yang lebih luas lagi. Di sinilah inti jiwanya dari South to South Film Festival,” jelas Ferdinand. Penutupan South to South Film Festival juga dihadiri sejumlah aktivis, para film maker independen dan juga penampilan musisi Glenn Fredly.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: