“…ARCA JOKO DOLOG…” SIMBOL Kebesaran Prabu KERTANEGARA di Pusat Kota SURABAYA


"...Arca Budha Joko Dolog Surabaya Ja - Tim..."

“…PENANTRA – Berkunjung ke Surabaya, kita bukan saja disuguhkan oleh modernitas kota ini. Anda pun bisa menikmati peninggalan masa lampau yang dengan mengunjungi Taman Apsari yang tepat ada di belakang patung Gubernur Suryo, seberang kantor gubernuran Surabaya. Peninggalan ini merupakan sebuah Arca yang lebih dikenal sebagai Arca Joko Dolog. Arca Budha Mahasobya adalah nama lain dari arca perwujudan Raja Kertanegara ini. Di balik kesederhanaan yang melingkupi situs arca Joko Dolog ini, ternyata kisah dibaliknya menyimpan sejarah mengenai kebesaran dan wibawa nusantara kita yang terwujud dari sosok Raja Kertanegara, raja dari Kerajaan Singosari Jawa Timur.
Selain arca utama di belakang kompleks, di jalan masuk menuju Arca Joko Dolog terdapat juga arca-arca yang lebih kecil, serta sebuah tempayan air sebagai tempat menaruh air suci di sebelah kiri gapura situs ini. Menurut keterangan Bupati Surabaya, Regent, arca Joko Dolog ini memang awalnya tidak berada di Taman Apsari ini, melainkan berasal dari kandang gajah. Pada tahun 1827 Residen de Salls dari pemerintah Hindia Belanda memindahkan patung tersebut ke Surabaya dan ditempatkan di Taman Apsari. Ada juga yang menyebutkan bahwa arca yang dibuat pada 1211 Saka atau 1289 M ini awalnya bukan berasal dari Kandang Gajah, melainkan berasal dari Candi Jawi, Malang. Pemindahan ke Kandang Gajah konon dilakukan oleh salah seorang raja Majapahit. Di sekeliling alas duduk Arca Joko Dolog, terdapat tulisan berbahasa Sansekerta yang dikenal sebagai prasasti Wurare. Disebut demikian karena tulisan yang berupa sajak dan memakai huruf Jawa kuno itu menyebutkan sebuah tempat yang bernama Wurare. Wurare atau Lemah Tulis, merupakan rumah Mpu Bharadah.

"...Pintu Gerbang Masuk Arca Budha Joko Dolog Surabaya Ja - Tim..."

Lokasi ini tepatnya berada di desa Kedungwulan, dekat kota Nganjuk, Jawa Timur. Angka prasasti yang ditulis oleh abdi kerajaan, Nada, menunjukkan angka tahun 1211 Saka.Prasasti yang berbentuk sajak sebanyak 19 bait ini isi pokoknya yaitu mengenai pembagian Jawa menjadi Jenggala dan Panjalu oleh Arrya Bharad (Mpu Bharadah) akibat perebutan kekuasaan diantara putra mahkota. Pada masa pemerintahan Raja Jayacriwisnuwardhana dan permaisurinya, Crijayawarddhani, kedua daerah itu disatukan kembali. Pentahbisan raja (yang memerintahkan membuat prasasti) sebagai Jina dengan gelar Cri Jnanjaciwabajra. Perwujudan sebagai Jina Mahasobya didirikan di Wurare pada 1211 Saka. Raja dalam waktu singkat berhasil kembali menyatukan daerah yang telah pecah, sehingga kehidupan menjadi sejahtera. Dari keterangan tersebut, arca ini terkait dengan proses sejarah Jawa Timur jaman dulu. Arca yang dibuat untuk menghormati Raja Singosari, putra Raja Wisnu Wardhana ini, dilakukan karena beliau dianggap sebagai orang yang bijaksana dan berpengetahuan sangat baik di bidang hukum. Ia pun bercita-cita ingin mempersatukan kerajaan – kerajaan yang ada di Nusantara. Selain itu, disebutkan juga bahwa Kertanegara adalah raja yang pandai dalam dharma dan sastra. Ia pun seorang raja pengikut Budha Tantra yang taat, serta sebagai pendeta dari keempat pulau. Ia kemudian dikukuhkan sebagai Jina Mahasobya dengan gelar Crijnanaciwabajra.

"...Arca Budha Joko Dolog Surabaya Ja - Tim..."

Gelar ini menunjukkan penghormatan yang luar biasa kepada beliau. Sebab, Mahasobya adalah dewa Aksobhya tertinggi. Sebutan Kertanegara sebagai Mahasobhya berarti ia mempunyai sifat yang ada dalam diri Dewa Aksobhya dan emanasinya, yaitu mempunyai sifat damai, berkuasa, dan kekuasaannya yang tiada tandingannya. Ini diwujudkan lewat bentuk arca yang dibuat dengan raut muka teduh dan tangan membentuk sikap bhumisparsamudra atau telapak tangan kiri tertutup dan seolah ingin menyentuh bumi. Sedangan gelarnya sebagai Cri Jnannaciwabajra berarti ia adalah orang yang mempunyai pengalaman seperti Dewa Siwa, serta dapat memusnahkan kejahatan untuk kesejahteraan umat manusia. Pengukuhan gelar ini juga mempunyai latar belakang politis. Hal ini dilatari oleh pertikaian Raja Kertanegara dengan Raja Mongol / Tiongkok Kubilai Khan, akibat menghina utusan Kubilai Khan di tahun 1211 Caka/1289 M. Yang mana maksud kedatangan dari para utusan Kerajaan Monggol ( Kubilai Khan ) tersebut adalah : untuk menyampaikan pesan Kaisar mereka yaitu Kubilai Khan , agar raja Jawa Singhasari mau menyerahkan upeti / pajak setiap tahunnya ke kerajaan Monggol / Tiongkok sebagai tanda takluk. Hal ini tentu saja di tolak mentah – mentah oleh sang Prabu Kertanegara. Raja Mongol ( Kubilai Khan ) tersebut yang saat itu tengah berusaha memperluas wilayah kekuasaannya di Asia ( 1258 – 1294 Masehi ), dengan melakukan invasi penaklukan ke berbagai wilayah kerajaan – kerajaan di Asia seperti : Jepang, Korea, Vietnam Utara, Tibet, Kamboja, Thailand, Myanmar dll, kemudian mengkukuhkan dirinya sebagai Jina Mahamitha yang artinya adalah : Jina penguasa angina barat. Sementara Sang Prabu Kertanegara dengan gelar Jina Mahasobhya, ingin sejajar dengan raja Mongol. Sebab, Mahasobhya adalah dewa penguasa angina timur. Dengan demikian Kertanegara dikukuhkan sebagai penguasa wilayah timur untuk mengimbangi penguasa barat. ini menunjukkan Kewibawaan Raja / Prabu KERTANEGARA yang tak ingin negerinya di injak-injak dan di JAJAH oleh penguasa Mongol / Tiongkok yang terkenal bengis itu. Dalam Pararaton dan berbagai Prasasti, setelah wafat Raja Kertanegara dinamakan Siwabuddha, sementara dalam Nagarakertagama dikatakan Siwabuddhaloka.

Oleh :Eka Santhika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: