“…Memandang MUSIK Indonesia dalam ETNHOMUSICOLOGI…”


“…Nyak Ubiet Raseuki Pembicara Forum Diskusi bersama Ethnomusicologists Indonesia…”

“…PENANTRA – Jakarta, Apa yang membuat musik Indonesia begitu kaya dan apakah budaya lokal mempengaruhi musik secara universal ? Tema di atas menjadi kajian pokok dalam diskusi bersama Ethnomusicologists Indonesia, Nyak Ubiet Raseuki dan Ethnomusicologists Amerika, Prof. Andrew Weintraub, yang diselenggarakan di @america Jakarta, pada Selasa 20 Maret 2012.

Dihadiri oleh para Mahasiswa Mahasiswi dari Universitas Nasional Jakarta (UNJ) dan Intstitut Kesenian Jakarta (IKJ). Prof. Andrew Weintraub adalah profesor musik dari Pitsburgh Amerika.

Keahliannya dalam musik adalah Musik Sunda khususnya Wayang Golek.Sudah banyak buku-buku yang diterbitkan oleh Prof. Andrew Weintraub, yang salah satunya adalah buku tentang Wayang Golek. Musicologi dalam kaitannya sebagai Ethnomusicologi berdiri diantara dunia kajian dan penciptaan.

Mungkin karena keduanya ada tarik menarik sehingga di Indonesia banyak peneliti yang juga berlaku sebagai pemusik dan pencipta musik, papar Nyak Ubiet Raseuki. Ethnomusicologi study dalam konteks kebudayaan kita keberadaannya belum terlalu lama.

Di dunia pendidikan yang pertama menerapkan ethnomusicologi adalah USU(Universitas Sumatra Utara) pada tahun 1949. Kemudian barulah pada tahun 1988 di ISSI Solo juga diterapkan, Menyusul Perguruan Tinggi lainnya seperti IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan ISSI Yogyakarta.

"...Ethnomusicologists Amerika, Prof. Andrew Weintraub..."

Apakah penelitian di Indonesia lebih bersifat Ethnomusicologis, Musicologis, Ekologis atau Historis ? Daerah penelitian di Indonesia pada umumnya masih lebih didominasi di daerah Jawa dan Sumatra.

Untuk wilayah Timur masih kurang di sentuh. Program-program Pasca Sarjana S2 dan S3 yang melingkupi Seni Pertunjukan juga ditawarkan di Perguruan-Perguruan tinggi seperti UGM (Universitas Gajah Mada) dan UI (Universitas Indonesia) di bawah Fakultas Budaya.

Untuk di UGM sisi Musicologinya masih kurang, hanya sisi Pertunjukannya saja. Sementara di USU (Universitas Sumatra Utara) topik-topik yang ditelaah meliputi baik musik tradisional maupun populer dari sistem musik yang berhubungan dengan politik, agama, gender, media, dan sebagainya. Sementara Prof. Andrew Weintraub dalam presentasinya menyatakan istilah Ethnomusicologi baru ada pada tahun 1940 an. Di Indonesia sangat penting untuk menciptakan jurusan Ethnomusicologi.

Dulu ada seorang Belanda yang bekerja di Indonesia sebagai administrator dan di bidang pendidikan pada masa penjajahan. Saat itu Musicologi pendekatannya adalah melalui sejarah. Sementara peneliti musik barat pendekatannya bukan melalui Cultural dan Politikal. Baru setelah ada Ethnomusicologi, baru ada penelitian musik di luar negara barat. Pendekatannya melalui Antropologi Cultural. Juga apa hubungan antara musik dengan keadaan sosial dan budaya.

"...Nyak Ubiet Raseuki dalam Forum Diskusi bersama Ethnomusicologists Indonesia..."

Pada waktu itu fokusnya hanya musik tradisional yang asli (Pure) bukan yang dicampur dengan musik populer dari luar. Setelah 60 tahun barulah kita tertarik pada musik Populer. Di Indonesia seorang Ethnomusicologists adalah sebagai peneliti dan pencipta musik.

Mereka membawa lagu yang tradisional dalam karangan lagu mereka. Sehingga musik tradisional menjadi inspirasi untuk mereka. Sementara kalau di Amerika sangat jarang hal tersebut dilakukan. Tapi di Afrika ada juga seorang yang menggabungkan antara musik barat dan musik Afrika. Dia main musik Afrika dengan menggunakan Piano.

Juga di Timur Tengah pun ada yang melakukan itu. Mereka sangat kreatif. Ketertarikan saya pada musik tradisional Sunda berawal pada saat saya dahulu ingin menjadi Performer Gitar Klasik. Tapi pada suatu hari saya bertemu dengan seorang Guru dari Indonesia yaitu Endang Sumarna yang sedang memainkan Gamelan Sunda di sini (Amerika).

Saya langsung sangat tertarik dan mulai mempelajarinya, ujar Prof. Andrew Weintraub lebih lanjut. Yang ironis keadaan di Indonesia saat ini adalah masyarakatnya terutama generasi muda justru sudah tidak lagi perduli apalagi mempelajari kebudayaannya sendiri.

Ada satu pengalaman saya, dimana ada seorang mahasiswa Indonesia di sini yang mendapat tugas mengajar Gamelan. Tentu saja dia tidak bisa melakukannya karena tidak menguasainya. Kemudian dia justru belajar pada saya dahulu. Barulah dia mengajarkan Gamelan pada yang lain.

Inilah kekurangan masyarakat Indonesia yang kurang mengenal budayanya sendiri. Padahal Budaya Indonesia begitu kaya. Pada saat seorang di tanya apa yang terlintas di pikiran anda tentang Kalimantan. Maka yang terlintas hanya lagu Ampar-Ampar Pisang. Bagaimana dengan Sulawesi ? maka yang terlintas hanya Angin Mamiri.

Mereka tidak mengenal budaya yang lain dari kedua wilayah itu. Karena itu saya berusaha untuk agar paling tidak melakukan sesuatu untuk mengenalkan budaya atau musik tradisional lainnya, papar Nyak Ubiet Raseuki menutup sesi Diskusi malam itu.

( Oleh : A Dody R.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: